Opini

Ekoteologi sebagai Jalan Pulang: Refleksi Krisis Bencana dan Etika Pariwisata di Indonesia

Aeni Nahdiyati mengajak publik membaca krisis bencana bukan sekadar fenomena alam, melainkan cermin retaknya relasi manusia dengan lingkungan, dan melalui gagasan ekoteologi ia menegaskan bahwa menjaga bumi adalah panggilan spiritual sekaligus tanggung jawab etis yang harus dihidupkan dalam praktik nyata, termasuk dalam sektor pariwisata. Aeni Nahdiyati mengajak publik membaca krisis bencana bukan sekadar fenomena alam, melainkan cermin retaknya relasi manusia dengan lingkungan, dan melalui gagasan ekoteologi ia menegaskan bahwa menjaga bumi adalah panggilan spiritual sekaligus tanggung jawab etis yang harus dihidupkan dalam praktik nyata, termasuk dalam sektor pariwisata.

Oleh: Aeni Nahdiyati*

Beberapa bulan terakhir Indonesia kembali dihadapkan pada rangkaian bencana lingkungan yang terjadi secara beruntun di berbagai wilayah, di mana banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga abrasi pantai menjadi berita rutin yang terus mengisi ruang publik dan data kebencanaan nasional mencatat ratusan kejadian dalam satu bulan dengan banjir sebagai jenis bencana paling dominan, menyebabkan ratusan ribu warga terdampak, ribuan rumah rusak, serta puluhan korban jiwa, sehingga krisis ekologis tidak lagi menjadi ancaman masa depan melainkan realitas hari ini.

Sering kali bencana tersebut dijelaskan semata-mata sebagai akibat faktor alamiah seperti curah hujan tinggi, fenomena iklim global, atau kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana, namun penjelasan ini menjadi tidak utuh ketika mengabaikan campur tangan manusia berupa kerusakan hutan di wilayah hulu, alih fungsi lahan yang masif, eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, serta tata ruang yang mengabaikan daya dukung lingkungan yang pada akhirnya memperbesar risiko bencana dan melipatgandakan dampaknya.

Krisis Ekologi sebagai Cermin Krisis Spiritual

Bencana lingkungan sejatinya tidak hanya mencerminkan kegagalan teknis dalam pengelolaan alam tetapi juga menunjukkan krisis nilai dan spiritualitas manusia ketika alam diperlakukan semata sebagai objek ekonomi dan ruang eksploitasi, bukan sebagai amanah Tuhan yang harus dijaga, sehingga cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak mendorong pembangunan yang abai terhadap keseimbangan ekosistem dan memutus relasi manusia dengan Tuhan serta alam, padahal dalam perspektif Islam manusia diciptakan sebagai khalifah yang diberi mandat untuk mengelola dan menjaga bumi sesuai petunjuk Ilahi (QS. Al-Baqarah [2]: 30; QS. Hud [11]: 61).  


Gambar 1. Infografis Kejadian Bencana Desember 2025.
Gambar 1. Infografis Kejadian Bencana Desember 2025.

Fakta kebencanaan menunjukkan bahwa kondisi lingkungan Indonesia berada pada titik mengkhawatirkan karena berdasarkan Buletin Informasi Bencana BNPB Vol. 6 No. 12 Desember 2025 tercatat 235 kejadian bencana dalam satu bulan dengan 99,59% merupakan bencana hidrometeorologi dan hanya 0,41% bencana geologi, sehingga data ini menegaskan bahwa krisis lingkungan sangat erat berkaitan dengan dinamika iklim, cuaca ekstrem, dan degradasi ekosistem.

Bencana hidrometeorologi basah mendominasi Desember 2025 dengan 154 kejadian banjir atau sekitar 62,86% dari total bencana, diikuti 73 kejadian cuaca ekstrem, 15 tanah longsor, serta dua gelombang pasang dan abrasi pantai, yang semuanya menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan semakin melemah dalam menghadapi tekanan alam yang semakin intens.

Tren jangka panjang sejak 2020 hingga 2025 memperlihatkan pola yang sama di mana bencana hidrometeorologi mencapai 92% dari total kejadian dan prakiraan BMKG untuk Januari–Februari 2026 menunjukkan potensi tinggi bencana serupa sehingga masyarakat dan pemerintah diimbau meningkatkan kesiapsiagaan, namun data tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa bencana tidak hanya soal cuaca melainkan juga tentang cara manusia memperlakukan alam yang daya dukungnya telah terlampaui.

Ekoteologi: Lebih dari Sekadar Jargon

Istilah ekoteologi belakangan ini semakin sering digaungkan sebagai program prioritas Kementerian Agama RI melalui kebijakan integrasi nilai agama dan pelestarian lingkungan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama No. 244/2025, tetapi sayangnya konsep ini kerap berhenti pada slogan normatif tanpa implementasi maksimal di lapangan sehingga belum menghasilkan perubahan nyata.

Ekoteologi seharusnya dipahami sebagai paradigma teologis yang menempatkan relasi Tuhan, manusia, dan alam dalam satu kesatuan sakral karena alam merupakan bagian dari ayat-ayat kebesaran Tuhan yang hidup dalam tatanan kosmik dan bertasbih kepada-Nya, sehingga merusak alam bukan sekadar pelanggaran ekologis tetapi juga pelanggaran moral dan spiritual.

Menghidupkan Kesadaran Ekologis Berbasis Nilai

Menghadapi krisis lingkungan yang kompleks tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis seperti pembangunan tanggul, normalisasi sungai, atau pengetatan regulasi karena tanpa perubahan cara pandang manusia terhadap alam semua upaya tersebut hanya bersifat sementara.

Ekoteologi menemukan relevansinya sebagai sarana transformasi nilai yang menempatkan alam sebagai bagian sakral dari kehidupan sehingga manusia terdorong untuk bersikap hormat, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan secara berkelanjutan serta menyadari perannya sebagai khalifah yang kelak mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Tuhan.

Dari Wacana ke Aksi Nyata

Kampanye ekoteologi tidak cukup melalui ceramah dan dokumen kebijakan tetapi harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari seperti pola konsumsi ramah lingkungan, pelestarian hutan, serta penolakan terhadap eksploitasi alam, termasuk dalam sektor pariwisata yang sering menjadi penyumbang degradasi lingkungan akibat aktivitas massal yang tidak berkelanjutan.

Integrasi ekoteologi ke dalam narasi pemandu wisata menjadi penting karena pemandu tidak hanya menyampaikan informasi destinasi tetapi juga membentuk cara pandang wisatawan terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan yang sakral sehingga pengalaman wisata menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi spiritual.

Institusi pendidikan, tokoh agama, pelaku pariwisata, dan pembuat kebijakan memiliki peran strategis menjadikan ekoteologi sebagai landasan etis pembangunan sehingga penyelamatan lingkungan tidak dipandang sebagai beban melainkan sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab moral bersama.

Penutup: Ekoteologi sebagai Jalan Pulang

Krisis bencana yang terus berulang merupakan panggilan untuk merenungi kembali posisi manusia di hadapan Tuhan dan alam karena ekoteologi menawarkan jalan pulang melalui rekonstruksi relasi spiritual manusia dengan lingkungan, sehingga jika benar-benar dihidupi dan diimplementasikan ia bukan hanya jawaban konseptual atas krisis ekologis tetapi juga harapan nyata bagi masa depan Indonesia yang lebih lestari.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Vokasi Program Studi Destinasi Pariwisata