MAKASSAR, UNHAS.TV - Berbuka puasa dengan menu favorit kerap menghadirkan rasa senang yang sulit dijelaskan. Setelah menahan lapar dan haus seharian, suapan pertama makanan kesukaan terasa lebih nikmat, bahkan memberi kepuasan emosional.
Di balik sensasi itu, ternyata terdapat proses kimia yang bekerja di dalam otak. Dijelaskan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa sekaligus Konsultan Psikiatri Biologi dan Psikofarmakologi, dr Andi Suheyra Syauki MKes SpKJ SubspBP-K, menjelaskan bahwa rasa senang tersebut berkaitan dengan pelepasan dopamin.
Menurut dokter Suheyra saat ditemui di International Building Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Jumat (6/12/2025), setelah berjam-jam berpuasa, tubuh berada dalam kondisi lebih responsif terhadap asupan makanan.
Ketika makanan yang dikonsumsi adalah menu favorit, otak melepaskan neurotransmitter bernama dopamin, zat kimia yang berperan dalam sistem penghargaan (reward system) dan rasa puas.
“Di otak itu ada neurotransmitter yang namanya dopamin. Dopamin menghasilkan rasa senang dan rasa puas. Ketika kita merasa bosan, kemungkinan kadar dopamin sedang menurun. Jadi aktivitas atau makanan yang biasanya menyenangkan bisa terasa tidak mengenakkan lagi,” ujar Andi.
Dopamin membantu memperkuat ingatan positif terhadap makanan tertentu. Karena itu, banyak orang memiliki menu khas Ramadan yang selalu dinantikan setiap tahun.
Sensasi nikmat bukan hanya soal rasa, tetapi juga karena otak mengaitkan pengalaman makan dengan perasaan bahagia.
Selain faktor biologis, pengalaman masa lalu turut memengaruhi persepsi tersebut. Kenangan berbuka bersama keluarga, suasana hangat di rumah, atau momen kebersamaan tertentu membuat makanan terasa lebih bermakna secara emosional. Otak menggabungkan rasa, aroma, dan memori menjadi satu kesatuan pengalaman yang utuh.
“Hubungan antara makanan dan emosi itu umum terjadi. Otak mengaitkan rasa, aroma, dan pengalaman menjadi satu. Itu yang membuat makanan tertentu terasa spesial,” kata Andi.
Dalam kondisi puasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme. Saat waktu berbuka tiba, asupan makanan memicu respons biologis yang lebih kuat dibandingkan saat tidak berpuasa.
Karena itu, makanan favorit terasa lebih memuaskan. Tidak hanya sebagai sumber energi untuk memulihkan tubuh, tetapi juga sebagai penguat suasana hati.
Namun respons tersebut tidak selalu konstan. Jika makanan yang sama dikonsumsi secara berulang tanpa variasi, sensitivitas otak terhadap stimulus itu dapat menurun. Rasa istimewa perlahan memudar karena otak beradaptasi terhadap pengulangan.
Fenomena ini merupakan bagian dari mekanisme alami adaptasi. Otak cenderung mencari variasi untuk mempertahankan tingkat stimulasi. Ketika kadar dopamin tidak lagi meningkat seperti sebelumnya, kepuasan yang dirasakan pun berkurang.
Andi menyarankan agar masyarakat tetap mempertahankan makanan favorit selama Ramadan, tetapi disertai variasi. Perubahan sederhana dalam cara memasak, kombinasi lauk, atau penyajian dapat membantu menjaga sensasi menyenangkan tersebut.
“Tidak perlu mengganti total. Yang penting ada variasi agar pengalaman makan tetap menyenangkan dan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi,” ujarnya.
Pemahaman mengenai proses biologis di balik rasa senang saat berbuka diharapkan dapat membantu masyarakat lebih bijak dalam mengatur menu.
Makanan favorit dapat menjadi bagian dari tradisi Ramadan, tetapi perlu diimbangi dengan keberagaman agar tubuh dan otak tetap mendapatkan stimulasi yang sehat.
Dengan demikian, berbuka puasa bukan sekadar momen mengisi kembali energi, melainkan juga pengalaman emosional yang dipengaruhi oleh kerja kimia otak dan memori.
Sensasi bahagia pada suapan pertama ternyata bukan kebetulan, melainkan hasil dari mekanisme biologis yang telah lama tertanam dalam sistem saraf manusia.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
BERBUKA PUASA - Ilustrasi menu buka puasa. Dibalik rasa nikmat saat berbuka puasa, ternyata ada dopamin pada suapan pertama saat berbuka. (foto ChatGPT)








