NEW YORK, UNHAS.TV - Harga emas melesat menembus level 4.700 dolar AS per ons dan mencetak rekor tertinggi baru, sementara perak juga mencapai puncak tertinggi sepanjang masa, seiring kebuntuan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait penguasaan Greenland yang tidak menunjukkan tanda-tanda deeskalasi, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Rabu (22 Januari 2026).
Pasar global kini menanti respons Eropa terhadap ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang ambisinya atas Greenland.
Ancamana itu hadir di tengah Mahkamah Agung Amerika Serikat yang kembali tidak mengeluarkan putusan terkait tarif spesifik negara tersebut.
Sementara krisis utang pemerintah Jepang turut mengguncang pasar obligasi global dan indeks kekuatan dolar AS mencatat penurunan terdalam dalam lebih dari satu bulan.
Ancaman Amerika Serikat terhadap sekutu-sekutunya di NATO telah mengguncang pasar keuangan dunia dan memberikan dorongan baru bagi reli emas yang memecahkan rekor, dengan harga emas melonjak hampir 75 persen dalam 12 bulan terakhir.
Janji kampanye pemotongan pajak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menjelang pemilu menyoroti meningkatnya beban utang negara-negara maju di seluruh dunia.
Diketahui, defisit fiskal yang tinggi sepanjang 2025 telah mendorong penguatan harga emas karena investor memandang inflasi sebagai satu-satunya jalan menuju keberlanjutan fiskal, sementara pelemahan dolar AS turut membuat komoditas lebih terjangkau pembeli global.
Investor internasional juga mencermati perkembangan dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, tempat Donald Trump menyatakan akan bertemu sejumlah pihak untuk membahas rencananya mengambil alih wilayah Denmark tersebut.
Sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron berniat meminta aktivasi instrumen anti-pemaksaan Uni Eropa meski Kanselir Jerman Friedrich Merz berupaya meredam respons tersebut.
Dalam pesan singkat yang kemudian dibagikan Trump di media sosial, Macron menyatakan ketidakpahamannya atas langkah Amerika Serikat di Greenland, sementara Trump membalas dengan menyindir Macron yang menolak mendukung inisiatif perdamaian terbarunya serta mengisyaratkan kemungkinan pengenaan tarif atas anggur dan sampanye Prancis.
“Kita telah memasuki era nasionalisme sumber daya di antara kekuatan-kekuatan besar dunia,” ujar Peter Kinsella, Kepala Strategi Valuta Asing Global di Union Bancaire Privée SA, dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
Peter Kinsella menegaskan bahwa eksposur terhadap logam mulia merupakan cara paling efektif untuk merespons dinamika geopolitik tersebut dibandingkan sekadar memainkan pergerakan mata uang.
Emas pada tahun lalu mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979, didukung oleh penurunan suku bunga Amerika Serikat, pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, serta gejolak geopolitik global yang dipicu kebijakan Washington, sementara reli perak bahkan lebih tajam dengan harga yang tercatat meningkat tiga kali lipat dalam satu tahun terakhir.(*)
Sumber: Bloomberg, 22 Januari 2026
Emas Melambung ke Puncak Baru: Menembus USD 4.700 di Tengah Badai Geopolitik Greenland
-300x169.webp)


-300x144.webp)



-300x200.webp)
