
Gabriela 'Ela' Lambert, Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum Unhas 2026 dalam program Unhas Story. (Dok Unhas TV)
Di luar kegiatan akademik dan literasi, Gabriela membangun karier sebagai kreator konten bersama kakaknya, Alin, mahasiswa Universitas Negeri Makassar.
Keduanya memulai sekitar sepuluh bulan sebelum wawancara dilakukan. Konten awal menampilkan dinamika dua saudara yang kuliah di kampus dan jurusan berbeda. Alin berasal dari bidang teknik, sedangkan Gabriela belajar hukum.
Video pertama mereka mendapat perhatian luas. Respons tersebut mendorong keduanya meningkatkan produksi hingga lima video sehari.
Sejumlah unggahan masuk halaman rekomendasi dan memperluas jangkauan akun. Tidak lama kemudian, merek kosmetik, produk rias, pakaian, dan sejumlah toko menawarkan kerja sama promosi.
Gabriela mengatakan penghasilan dari media sosial mengubah kondisi ekonominya. Ia dapat berpindah dari tempat kos ke hunian yang lebih baik, membeli kendaraan, dan mengurangi ketergantungan kepada orang tua.
Pengalaman itu, menurut dia, menunjukkan pekerjaan di media sosial dapat berkembang menjadi sumber pendapatan apabila dikelola dengan serius.
Namun perhatian publik di dunia digital bergerak cepat. Seorang kreator dapat viral dalam beberapa hari, lalu dilupakan.
Gabriela menyiasatinya dengan terus mencari cerita baru dan membaca respons audiens. Ia tidak berlama-lama kecewa ketika video yang dibuat dengan banyak usaha gagal memperoleh jangkauan tinggi. Data performa konten digunakan untuk menentukan format berikutnya.
Untuk kreator pemula, Gabriela menyarankan penggunaan materi ringan sebagai pintu masuk. Ia dan Alin memulai dengan komedi karena tawa lebih mudah menarik perhatian penonton.
Setelah audiens terbentuk, keduanya perlahan memperkenalkan identitas, pengalaman kampus, serta kegiatan masing-masing. Strategi itu mengubah citra mereka dari sekadar “saudara Unhas dan UNM” menjadi figur yang dikenal sebagai Ela dan Alin.
Konsistensi produksi menjadi tantangan tersendiri. Gabriela harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, kompetisi, pekerjaan promosi, kunjungan ke tempat usaha, dan rencana bisnis.
Ia menggambarkan kesehariannya seperti berjalan dengan mode otomatis. Setiap pekerjaan diselesaikan menurut urutan kebutuhan tanpa terlalu lama memikirkan beban keseluruhan.
Di tengah pertumbuhan audiens, Gabriela mulai mengarahkan perhatian pada bisnis. Ia belum membuka jenis usaha yang sedang disiapkan, tetapi menargetkan peluncuran pada tahun yang sama.
Setelah dikenal sebagai mahasiswa berprestasi dan kreator konten, ia ingin membangun identitas sebagai pengusaha muda.
Keinginan tersebut berangkat dari penolakannya untuk terikat pada satu profesi. Gabriela tidak melihat satu kehidupan harus diisi hanya dengan satu keterampilan atau satu jalur karier.
Ia ingin mencoba bidang berbeda selama memiliki kesempatan belajar dan berkembang. Baginya, perubahan bukan ancaman, melainkan ruang untuk memperluas kemampuan.
Dari sejumlah kompetisi, organisasi, dan program yang diikuti, Gabriela menganggap pertemuan dengan orang-orang berkemampuan tinggi sebagai pengalaman paling berharga. Ia menyebut proses itu sebagai “mencuri keterampilan”.
Istilah tersebut bukan berarti mengambil sesuatu hingga pemiliknya kehilangan, melainkan mengamati keunggulan orang lain secara langsung lalu mempelajarinya.
Saat mengikuti Duta Bahasa, kegiatan pariwisata, dan pemilihan mahasiswa berprestasi, ia memperhatikan cara peserta lain berbicara, menyusun materi, membangun pembawaan, serta menunjukkan rekam jejak.
Menurut Gabriela, pengamatan langsung memberi pemahaman yang tidak selalu didapatkan dari video atau media sosial.
Pengalaman tersebut kemudian ia gunakan untuk memperbaiki kemampuan sendiri. Ia datang ke sebuah kegiatan membawa kapasitas awal, lalu pulang dengan pengetahuan baru dari peserta lain.
Kesempatan belajar semacam itu, kata dia, tidak dapat dibeli atau direkayasa karena seseorang harus hadir dan berinteraksi secara langsung.
Kepada generasi muda, Gabriela berpesan agar tidak membatasi diri pada satu label. Status sebagai mahasiswa atau pekerja di bidang tertentu tidak harus menentukan seluruh perjalanan hidup. Anak muda, menurut dia, perlu berani mencoba peluang baru dan tidak menyerahkan penentuan identitas kepada pandangan orang lain.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan sering terasa menakutkan karena belum dikenal, bukan selalu karena terlalu sulit. Karena itu, eksplorasi perlu dibarengi kesediaan belajar, bekerja, dan menerima kegagalan. “You can become anything you want to become,” kata Gabriela.
Bagi Gabriela, kalimat tersebut bukan slogan kosong. Pilihannya meninggalkan tradisi teknik di keluarga, masuk hukum, mengembangkan literasi, menulis buku, membangun audiens digital, dan menyiapkan bisnis menunjukkan arah yang terus bergerak.
Ia tidak menganggap semua percobaan harus menghasilkan gelar juara. Nilai utamanya terletak pada proses untuk mendapat keterampilan yang bertambah dan manfaat yang sampai kepada orang lain.
Di titik itu, prestasi kembali pada definisi awalnya. Bukan sekadar kemenangan di atas panggung, melainkan keberanian mengubah gagasan menjadi kerja nyata.
Gabriela ingin setiap kegiatan meninggalkan hasil, baik berupa buku, karya pelajar, jejaring kolaborasi, konten yang menghibur, maupun peluang ekonomi. Bagi mahasiswa hukum itu, sertifikat hanya mencatat peristiwa. Dampak nyata yang membuatnya bertahan.
(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)








