BANTAENG, UNHAS.TV - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pertanian dan Teknologi Tepat Guna Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan olahan dodol labu kuning kepada warga Desa Bonto Daeng, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan di Kantor Desa Bonto Daeng itu dirancang untuk mendorong pemanfaatan hasil pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang usaha rumah tangga.
Program tersebut dilaksanakan mahasiswa KKN-T Posko 2 Desa Bonto Daeng melalui sosialisasi dan demonstrasi pembuatan dodol labu kuning.
Pemerintah desa, Tim Penggerak PKK, kader Posyandu, anggota majelis taklim, serta warga mengikuti rangkaian kegiatan sejak sesi pembukaan hingga praktik pengolahan dan pengemasan.
Selin Simarmata, mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Hasanuddin, menjadi pemateri dalam kegiatan itu.
Ia lebih dulu mengajak peserta memetakan cara pemanfaatan labu kuning yang selama ini dikenal masyarakat. Sebagian peserta menyebut komoditas tersebut umumnya diolah menjadi sayur, kolak, bubur, atau kue.
Dari diskusi itu, Selin menawarkan dodol labu kuning sebagai bentuk diversifikasi pangan. Menurut dia, pengolahan dapat memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas yang mudah rusak setelah dipanen. Labu kuning juga relatif mudah dibudidayakan dan tersedia di lingkungan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Selin menjelaskan kandungan gizi labu kuning, antara lain beta-karoten sebagai sumber vitamin A, vitamin C, serat, karbohidrat, dan sejumlah mineral.
Namun, pemanfaatannya masih terbatas sehingga harga jualnya cenderung rendah ketika hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.
Dodol dipilih karena proses pembuatannya dapat dilakukan dengan peralatan rumah tangga dan bahan yang mudah diperoleh.
Produk itu juga memiliki warna kuning alami tanpa pewarna sintetis, tekstur kenyal, serta rasa manis dan gurih. Karakter tersebut dinilai cocok dikembangkan sebagai pangan olahan skala rumah tangga.
Fungsi Setiap Bahan
Peserta diperkenalkan pada bahan utama berupa labu kuning, tepung ketan, tepung beras, gula pasir, santan, garam, dan vanili.
Selin juga menjelaskan fungsi setiap bahan dalam membentuk tekstur, aroma, rasa, dan mutu produk. Peralatan pengolahan, mulai dari alat pengupas hingga wadah pengemasan, turut ditunjukkan kepada peserta.
Demonstrasi dimulai dengan menyiapkan dan mengukus labu kuning. Daging labu yang telah lunak kemudian dihaluskan menjadi puree sebelum dicampur dengan bahan lain.
Adonan dimasak sambil terus diaduk hingga mengental dan mencapai tekstur kenyal, lalu dicetak, didinginkan, dipotong, dan dikemas.
Selain aspek produksi, mahasiswa menekankan perlunya pencatatan resep, standar ukuran bahan, kebersihan alat, dan pemilihan kemasan yang mampu melindungi produk. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga mutu dodol tetap seragam apabila produksi dilakukan berulang.
Peserta juga diajak melihat peluang pemasaran melalui kegiatan desa, toko lokal, serta media sosial. Dengan pengelolaan yang konsisten, produk sederhana tersebut dinilai memiliki kesempatan masuk ke pasar yang lebih luas dan menjadi pilihan oleh-oleh khas Bantaeng.
Warga memperhatikan setiap tahap dan mengajukan pertanyaan mengenai teknik pemasakan, ketahanan produk, kemasan, serta peluang pemasaran. Diskusi juga menyentuh pentingnya konsistensi rasa dan kebersihan proses produksi apabila dodol akan dipasarkan secara lebih luas.
Kepala Desa Bonto Daeng mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan pengolahan hasil pertanian dapat menambah keterampilan dan kreativitas warga, terutama anggota Tim Penggerak PKK.
“Kegiatan ini sangat bagus sebagai pelatihan bagi ibu-ibu PKK dan dapat menjadi peluang usaha skala rumah tangga,” kata Kepala Desa Bonto Daeng.
Ia berharap dodol labu kuning dapat diproduksi secara berkelanjutan, berkembang menjadi produk UMKM, dan kelak dikenal sebagai salah satu produk khas desa.
Mahasiswa KKN-T berharap pelatihan itu tidak berhenti pada demonstrasi. Warga didorong untuk mencoba produksi dalam skala kecil, menghitung biaya, menyusun kemasan yang menarik, dan menguji pasar.
Pendampingan lanjutan dinilai penting agar gagasan tersebut dapat tumbuh menjadi usaha yang bertahan.
Program ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa Universitas Hasanuddin dalam pengembangan inovasi pangan berbasis potensi desa.
Melalui pengolahan sederhana, labu kuning yang sebelumnya bernilai jual terbatas diharapkan dapat memberi tambahan pendapatan keluarga serta memperkuat kegiatan ekonomi lokal di Desa Bonto Daeng. (*)
DODOL LABU - Mahasiswa KKN-T Unhas bersama pemerintah desa dan warga berfoto usai sosialisasi serta demonstrasi pembuatan dodol labu kuning di Bonto Daeng, 17 Juli 2026. (Dok KKN Tematik Unhas)

-300x169.webp)






