TAKALAR,UNHAS.TV — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Literasi Universitas Hasanuddin Gelombang 116 mengajak siswa sekolah dasar menjelajahi dunia buku melalui program Jelajah Literasi Anak Takalar (Jelita) di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kana Baji, Desa Bontokanang, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan tersebut mengubah taman bacaan menjadi laboratorium literasi yang mempertemukan anak-anak dengan buku melalui membaca nyaring, mendengarkan cerita, memainkan permainan edukatif, mendiskusikan bacaan, dan mengolah isi cerita menjadi pengalaman nyata.
Siswa kelas rendah sekolah dasar yang hadir bersama guru pendamping tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga diajak memilih, membuka, mengamati ilustrasi, membaca, dan menceritakan kembali koleksi buku bermutu yang tersedia di TBM Kana Baji.
Penanggung jawab program Jelita, Afifah Khairunnisa, mengatakan kegiatan itu dirancang untuk memperkenalkan perpustakaan desa sebagai ruang belajar yang terbuka, ramah anak, dan menyenangkan, bukan sekadar bangunan tempat menyimpan buku.
“Banyak anak yang sebenarnya belum terbiasa datang ke perpustakaan desa, sehingga melalui kunjungan ini kami ingin mereka mengenal bahwa perpustakaan dapat menjadi tempat bermain sambil belajar,” ujar Afifah.
Pendekatan interaktif dipilih karena pengalaman membaca pada usia awal akan terasa lebih bermakna ketika anak tidak hanya berhadapan dengan rangkaian kata, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mendengar, bertanya, berimajinasi, bergerak, dan menciptakan sesuatu berdasarkan isi bacaan.
Melalui sesi membaca nyaring dan bercerita, mahasiswa melatih kemampuan siswa dalam menyimak, memahami jalan cerita, mengenali kosakata baru, serta menghubungkan pesan buku dengan kehidupan sehari-hari.
Permainan ringan berbasis literasi kemudian membuat proses belajar berlangsung tanpa tekanan, sementara pameran buku memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menemukan bacaan yang sesuai dengan rasa ingin tahu mereka.
Ketika Cerita Keluar dari Halaman Buku
Puncak kegiatan berlangsung ketika para siswa mengerjakan proyek berbasis buku dengan membuat es timun serut setelah membaca kisah Maimun si Raja Timun.
Cerita yang semula hadir melalui teks dan ilustrasi itu kemudian menjelma menjadi pengalaman multisensori saat anak-anak mengenali bahan, mengikuti tahapan pembuatan, bekerja bersama, dan menikmati hasil olahan mereka dengan penuh antusias.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa buku dapat menjadi pintu masuk menuju pembelajaran kontekstual yang memadukan kemampuan membaca, komunikasi, kreativitas, kerja sama, dan kecakapan mengikuti petunjuk.
Model pembelajaran berbasis bacaan seperti ini juga membantu anak memahami bahwa membaca bukan kegiatan yang terpisah dari kehidupan, melainkan sarana untuk memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan secara langsung.
Pengelola TBM Kana Baji menilai kehadiran program Jelita turut menghidupkan kembali fungsi taman bacaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat, terutama bagi anak-anak yang sebelumnya belum rutin memanfaatkan koleksi buku di tempat tersebut.
Kegiatan ini melanjutkan agenda penguatan literasi yang telah diperkenalkan KKN-T Literasi Unhas di Bontokanang sejak Juli 2026, dengan TBM Kana Baji ditempatkan sebagai salah satu pusat kegiatan belajar masyarakat desa. KKN Unhas
Menguatkan Ekosistem Membaca dari Desa
Program Jelita menjadi relevan karena pembangunan budaya baca tidak cukup hanya dengan menyediakan koleksi, tetapi juga memerlukan kegiatan pendampingan yang mempertemukan buku dengan pembaca secara rutin dan menyenangkan.
Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Indonesia meningkat dari 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024, sedangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat tumbuh dari 61,55 menjadi 73,52 dalam periode yang sama. Perpustakaan Nasional RI
Namun, peningkatan angka nasional itu tetap membutuhkan penguatan di tingkat lokal, sebab akses terhadap buku belum otomatis melahirkan kebiasaan membaca apabila perpustakaan tidak memiliki kegiatan kreatif, pendamping, dan hubungan yang kuat dengan sekolah serta keluarga.
Kehadiran mahasiswa KKN-T Literasi Unhas karena itu tidak berhenti pada penyelenggaraan acara sehari, tetapi diarahkan untuk mempertemukan siswa, guru, pengelola taman bacaan, dan masyarakat dalam satu ekosistem literasi desa.
Afifah berharap pengalaman menyenangkan bersama buku dapat mendorong anak-anak kembali mengunjungi TBM Kana Baji, sekaligus menggerakkan guru dan orang tua untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang berkelanjutan.
Melalui Jelita, mahasiswa Unhas menunjukkan bahwa perubahan besar dalam budaya literasi dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni membuka pintu perpustakaan, membacakan sebuah cerita, lalu memberi ruang kepada anak untuk mengubah cerita tersebut menjadi pengetahuan dan pengalaman.(*)
Mahasiswa KKN-T Literasi Unhas mendampingi siswa menjelajahi buku melalui program Jelita di Bontokanang, Takalar. (foto: Dok.Pribadi).


-300x169.webp)



-300x180.webp)

