Opini

Jejak Ekologi Transenden dalam Kearifan Imam Ali bin Abi Thalib



Menjaga lingkungan tidak hanya sebatas kewajiban sosial, tetapi juga jalan jihad untuk mendekatkan diri kepada Allah. Credit: Freepik.
Menjaga lingkungan tidak hanya sebatas kewajiban sosial, tetapi juga jalan jihad bagi setiap orang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Credit: Freepik.


Ekologi transenden, juga ekologi transpersonal menekankan perlunya melampaui ego manusia untuk menyatu dengan alam. Ini bukan sekadar pendekatan ilmiah, melainkan pendekatan spiritual yang menempatkan kesadaran ekologis sebagai bagian dari kesadaran diri.

Imam Ali, dengan spiritualitas yang mendalam, telah mengajarkan hal ini lebih dari seribu tahun yang lalu. Dalam doa-doanya, beliau merenungi langit, menyatu dengan semesta, dan merendahkan dirinya di hadapan ciptaan Tuhan. Hubungan beliau dengan alam bukan hubungan dominasi, tetapi hubungan kasih dan penghambaan.

Dalam tindakan-tindakannya pun, Imam Ali mencontohkan prinsip ini. Ia tidak pernah mengambil lebih dari yang ia butuhkan, tidak pernah membebani tanah lebih dari kemampuannya, dan senantiasa memperhatikan hak binatang, air, dan tanah.

Ia menolak kerakusan, bahkan pernah berkata bahwa seandainya dunia seisinya ditawarkan kepadanya untuk menzalimi seekor semut, ia tidak akan melakukannya. Ini bukan sekadar sikap pribadi, tapi prinsip keadilan ekologis yang mendalam.

Pemikiran seperti ini sangat relevan dalam menghadapi krisis lingkungan saat ini. Ketika manusia terus mengeksploitasi alam atas nama kemajuan, ajaran Imam Ali mengingatkan bahwa hubungan kita dengan bumi dan komponen alam semesta yang lain bukanlah hubungan pemilik dan milik, melainkan hubungan antara ciptaan yang setara.

Keberlangsungan hidup manusia bergantung pada penghormatan terhadap kehidupan makhluk lainnya.

Ekologi transenden juga menolak gagasan bahwa alam hanya bernilai sejauh ia berguna bagi manusia. Imam Ali menegaskan bahwa nilai makhluk terletak pada kenyataan bahwa ia diciptakan oleh Tuhan. Maka, setiap bentuk kehidupan, sekecil apa pun, layak dihormati bukan karena manfaatnya, tetapi karena ia adalah bagian dari kehendak Ilahi.

Kita sering mengira bahwa konsep-konsep ini baru muncul di era modern, padahal akar spiritualnya telah ditanam oleh para wali dan nabi jauh sebelumnya dan ia menjadi akar gerakan nubuwah sepanjang sejarah.

Imam Ali adalah salah satu dari sedikit tokoh dalam sejarah manusia yang tidak hanya memahami struktur langit dan bumi, tetapi juga menjadikannya pedoman hidup yang adil, lembut, dan penuh kasih.

Sebagai masyarakat yang tengah mencari paradigma baru untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim, penggundulan hutan, pencemaran perairan, dan ketimpangan ekologi, kita sepatutnya menengok kembali warisan spiritual yang telah ada dalam khazanah gerakan nubuwah. Kearifan Imam Ali memberi kita landasan moral yang kokoh dan menyentuh akar persoalan: bahwa krisis ekologi bukan hanya soal teknologi, tapi soal cara pandang dan cara hidup manusia di muka bumi.

Imam Ali telah menunjukkan bahwa mencintai ciptaan berarti mencintai Sang Pencipta. Bahwa menjaga bumi berarti menjaga amanah Ilahi. Dan bahwa keadilan tidak sempurna jika tidak mencakup alam semesta.

Inilah jejak ekologi transenden dalam Islam — jejak yang menuntun kita untuk hidup lebih sadar, lebih lembut, dan lebih terhubung dengan seluruh ciptaan Tuhan.

       Kenangan atas syahidnya Imam Ali bin abu Thalib di bulan Ramadhan

                                                                                 

Tamalanrea mas, 23 Maret 2025

*Penulis adalah Guru Besar Universitas Hasanuddin