MAKASSAR, UNHAS.TV – Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sulawesi Selatan (BPD HIPMI Sulsel) mendorong integrasi data pasien dan keterlibatan pengusaha lokal dalam pengembangan teknologi kesehatan di Sulawesi Selatan.
Langkah itu dinilai penting untuk mempercepat pelayanan sekaligus memperkuat ekosistem digital rumah sakit di kawasan Indonesia Timur.
Ketua Umum BPD HIPMI Sulawesi Selatan Andi Amar Ma’ruf Sulaiman SE BBusman MH mengatakan sistem kesehatan yang terintegrasi dapat mengurangi proses administrasi berulang ketika masyarakat berpindah dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas lainnya.
“Harapannya semoga ada integrasi. Orang ke rumah sakit A, datanya belum ada, harus catat lagi. Ke rumah sakit B, beda lagi datanya, harus lagi input lagi atau harus periksa lagi,” kata Amar dalam HIPMI Hadin Tech Summit 2026 di Ballroom Hotel Unhas and Convention, Makassar, Selasa (22/9/2026).
Menurut Amar, integrasi data dapat mempermudah rumah sakit memperoleh riwayat pelayanan pasien. Pasien pun tidak perlu menjalani prosedur yang sama berulang kali hanya karena sistem informasi antarfasilitas kesehatan belum terhubung.
“Semoga satu kali periksa saja sudah ada datanya di tempat lain. Sehingga masyarakat tidak terbebani oleh biaya ganda, tidak terbebani antre berlebih,” ujarnya.
HIPMI Sulsel bersama PT Hadin ITE Solution menggelar forum tersebut dengan tema Digital Health Transformation: Modernizing Healthcare Infrastructure for Hospital and Health Authorities.
Pertemuan itu menghadirkan unsur pemerintah, rumah sakit, perguruan tinggi, pengusaha, dan perusahaan teknologi.
Bagi HIPMI Sulsel, transformasi kesehatan digital juga membuka ruang keterlibatan lebih besar bagi pengusaha daerah.
Amar mengatakan kebutuhan teknologi rumah sakit seharusnya dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut menyediakan solusi yang sesuai dengan kondisi fasilitas kesehatan di daerah.
“Perjanjian kerja sama untuk bidang teknologi, terutama teknologi yang digunakan oleh rumah sakit-rumah sakit di Sulawesi Selatan. Jadi bagaimana kita memanfaatkan orang-orang lokal, pengusaha-pengusaha lokal di rumah sakit-rumah sakit kita,” kata Amar.
Ia menilai pengembangan teknologi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan perangkat. Sistem jaringan, pengelolaan data, keamanan informasi, serta integrasi pelayanan menjadi bagian yang membutuhkan dukungan dunia usaha dan industri teknologi.
Kolaborasi antara HIPMI Sulsel dan Hadin ITE Solution diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan fasilitas kesehatan dengan kemampuan penyedia teknologi. HIPMI juga ingin membuka akses bagi pengusaha lokal agar dapat mengambil bagian dalam proses modernisasi infrastruktur rumah sakit.
Infrastruktur Digital Masih Jadi Tantangan
Direktur PT Hadin ITE Solution Muhammad Rafli Nur Ihsan mengatakan kesiapan infrastruktur teknologi informasi di sejumlah fasilitas kesehatan Indonesia Timur masih menjadi pekerjaan penting.
Menurut Rafli, pengembangan layanan digital membutuhkan fondasi jaringan yang memadai sebelum rumah sakit menerapkan sistem informasi yang lebih kompleks.
“Perkembangan teknologi di khususnya daerah Sulawesi Selatan, Indonesia Timur, dari sisi infrastruktur network dan jaringan rumah sakit, kita masih selangkah dua langkah di belakang dari rumah sakit-rumah sakit yang ada di Jawa,” ujar Rafli.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan Hadin ITE Solution menggandeng HIPMI Sulsel. Kolaborasi diharapkan dapat membantu rumah sakit daerah menyusun arah pengembangan teknologi secara lebih terencana.
“Jadi itu salah satu yang melatarbelakangi kenapa kami kolaborasi dengan HIPMI, untuk memberi masukan agar mereka di daerah-daerah, di rumah sakit-rumah sakit daerah itu punya roadmap yang jelas terkait perkembangan IT-nya,” katanya.
Forum tersebut turut menghadirkan Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Kesehatan Eko Sulistijo, serta Direktur Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin Andi Muhammad Ichsan.
Sejumlah perusahaan teknologi, antara lain Lenovo, Ruijie, Fortinet, dan Huawei Cloud Indonesia, juga memaparkan solusi terkait infrastruktur digital, konektivitas, keamanan sistem informasi, dan pengelolaan layanan berbasis teknologi.
Rafli mengatakan pertemuan tersebut akan dilanjutkan dengan pemetaan kebutuhan fasilitas kesehatan. Hadin ITE Solution akan mengumpulkan informasi dari rumah sakit daerah dan dinas kesehatan untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan teknologi di setiap wilayah.
“Ini sebagai batu loncatan awal. Kita collect data dulu siapa stakeholder-stakeholder yang ada di rumah sakit daerah atau di Dinas Kesehatan, agar kita bisa follow up terkait apa yang sudah kita paparkan,” ujar Rafli.
Jika fasilitas kesehatan membutuhkan pengembangan lebih lanjut, kata dia, asesmen dapat dilakukan untuk menentukan solusi sesuai kondisi masing-masing rumah sakit.
Bagi HIPMI Sulsel, agenda itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan kepentingan pelayanan publik dengan peluang pengembangan usaha berbasis teknologi.
Integrasi sistem diharapkan mempercepat layanan kepada pasien, sedangkan keterlibatan pengusaha lokal dapat memperluas partisipasi dunia usaha dalam pembangunan infrastruktur kesehatan.
Kolaborasi HIPMI Sulsel dan Hadin ITE Solution juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antara rumah sakit, pemerintah, akademisi, dan industri teknologi. Amar berharap modernisasi sistem kesehatan dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan kapasitas pengusaha daerah.
Dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus berkembang, HIPMI Sulsel menilai transformasi digital perlu diarahkan pada sistem yang praktis bagi masyarakat, terhubung antarfasilitas kesehatan, dan mampu mengurangi beban pelayanan yang berulang.
(Mustika Syaharuddin/Kautsar Ardiansyah R./Unhas TV)
KOLABORASI KESEHATAN - Ketua Umum HIPMI Sulawesi Selatan Andi Amar Ma’ruf Sulaiman menghadiri HIPMI Hadin Tech Summit 2026, di Makassar, Selasa (22/9/2026). Forum ini mendorong integrasi data kesehatan melalui kolaborasi teknologi. (Unhas TV/Kautsar Ardiansyah R)


-300x200.webp)




-300x194.webp)
