MAKASSAR, UNHAS.TV - Menempuh pendidikan tinggi jauh dari kampung halaman menjadi pengalaman penuh tantangan bagi sebagian mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas).
Di balik aktivitas perkuliahan dan kehidupan kampus, mahasiswa perantau harus menghadapi berbagai perubahan, mulai dari rasa rindu keluarga, kesepian di kamar kos, hingga tuntutan mengurus kebutuhan sehari-hari secara mandiri.
Pengalaman tersebut dirasakan sejumlah mahasiswa angkatan 2025 dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan Unhas.
Bagi mereka, merantau bukan sekadar berpindah tempat tinggal untuk menempuh pendidikan, melainkan juga proses menyesuaikan diri dengan kehidupan tanpa kehadiran keluarga secara langsung.
Kanaya Maesya, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan asal Luwu Timur, mengaku salah satu perubahan paling terasa sejak tinggal di Makassar adalah suasana tempat tinggal yang berbeda dengan rumahnya.
“Salah satunya itu pertama, sunyi. Kalau di rumah kan ramai. Ini sunyi sendiri. Apa-apa sendiri. Pokoknya serba sendiri,” ungkap Kanaya.
Kondisi serupa dirasakan Kaleb Rissing, mahasiswa Rekayasa Kehutanan yang juga berasal dari Luwu Timur.
Ia mengaku harus membiasakan diri melakukan berbagai aktivitas tanpa bantuan keluarga, mulai dari menyiapkan makanan hingga menjalani keseharian di tempat tinggalnya.
“Kalau saya sendiri itu kayak masak sendiri, tidur sendiri, sama apa di', kesepian juga, Kak,” ujarnya.
Bagi mahasiswa yang sebelumnya terbiasa tinggal bersama keluarga, perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas sederhana yang dahulu dilakukan bersama orang tua kini harus dijalani secara mandiri.
Revina Pricilia Laiyo, mahasiswa Rekayasa Kehutanan asal Luwu Timur, turut merasakan perubahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama urusan makan.
“Kalau dari saya tuh pasti dari makan. Kalau di rumah kan dimasakkan, kalau di sini harus masak sendiri,” tutur Revina.
Selain harus beradaptasi dengan kehidupan mandiri, kerinduan terhadap keluarga atau homesick menjadi pengalaman yang cukup berat bagi sebagian mahasiswa perantau.
Muhammad Adrian, mahasiswa angkatan 2025 Fakultas Pertanian Unhas, mengaku kesulitan berada jauh dari orang tua. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa rasa rindu tersebut terkadang membuatnya menangis saat berada di kos.
“Kalau saya, Kak, homesick, Kak. Enggak bisa jauh dari keluarga,” ungkap Adrian.
Pengalaman serupa disampaikan Salwa Atikah Putri, mahasiswa Rekayasa Kehutanan asal Luwu Timur. Menurutnya, kehadiran orang tua memiliki arti penting, terutama ketika sedang menghadapi masalah atau berada dalam kondisi kurang sehat.

Mahasiswa Prodi Ilmu Tanah Unhas, Muhammad Faidil dan Muhammad Adrian. (Unhas TV/Kautsar Ardiansyah)
Salwa mengaku merindukan kesempatan untuk bercerita langsung kepada orang tuanya. Baginya, keluarga bukan hanya tempat menyampaikan keluh kesah, tetapi juga sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan.
“Paling kangen rumah, kadang juga kalau lagi sakit atau kayak lagi banyak pikiran, kan enggak mungkin teman-temanku bisa dengar ceritaku. Tapi kalau untuk orang tuaku pasti dia bisa kasih solusi, bisa tenangkan begitu, bukan hanya sekadar didengarkan,” jelas Salwa.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa tantangan mahasiswa perantau tidak selalu berkaitan dengan aktivitas akademik. Kebutuhan akan dukungan emosional dan kehadiran keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses penyesuaian diri selama kuliah.
