Budaya
Mahasiswa

Hari Buku Nasional di Unhas, Saat Anak Muda Membaca, Buku Terakhir Apa yang Kamu Baca?

PEKAN LITERASI - Perpustakaan Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Pekan Literasi Hari Buku Nasional 2026 pada Senin-Rabu (18-20/5/2026). Sejumlah kegiatan dilangsungkan selama tiga hari. (Unhas TV/Zahra Tsabita)

UNHAS.TV - Perpustakaan Universitas Hasanuddin (Unhas) tampak lebih ramai dari biasanya pada Senin-Rabu (18-20/5/2026).

Di antara rak buku, meja baca, dan deretan pengunjung, Pekan Literasi Hari Buku Nasional 2026 menjadi ruang temu bagi mahasiswa, duta literasi, akademisi, penerbit, media, dan masyarakat.

Mereka datang bukan sekadar menghadiri acara. Mereka membawa cerita tentang buku terakhir yang dibaca, juga buku yang layak direkomendasikan kepada orang lain.

Kegiatan ini digelar Perpustakaan Universitas Hasanuddin bersama sejumlah mitra penerbit dan media. Temanya jelas: “Penguatan Budaya Literasi Akademik di Era Transformasi Digital: Literasi Tanpa Batas Menghubungkan Tradisi dan Teknologi.”

Tema itu terasa relevan. Di tengah gempuran layar pendek, notifikasi, dan arus informasi cepat, buku kembali diajak bicara pelan-pelan.

Zahra Tsabitha Sucheng dari Unhas TV menyusuri area perpustakaan. Ia bertanya kepada beberapa peserta: buku terakhir apa yang mereka baca, dan buku apa yang mereka rekomendasikan?

Andi Riska Respati, Duta Literasi Unhas 2025, menyebut dua buku yang belakangan ia baca: Ikigai dan Alpagirl Guide.

Bagi Riska, Alpagirl Guide menarik karena berbicara tentang perempuan yang mandiri, percaya diri, dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Buku itu ia baca karena dekat dengan kebutuhan banyak perempuan muda: berani tampil, mampu mengembangkan diri, dan tidak mudah kehilangan arah.

Buku kedua, Ikigai, belum selesai ia baca. Namun, bagian awalnya sudah meninggalkan kesan. Ia menangkap pesan tentang kebiasaan hidup orang Jepang, terutama semangat memulai aktivitas sejak pagi.

Dari buku itu, Riska melihat pentingnya keseimbangan hidup. Karier berjalan. Akademik berjalan. Ruang istirahat juga tetap ada.

Ketika diminta merekomendasikan satu buku, Riska memilih Seni Bersikap Bodo Amat. Alasannya sederhana. Banyak anak muda terlalu sering memikirkan penilaian orang lain. Buku itu, menurutnya, membantu pembaca fokus pada tujuan dan tidak membuang energi untuk hal yang tidak perlu.

Rekomendasi berbeda datang dari Nurenci Pasaribu, juga Duta Literasi Unhas 2025. Buku terakhir yang ia baca berjudul Ingatan Ikan-Ikan.

Buku itu, menurutnya, menyentuh trauma pascainsiden 1998. Ada krisis moneter, kerusuhan, kehilangan, dan luka yang tertinggal pada tokoh-tokohnya.

Nurenci menyebut kisah Lian yang kehilangan adiknya dalam tragedi itu. Ia juga menyinggung Om Bak, tokoh lain yang membawa trauma serupa.

Untuk rekomendasi, Nurenci memilih Educated karya Tara Westover, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Terdidik.

Buku itu berkisah tentang seseorang yang tumbuh jauh dari akses pendidikan formal, tetapi berani mencari jalan hidupnya sendiri. Bagi Nurenci, buku ini penting karena mengajarkan bahwa masa lalu tidak harus mengunci masa depan.

Di sudut lain, Asri dari Duta Pencegahan Kekerasan menyebut buku terakhir yang ia baca: Buku Saku PPKT. Bacaan itu dekat dengan aktivitasnya dalam isu pencegahan kekerasan. Namun, ketika diminta memberi rekomendasi, jawabannya bergeser ke dunia fiksi: Harry Potter.

Asri menilai seri Harry Potter menarik karena dunia dalam bukunya lebih luas daripada filmnya. Banyak bagian yang tidak tampil di layar. Karena itu, membaca bukunya memberi pengalaman yang lebih utuh.

Bagi pembaca yang hanya mengenal Harry Potter lewat film, buku membuka detail yang sebelumnya hilang.

Dari tiga percakapan itu, tampak bahwa selera membaca tidak tunggal. Ada yang memilih pengembangan diri. Ada yang tertarik pada sejarah kelam dan trauma sosial.

Ada pula yang kembali ke fiksi populer. Namun, semuanya menunjukkan satu hal: buku memberi ruang bagi pembaca untuk berhenti sejenak, berpikir, dan melihat hidup dari sudut lain.

Pekan Literasi ini juga mengingatkan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Literasi berarti kemampuan memilih bacaan, memahami konteks, menyerap gagasan, lalu menghubungkannya dengan pengalaman hidup.

Di kampus, literasi akademik menjadi dasar berpikir kritis. Di masyarakat, literasi membantu orang menilai informasi secara lebih jernih.

Hari Buku Nasional akhirnya bukan hanya seremoni. Di Perpustakaan Universitas Hasanuddin, ia menjadi percakapan kecil tentang buku-buku yang membentuk cara pandang anak muda.

Dari Ikigai hingga Terdidik, dari Ingatan Ikan-Ikan hingga Harry Potter, setiap judul membawa pintu masuk yang berbeda.

Pertanyaannya kemudian kembali kepada pembaca; buku terakhir apa yang kamu baca, dan buku apa yang berani kamu rekomendasikan kepada orang lain?

(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)