MAKASSAR, UNHAS.TV - Wacana Indonesia menjadi standalone market menjadi perhatian karena dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasar modal nasional.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas), Dr Nur Alamzah SE MSi menyoroti risiko keluarnya modal asing yang dapat menekan harga saham dan nilai tukar rupiah.
Standalone market merujuk pada klasifikasi pasar modal suatu negara yang berdiri sendiri dan tidak tergabung dalam kelompok pasar lainnya pada indeks tertentu.
Perubahan klasifikasi ini berpotensi memengaruhi keputusan investor, terutama investor asing yang menggunakan indeks pasar sebagai acuan dalam menentukan alokasi investasi.
Nur Alamzah menilai perubahan status tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan tekanan jual di pasar saham Indonesia.
Menurutnya, apabila investor asing melepas kepemilikan saham dalam jumlah besar sementara permintaan tidak meningkat, harga saham dapat mengalami penurunan.
“Sangat memiliki arti, karena standalone market ini memang saham-saham yang ada di Indonesia ini memang dikeluarkan, diluarkan dari istrinya pasar,” ungkap Nur Alamzah.
"Nah ini menjadi ancaman yang berat, kenapa? Karena itu bisa menyebabkan saham-saham asing itu dilepas. Ketika dilepas saham-saham ini, maka terjadi penawaran yang banyak, kemudian permintaan misalnya tetap dan seterusnya, maka itu menjatuhkan harga," tambahnya.
Lebih lanjut, Nur Alamzah menjelaskan bahwa penjualan saham oleh investor asing juga dapat memicu arus keluar modal atau capital outflow.
Dana hasil penjualan yang dialihkan ke pasar luar negeri berpotensi meningkatkan permintaan terhadap mata uang asing dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Dan cash out flow itu bisa terjadi ketika orang asing menjual saham-saham ini, maka mereka akan membelikan saham di luar sana dengan menukar dari rupiah menjadi paluta asing," tuturnya.
"Dan seterusnya maka beberapa kejadian atau beberapa efek yang bisa timbul ya akibat dari standalone ini. Yang pertama bisa menyebabkan harga saham kita anjlog, kemudian yang kedua bisa terjadi inflasi,” jelas Nur Alamzah.
Potensi pelemahan rupiah juga perlu dicermati karena dapat meningkatkan biaya impor dan berisiko mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.
Meski demikian, dampak terhadap inflasi tidak terjadi secara otomatis, melainkan bergantung pada besarnya tekanan nilai tukar, kondisi ekonomi, serta respons kebijakan yang diambil pemerintah dan otoritas terkait.
Karena itu, perkembangan klasifikasi pasar modal Indonesia perlu dicermati untuk mengantisipasi potensi dampaknya terhadap arus investasi, stabilitas pasar saham, dan perekonomian nasional.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas), Dr Nur Alamzah SE MSi usai tampil dalam program Econotalks di Studio Unhas TV, Jumat (23/10/2026). Wacana Indonesia menjadi standalone market menjadi perhatian karena dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasar modal nasional. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)


 Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr Sinta Dewi Sugiharti Tikson SE MMgt-300x198.webp)



-300x175.webp)

