MAKASSAR, UNHAS.TV - Siklus menstruasi yang tidak teratur kerap dikaitkan dengan stres, kelelahan, pola tidur, atau perubahan berat badan.
Namun, kondisi tersebut juga dapat menjadi salah satu tanda gangguan hormonal, termasuk Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), terutama apabila terjadi berulang dan disertai gejala lain.
Hal tersebut dibahas dalam program Unhas Health, Kamis (20/8/2026), bertema “PCOS: Penyebab Haid Tidak Teratur yang Sering Diabaikan” bersama Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Dr. dr. Monika Fitria Farid SpOG MKes.
Dalam pembahasannya, PCOS dijelaskan tidak hanya berkaitan dengan fungsi ovarium, tetapi juga dapat berhubungan dengan gangguan hormonal dan metabolik.
Monika menjelaskan bahwa PCOS sering disalahartikan sebagai kista ovarium. Pada pemeriksaan ultrasonografi (USG), kondisi ini dapat memperlihatkan banyak sel telur berukuran kecil di ovarium.
Gambaran tersebut tidak serta-merta berarti pasien memiliki kista sebagaimana yang umum dipahami masyarakat.
“Jadi sebenarnya bukan kista. Kita namakan polikistik, artinya memang ada sel telur kecil yang banyak terdapat di dalam ovarium. Itulah yang menyebabkan haidnya tidak teratur,” jelas Monika.
Menurutnya, siklus menstruasi normal secara umum berada pada rentang sekitar 21 hingga 35 hari. Gangguan tidak hanya ditandai dengan menstruasi yang datang setiap dua atau tiga bulan, tetapi juga dapat terlihat dari perubahan jumlah perdarahan, seperti hanya berupa bercak atau justru perdarahan yang berlebihan.
Meski demikian, haid tidak teratur tidak selalu berarti PCOS karena stres dan faktor lain juga dapat memengaruhi siklus menstruasi. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Selain perubahan siklus menstruasi, beberapa kondisi yang dapat menyertai PCOS antara lain pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, jerawat, perubahan berat badan, serta kesulitan memperoleh keturunan.
Monika menjelaskan gangguan menstruasi dapat berpengaruh terhadap proses pematangan dan pelepasan sel telur sehingga pada sebagian perempuan dapat berkaitan dengan masalah kesuburan.
Pola hidup turut menjadi bagian penting dalam penanganan. Menjaga berat badan, mengatur pola makan secara seimbang, mencukupi kebutuhan protein, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, menjaga pola tidur, serta mengelola stres menjadi langkah yang ditekankan sebelum maupun bersamaan dengan terapi medis sesuai kondisi pasien.
“Yang paling pertama adalah tetap lifestyle. Kemudian yang kedua, kita akan memberikan obat-obat hormonal yang akan mengatur haidnya,” ujar Monika.
Penanganan selanjutnya disesuaikan dengan kondisi dan tujuan pasien, termasuk apabila pasien sedang merencanakan kehamilan.
Monika juga menganjurkan perempuan mencatat siklus menstruasi secara rutin. Catatan tersebut dapat membantu mengenali perubahan pola haid sekaligus menjadi informasi bagi dokter ketika melakukan pemeriksaan.
Jika menstruasi terus tidak teratur, hanya berupa bercak, sangat banyak, atau nyeri sampai mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Melalui pembahasan Unhas Health, masyarakat diharapkan memperoleh pemahaman bahwa perubahan siklus menstruasi memiliki beragam penyebab dan tidak dapat langsung disimpulkan sebagai PCOS.
Pemeriksaan melalui wawancara medis, evaluasi kondisi fisik, USG, hingga pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan sesuai kebutuhan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSP Unhas Dr dr Monika Fitria Farid SpOG MKes hadir dalam program Unhas Sehat di Studio Unhas TV, Kamis (20/8/2026). (Unhas TV/ Paramita)






 Dr Anton Nugroho MM DS MA-300x169.webp)

