Lingkungan
Makassar

Jelajah Sampah Manggala, dari Inovasi Sentra Tukar Sampah hingga Talkshow Persampahan

JELAJAH SAMPAH - Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar Melinda Aksa hadir dalam kegiatan bertajuk Jelajah Sampah, Minggu (12/7/2026) pagi. Warga diajak berolahraga dan memungut sampah yang berserakan di sepanjang rute. (Dok Pemkot Makassar)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Warga berjalan berombongan menyusuri sejumlah ruas jalan di Kecamatan Manggala sambil membawa kantong sampah.

Dalam kegiatan bertajuk Jelajah Sampah, Minggu (12/7/2026) pagi, mereka tidak sekadar berolahraga, tetapi juga memungut sampah yang berserakan di sepanjang rute. Aktivitas ini sebagai bagian dari gerakan menuju Makassar Bebas Sampah 2029.

Aksi plogging itu mengumpulkan sekitar 17 kilogram sampah. Sebanyak 13,8 kilogram merupakan sampah anorganik, dua kilogram sampah organik, dan satu kilogram lainnya berupa residu.

Sampah tersebut kemudian dipilah berdasarkan jenisnya agar dapat ditangani sesuai karakteristik masing-masing.

Kegiatan yang dibuka Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kita Makassar Melinda Aksa itu tidak berhenti pada aksi bersih-bersih.

Penyelenggara juga meluncurkan Sentra Tukar Sampah Kecamatan Manggala sebagai fasilitas baru pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Menuju Makassar Bebas Sampah 2029, ayo semuanya membersihkan sampah yang ada di sekitar kita. Dan jika sudah terkumpul, dapat dipilah untuk kemudian ditukar di sentra sampah," ujar Melinda Aksa.

Sentra tersebut dirancang untuk mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat ditukarkan atau disalurkan untuk proses daur ulang.

Konsep ini diharapkan memperkuat ekonomi sirkular sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Rangkaian Jelajah Sampah juga diisi dengan kelas edukasi pengolahan sampah organik. Warga mengikuti kelas pembuatan lubang biopori dan kompos, budidaya maggot, serta pengolahan sisa kulit buah dan sayur menjadi eco-enzyme.

Melalui kelas tersebut, masyarakat diperkenalkan pada cara sederhana mengolah sampah rumah tangga.

Biopori dapat membantu penyerapan air dan pembuatan kompos, sedangkan maggot dapat mengurai sampah organik dengan cepat serta menghasilkan nilai ekonomi.

Kegiatan ditutup dengan Talkshow Persampahan yang menghadirkan anggota Dewan Lingkungan Hidup, Mashud Azikin, dan Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya Pusat Pengendalian Dampak Lingkungan Sulawesi dan Maluku Kementerian Lingkungan Hidup, Ellyyana Said.



JELAJAH SAMPAH - Sejumlah warga mengumpulkan sampah dari hasil yang dipungut di pinggir jalan yang menjadi rute kegiatan Jelajah Sampah, Kecamatan Manggala, Makassar, Minggu (12/7/2026) pagi. Warga diajak berolahraga dan memungut sampah yang berserakan di sepanjang rute. (Dok Pemkot Makassar)


Dalam diskusi itu, kedua narasumber menekankan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan seremonial.

Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan lembaga pendidikan harus bergerak bersama, mulai dari pemilahan di rumah hingga penguatan kebijakan.

"Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini tanggung jawab bersama dan utamanya adalah dari rumah tangga. Untuk itu pengelolaan sampah bisa dimulai dari rumah, dengan memilah organik dan nonorganik," ujar Ellyyana Said. 

Jelajah Sampah Manggala menjadi upaya menghubungkan aksi lapangan, inovasi pengelolaan, dan edukasi publik dalam satu gerakan. Target Makassar bebas sampah masih panjang. Namun, langkahnya mulai dibangun dari tingkat kecamatan. (*)