Mahasiswa
Unhas Story

Gabriela Lambert, Mahasiswa Hukum Unhas yang Menautkan Prestasi, Literasi, dan Bisnis Digital

Gabriela 'Ela' Lambert, Mahasiswa Berprestasi Fak Hukum Unhas 2026 dalam program Unhas Story. (Dok Unhas TV)

UNHAS.TV - Gabriela Lambert tidak menempatkan prestasi sebagai deretan sertifikat yang selesai dipajang. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin itu memilih ukuran lain, yakni perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.

Prinsip tersebut membawanya menjadi mahasiswa berprestasi di tingkat fakultas, meraih predikat honorable mention bidang pemberdayaan masyarakat di tingkat universitas, menulis buku anak dwibahasa, menggerakkan program literasi, serta membangun karier sebagai kreator konten.

Dalam wawancara di program Unhas Story, Ela --sapaan Gabriela Lambert mengatakan mahasiswa berprestasi tidak cukup dinilai dari jumlah piala, sertifikat, atau dokumentasi kompetisi.

Menurut dia, prestasi memperoleh makna ketika pengetahuan dan kesempatan yang dimiliki mahasiswa melahirkan sistem yang berguna bagi orang lain. “Berprestasi sebenarnya itu ketika kita berhasil mengubah sesuatu dalam masyarakat,” kata Gabriela.

Pandangan itu ia terapkan melalui Sistem Kolaborasi Literasi Muda Indonesia atau SOLMI. Program pemberdayaan tersebut dirancang untuk meningkatkan minat literasi pelajar sekolah menengah atas di Makassar.

Pada tahap awal, Gabriela dan tim bekerja sama dengan empat SMA, tiga komunitas literasi, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, serta Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan.

Gabriela tidak ingin program itu berhenti pada seminar atau pelatihan. Ia menyusun rangkaian kegiatan mulai dari pembekalan, peninjauan karya, pameran, sampai penerbitan.

Para peserta kemudian menghasilkan antologi berisi puisi dan cerita pendek tentang budaya Makassar. Bagi Gabriela, karya yang terbit menjadi bukti bahwa kegiatan pemberdayaan memiliki hasil yang terukur dan dapat dilanjutkan.

Program tersebut ikut mengantarkannya memperoleh predikat honorable mention bidang pemberdayaan masyarakat dalam pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat universitas.

Sebelumnya, ia terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Hukum Unhas. Pencapaian itu justru lahir dari persiapan yang lebih singkat dibanding kompetisi lain yang pernah diikutinya.

Gabriela juga menolak anggapan bahwa rekam jejaknya selalu dibangun dari kemenangan. Dalam berbagai kompetisi, jumlah kekalahan dan status sebagai peserta lebih banyak daripada gelar juara.

Ia pernah mengikuti pemilihan Duta Bahasa tanpa meraih posisi pertama. Namun kegiatan itu tetap dianggap bernilai karena memberinya kesempatan menjalankan program pemberdayaan dan bertemu peserta dengan kemampuan berbeda.

Bagi dia, kegagalan dalam kompetisi tidak membatalkan status seseorang sebagai individu berprestasi. Ukuran yang lebih penting ialah kemampuan mengolah pengalaman menjadi perbaikan dan kontribusi.

Ia menilai seorang peserta dapat pulang tanpa piala, tetapi tetap membawa metode kerja, jejaring, dan keberanian baru. Bekal tersebut dapat digunakan untuk menciptakan program yang manfaatnya lebih panjang daripada seremoni penghargaan.

Cara pandang itu pula yang membuat Gabriela tidak ingin berhenti setelah menerima dua pengakuan akademik. Ia menyebut meraih gelar lebih mudah daripada mempertahankan kualitas perilaku setelah gelar diperoleh.

Sorotan publik menuntutnya lebih berhati-hati dalam bertindak, menyampaikan pendapat, dan memilih kegiatan yang membawa nama almamater.

Cerita tentang pemilihan mahasiswa berprestasi, Gabriela baru mengetahui pendaftaran sekitar tiga hari sebelum ditutup. Selama ini ia terbiasa menyiapkan kompetisi selama enam bulan hingga satu tahun.

Keterlambatan memperoleh informasi membuatnya sempat ragu. Kakaknya, yang pernah menjadi mahasiswa berprestasi di Universitas Negeri Makassar (UNM), mendorongnya tetap mendaftar.

Dalam waktu terbatas, Gabriela mendapat bantuan untuk menyusun dokumen, merumuskan gagasan kreatif, dan berlatih menghadapi wawancara. Ia menyelesaikan seluruh persyaratan sehari sebelum tenggat.

Pengalaman itu membuatnya melihat prestasi sebagai hasil kerja bersama, bukan semata-mata capaian individu.

Menurut Gabriela, gelar mahasiswa berprestasi membawa tanggung jawab yang lebih berat daripada proses meraihnya. Ia merasa harus menjaga nama baik fakultas dan universitas karena mahasiswa berprestasi menjadi salah satu representasi kualitas mahasiswa Unhas.

Karena itu, ia berusaha mempertahankan konsistensi, memberi contoh yang baik, dan memastikan setiap aktivitasnya mempunyai dampak positif.

Satu-satunya Pilih Non-Teknik

>> Baca Selanjutnya