Lingkungan
Mahasiswa
Sulsel

Hipermata Unhas Dorong Transformasi Tanakeke Lewat Dialog Maritim dan Gerakan Pemuda Pesisir

DIALOG MARITIM - Hipermata Komisariat Unhas menggelar Dialog Maritim dalam rangkaian Ekspedisi Maritim 2026 di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, di Gedung Serbaguna Desa Tompotana, Kecamatan Kepulauan Tanakeke, Sabtu (6/6/2026). (Unhas TV / Venny Septiani)

TAKALAR, UNHAS.TV - Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar (Hipermata) Komisariat Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Dialog Maritim dalam rangkaian Ekspedisi Maritim 2026 di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu-Minggu (6-7/6/2026)

Forum yang berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Tompotana, Kecamatan Kepulauan Tanakeke, itu membahas peran pemuda dalam transformasi wilayah pesisir dan pengembangan ekowisata berkelanjutan.

Dialog bertajuk “Dari Pesisir untuk Negeri: Peran Pemuda dalam Transformasi Maritim” tersebut mempertemukan mahasiswa, relawan lintas perguruan tinggi, pemerintah daerah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh lokal, dan warga Tanakeke. 

Kegiatan ini menjadi ruang tukar gagasan mengenai masa depan pulau-pulau kecil yang menghadapi tekanan ekologis, perubahan ekonomi, dan kebutuhan pembangunan yang lebih berpihak kepada masyarakat pesisir.

Panitia menempatkan dialog ini sebagai salah satu agenda utama ekspedisi. Para relawan tidak hanya mengikuti sesi diskusi, tetapi juga diajak membaca langsung kondisi Tanakeke sebagai ruang hidup masyarakat pesisir. 

Dengan cara itu, gagasan transformasi maritim tidak berhenti pada wacana, melainkan berangkat dari pengalaman lapangan dan kebutuhan warga.

Pulau Tanakeke selama ini dikenal memiliki kawasan mangrove, perairan pesisir, dan potensi wisata bahari. Namun pengelolaannya masih membutuhkan dukungan banyak pihak.

Melalui forum ini, Hipermata Unhas mendorong pemuda tidak hanya hadir sebagai peserta diskusi, tetapi juga sebagai bagian dari proses penguatan kapasitas masyarakat, perlindungan ekosistem, dan pencarian model ekonomi lokal yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Takalar, Yardi, mengatakan Tanakeke memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata pesisir.

Menurut dia, potensi tersebut dapat membuka ruang ekonomi baru bagi warga bila dikelola dengan memperhatikan daya dukung lingkungan. Ia menyebut sektor wisata perlu disiapkan dari sisi atraksi, kesadaran warga, dan perlindungan kawasan.

“Pulau Tanakeke ini adalah pulau yang sangat indah. Ada banyak potensi wisata yang kemudian bisa dikembangkan, utamanya ekowisata pesisir,” kata Yardi dalam dialog tersebut.

Ia mengatakan ekowisata pesisir dapat dikembangkan masyarakat dengan tetap melihat aspek lingkungan. “Ketika bisa kita kembangkan sebagai salah satu destinasi unggulan di Takalar, ini akan menimbulkan multiplier effect terhadap masyarakat lokal.”

Yardi menilai pengembangan pariwisata tidak bisa dilepaskan dari edukasi lingkungan. Ia menyebut pelestarian mangrove, terumbu karang, dan sumber daya laut sebagai syarat utama sebelum Tanakeke dipromosikan sebagai tujuan wisata.

Tanpa kesadaran warga dan pengawasan yang memadai, potensi wisata justru dapat rusak sebelum memberi manfaat ekonomi.

Hentikan Penebangan Mangrove

Ia menyoroti masih adanya praktik penebangan mangrove dan penangkapan ikan dengan cara merusak. “Yang terpenting adalah mengajak masyarakat, mengedukasi masyarakat untuk menjaga kelestarian alam sebagai salah satu aset wisata,” ujarnya.

Yardi berharap masyarakat tidak lagi melakukan perusakan lingkungan, termasuk penebangan mangrove dan penggunaan bom ikan. Menurut dia, terumbu karang yang terjaga dapat menjadi daya tarik wisata rekreasi laut.

Direktur Yayasan Hutan Biru atau Blue Forests, Rio Ahmad Arianto, mengatakan inisiatif Hipermata Unhas penting karena mempertemukan pemuda dengan persoalan nyata di pulau kecil.

Ia menilai perubahan di wilayah pesisir tidak dapat dimulai dari daftar solusi yang disusun dari jauh. Pemahaman atas kondisi sosial dan ekologis harus hadir lebih dahulu.

“Ketika kita ingin melihat perubahan yang harus kita hadirkan, jangan langsung loncat pada solusi,” kata Rio.

Menurut dia, pemuda perlu menggunakan mata dan telinga untuk memperhatikan dan mendengarkan banyak hal, serta merasakan situasi masyarakat sebelum merumuskan jalan keluar.

Rio mengatakan pulau-pulau kecil membutuhkan banyak pihak untuk saling merangkul dalam menghadapi isu pengelolaan sumber daya alam.

Rio berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ia menilai mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dapat mengambil peran dalam menciptakan pilihan penghidupan, pemulihan ekosistem, dan perlindungan pulau-pulau kecil.

“Silakan berkarya untuk berkontribusi menciptakan opsi-opsi penghidupan, opsi-opsi pemulihan ekosistem dan perlindungan ekosistem di pulau-pulau kecil,” ujarnya.

Bagi Hipermata Komisariat Unhas, Dialog Maritim menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif pemuda Takalar.

Organisasi ini berharap Ekspedisi Maritim 2026 melahirkan jejaring kerja yang berlanjut setelah kegiatan selesai. Fokusnya ialah menjaga ekosistem pesisir, memperkuat partisipasi warga, dan mendukung Tanakeke sebagai kawasan maritim yang berkelanjutan setelah ekspedisi berakhir.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)