JAKARTA, UNHAS.TV - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menanggapi isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah dinamika geopolitik global yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Dalam keterangannya di Tokyo, Jepang, pada Senin (30/3/2026), Bahlil menyebut bahwa pemerintah saat ini tetap berupaya menjaga stabilitas harga BBM dalam negeri, khususnya untuk jenis yang disubsidi.
“Sekarang harga minyak dunia sudah mencapai sekitar 115 dolar per barel, tapi untuk dalam negeri masih stabil. Insyaallah atas arahan Bapak Presiden, BBM subsidi sampai sekarang masih kita jaga,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebijakan terkait harga BBM, terutama yang bersubsidi, sepenuhnya berada di tangan Presiden dan akan diputuskan dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat.
“Percayalah, Presiden selalu memikirkan bagaimana pembangunan negara berjalan, sekaligus memperhatikan kebutuhan dan kondisi masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa mekanisme harga BBM di Indonesia terbagi dalam dua skema, yakni BBM industri (non-subsidi) dan BBM subsidi. Untuk BBM non-subsidi, harga akan mengikuti mekanisme pasar dan fluktuasi harga minyak dunia.
“Kalau yang industri, seperti RON 95 ke atas, itu mengikuti harga pasar. Mau diumumkan atau tidak, tetap bergerak sesuai harga global,” jelasnya.
Sementara itu, untuk BBM subsidi, pemerintah masih melakukan kajian mendalam sebelum mengambil keputusan, termasuk mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi dan sosial.
“Terkait subsidi, kita tunggu tanggal mainnya. Yang jelas, kebijakan yang diambil pasti untuk kebaikan rakyat,” tegasnya.
Di sisi lain, Bahlil juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mempercepat investasi di sektor energi, termasuk transisi energi dan penguatan sektor migas, guna menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Langkah ini dinilai penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada dinamika pasar energi global, sekaligus menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Dok Pexels)