Di samping menghadapi rasa rindu rumah, mahasiswa perantau juga dituntut menyesuaikan waktu dan pengeluaran dengan aktivitas perkuliahan.
Muhammad Faidil, mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2025, mengaku kesibukan kuliah dan aktivitas bersama teman terkadang membuatnya lupa membatasi pengeluaran.
“Kalau saya sendiri itu kalau sibuk gitu tuh, Kak, apalagi sering ngumpul sama teman, sibuk kuliah, pasti kayak untuk hemat itu kayak lupa mi. Kayak mau terus beli ini, beli itu, makan juga di luar terus karena dihadapkan dengan kesibukan, Kak,” ungkap Faidil.
Faidil menjelaskan bahwa kebutuhan sehari-harinya dipenuhi melalui bantuan orang tua dan beasiswa.
Ia memanfaatkan dana beasiswa untuk pendidikan, sedangkan uang dari orang tua digunakan untuk kebutuhan makan. Dalam seminggu, pengeluarannya paling sedikit sekitar Rp200 ribu, termasuk untuk makan, transportasi, dan kuota internet.
Bantuan Beasiswa untuk Bayar Kuliah
Sementara itu, Adrian menerapkan pembagian sumber dana yang hampir serupa. Bantuan beasiswa dimanfaatkan untuk menunjang perkuliahan, sedangkan kiriman orang tua digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Ia menyebut pengeluarannya pada hari-hari biasa sekitar Rp200 ribu per minggu. Namun, jumlah tersebut dapat meningkat hingga sekitar Rp400 ribu ketika kebutuhan tugas praktikum sedang banyak.
Berbeda dengan keduanya, sejumlah mahasiswa Rekayasa Kehutanan asal Luwu Timur mengakui bahwa mengelola pengeluaran masih menjadi tantangan selama tinggal di perantauan.
Kanaya, misalnya, secara terbuka mengaku masih sering boros. Sementara itu, Revina dan Kaleb menceritakan kebiasaan mereka dalam memenuhi kebutuhan makan, mulai dari memasak sendiri hingga makan bersama teman.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa kehidupan mahasiswa rantau juga menuntut kemampuan mengatur waktu, menyesuaikan kebiasaan, dan menentukan prioritas di tengah aktivitas perkuliahan.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, para mahasiswa tetap berusaha menjalani kehidupan perkuliahan jauh dari kampung halaman.
Bagi Kanaya, Revina, Salwa, dan Kaleb, pengalaman merantau dari Luwu Timur ke Makassar menjadi kesempatan untuk belajar menghadapi berbagai persoalan secara mandiri, meskipun rasa rindu terhadap keluarga masih sering muncul.
Salwa pun mengingatkan sesama mahasiswa perantau agar selalu menjaga diri selama berada jauh dari orang tua.
“Untuk saya dan teman-teman semua yang lagi merantau, yang baru merantau atau yang kemarin merantau, jaga diri saja,” pesannya.
Sementara itu, Faidil dan Adrian menyampaikan pesan agar mahasiswa tidak melupakan pentingnya mengelola pengeluaran selama menjalani kehidupan di perantauan. “Tetap hemat dan jangan lupa menabung!” seru keduanya.
Melalui berbagai pengalaman tersebut, kehidupan mahasiswa rantau memperlihatkan sisi lain dari perjalanan menempuh pendidikan tinggi. Di balik kesibukan kuliah, mereka juga belajar menghadapi kesepian, mengelola kebutuhan sendiri, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Dengan semangat yang sama, keempat mahasiswa Rekayasa Kehutanan asal Luwu Timur menutup perbincangan dengan pesan bagi sesama mahasiswa yang tengah berjuang jauh dari keluarga. “Semangat! Semangat kuliah, guys!” seru mereka bersama.
(Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)
Mahasiswa Prodi Rekayasa Kehutanan Unhas 2025, Kanaya Maesya, Revina Pricilia Laiyo, Salwa Atikah Putri, Kaleb Rissing. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)








