Mahasiswa
Unhas Story

Gabriela Lambert, Mahasiswa Hukum Unhas yang Menautkan Prestasi, Literasi, dan Bisnis Digital



Gabriela 'Ela' Lambert, Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum Unhas 2026 dalam program Unhas Story. (Dok Unhas TV)


Perjalanan Gabriela menuju Fakultas Hukum bermula dari pilihan yang berseberangan dengan tradisi keluarganya.

Ayahnya berlatar belakang teknik mesin. Saudara-saudaranya menempuh pendidikan teknik pertambangan, teknik kimia, dan teknik elektro. Gabriela menjadi satu-satunya anggota keluarga yang memilih bidang hukum.

Saat SMA, ia berada di jurusan ilmu pengetahuan alam. Kondisi itu sempat membuatnya mempertimbangkan teknik. Namun nilai matematika, fisika, dan sainsnya lebih rendah dibanding mata pelajaran lain.

Ia akhirnya kembali pada ketertarikannya terhadap hukum dan hanya memilih Fakultas Hukum Unhas dalam seleksi masuk perguruan tinggi.

Keputusannya juga dipengaruhi anggapan bahwa hukum akan menjauhkannya dari matematika. Anggapan itu segera berubah setelah ia mempelajari perhitungan dalam hukum waris.

Gabriela kemudian menyimpulkan bahwa matematika tetap hadir dalam banyak bidang ilmu. Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita yang kerap ia sampaikan secara ringan kepada calon mahasiswa hukum.

Gabriela menilai pengalaman kuliahnya di Fakultas Hukum Unhas melampaui ekspektasi. Ia menyebut fasilitas, ruang belajar, perpustakaan, taman, dan lingkungan sosial kampus mendukung proses akademik. Ketersediaan sumber bacaan di perpustakaan juga memudahkannya menyelesaikan tugas.

Hal lain yang dianggap penting adalah dukungan dosen terhadap kegiatan organisasi. Menurut dia, aktivitas kemahasiswaan dapat dikonversi menjadi nilai pada skema tertentu.

Kebijakan tersebut membuat mahasiswa tetap dapat mengembangkan kemampuan organisasi tanpa meninggalkan kepentingan akademik. Gabriela sendiri bergabung dan aktif dalam empat organisasi.

Kesibukan itu tidak menghentikannya menulis. Pada 2025, Gabriela menyusun buku cerita anak dwibahasa Toraja dan Indonesia berjudul Gola dan Sahabat Penyelamat Hutan. Buku tersebut menggabungkan pesan pelestarian lingkungan dengan upaya mempertahankan bahasa daerah.

Gagasan menulis buku berawal dari kebiasaannya membaca sejak kecil. Pada usia delapan tahun, ia membaca sebuah buku cerita bergambar yang menurutnya mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Dari pengalaman itu, Gabriela melihat buku sebagai medium yang dapat menanamkan nilai secara halus tanpa terasa menggurui.

Ia kemudian mengamati kebiasaan anak-anak yang semakin dekat dengan telepon seluler, permainan digital, dan konten singkat.

Menurut Gabriela, buku harus tampil lebih ringan dan menarik agar dapat bersaing memperebutkan perhatian pembaca muda. Cerita anak dipilih karena mampu menyampaikan pesan melalui hiburan.

Penggunaan bahasa Toraja memiliki tujuan lain. Gabriela menilai sejumlah bahasa daerah menghadapi ancaman berkurangnya penutur aktif karena tidak lagi diwariskan dalam keluarga.

Buku dwibahasa diharapkan membantu anak mengenal bahasa ibu sekaligus memahami pesan tentang lingkungan. Dengan cara itu, aktivitas membaca, pendidikan karakter, dan pelestarian bahasa berjalan dalam satu media.

Bangun Karier sebagai Konten Kreator

>> Baca Selanjutnya