News

JK di Kampus Amerika: Transisi Energi Hijau Tak Mudah

undefined

UNHAS.TV - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) menegaskan transisi menuju energi hijau tidak bisa dilakukan secara sederhana. Ketergantungan manusia terhadap energi terus meningkat, sementara setiap sumber energi terbarukan memiliki keterbatasan yang harus diperhitungkan.

Jusuf Kalla menyampaikan hal itu pada rangkaian Vice President Kalla Lecture Series di Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Illinois, Amerika Serikat, Selasa pagi, 20 Oktober 2026, waktu setempat. Kuliah bertajuk "Making the Green Transition Work: Industry, Technology, and Jobs in Indonesia’s Political Economy” itu diikuti sekitar 100 mahasiswa di LaTourette Hall.

"Sekarang ini, hampir tidak ada aspek kehidupan manusia yang tidak membutuhkan energi. Gaya hidup kita sudah berubah. Mengocok telur, menyikat gigi, hingga menggunakan telepon genggam kini banyak yang bergantung pada teknologi dan listrik," ujar JK.

Menurut JK, perubahan gaya hidup tersebut membuat kebutuhan energi terus meningkat. Energi yang selama ini banyak digunakan masih bersumber dari bahan bakar fosil, seperti batu bara dan diesel, yang persediaannya terbatas serta menghasilkan polusi.

"Karena itu, kita harus beralih ke energi yang lebih bersih. Tetapi transisi energi tidak mudah, sebab setiap sumber energi memiliki tantangan teknis dan keterbatasan masing-masing," katanya sebagaimana siaran pers yang diterima Unhas TV.

Tantangan Sumber Energi Hijau

JK menjelaskan, perubahan iklim turut mempersulit pengembangan energi terbarukan. Kekeringan, misalnya, dapat menurunkan debit air sungai dan bendungan sehingga memengaruhi kemampuan pembangkit listrik tenaga air atau hydropower dalam menghasilkan listrik.

Energi angin juga tidak dapat dikembangkan secara optimal di semua wilayah karena membutuhkan kondisi angin yang memadai dan relatif konsisten. Adapun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menghadapi tantangan kebutuhan lahan, durasi penyinaran matahari, serta kondisi cuaca. Menurut paparan JK, kebutuhan lahan dan efektivitas panel surya perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi serta skala pengembangan pembangkit.

"Energi surya juga bergantung pada kondisi alam. Ketika cuaca mendung atau hujan, produksi listrik menurun. Karena itu, kita harus memperhitungkan teknologi, ketersediaan lahan, dan kondisi setiap wilayah,” ujar JK.

Ia menekankan bahwa tidak ada satu jenis energi yang dapat menjawab seluruh kebutuhan secara optimal. Oleh karena itu, selama masa transisi, Indonesia perlu mengombinasikan berbagai sumber energi sesuai potensi dan karakteristik wilayahnya.

Selain aspek teknologi, JK menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pengembangan energi baru dan terbarukan.

Menurut dia, transisi energi membutuhkan dukungan dunia usaha agar pengembangan sumber energi bersih dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan masyarakat maupun industri.

Ia menilai keterlibatan investor nasional menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung target kemandirian energi Indonesia, sejalan dengan program pemerintah.

Kuliah transisi energi hijau ini sekaligus menjadi sesi terakhir rangkaian Vice President Kalla Lecture Series di NIU yang berlangsung pada 13–20 Oktober 2026. Selama rangkaian tersebut, JK membahas berbagai isu, mulai dari otonomi daerah dan dinamika politik Indonesia hingga penyelesaian konflik, pembangunan perdamaian, dan transisi menuju ekonomi hijau.(*)