Nasional

Jusuf Kalla: Bukti Pentingnya Penguasaan Teknologi untuk Negara Islam

IRAN - Jusuf Kalla di UIN Syarif Hidayatullah, Tangsel, nRabu (24/6/2026). Jusuf Kalla menekankan pentingnya negara Islam menguasai teknologi. Foto: Humas JK

TANGERANG SELATAN, UNHAS.TV - Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla (JK) menilai kemampuan Iran bertahan menghadapi tekanan militer Amerika Serikat dan Israel menjadi bukti pentingnya penguasaan teknologi bagi negara-negara Islam.

JK menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci pada International Seminar and The 15th Annual General Meeting bertajuk "Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development" di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (24/6/2026).

Menurut JK, konflik yang melibatkan Iran menjadi salah satu contoh penting dalam melihat tantangan perdamaian dan kepemimpinan dunia Islam saat ini.

"Iran mengejutkan dunia. Tidak ada yang menyangka mereka memiliki kemampuan teknologi yang mampu membuat negara itu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel," kata JK, sebagaimana siaran pers Jusuf Kalla ke Unhas TV.

Ia menilai kekuatan utama Iran bukan semata-mata persenjataan, melainkan kemampuan teknologi yang dikembangkan secara konsisten selama bertahun-tahun.

"Yang memenangkan adalah teknologi dan semangat. Karena itu jika negara-negara Islam ingin maju, harus menguasai teknologi. Agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan seimbang," ujarnya.

JK mengatakan sebagian besar negara Islam masih menghadapi berbagai konflik internal maupun eksternal. Mulai dari perang Iran-Irak, konflik Yaman, Sudan, Suriah, hingga ketegangan Pakistan dan Afghanistan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan Islam dalam membangun perdamaian menghadapi tantangan besar karena banyak negara Islam sendiri masih dilanda konflik berkepanjangan.

"Bagaimana berbicara tentang kepemimpinan Islam untuk perdamaian jika banyak negara Islam masih berkonflik. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab bersama," katanya.

JK juga menyoroti minimnya dukungan negara-negara Islam terhadap Iran ketika menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. "Ketika Amerika menyerang Iran, hampir tidak ada negara Islam lain yang membantu Iran. Ini menunjukkan kompleksitas hubungan politik di kawasan Timur Tengah," ujarnya.

JK juga menegaskan bahwa kemajuan dunia Islam tidak cukup hanya mengandalkan semangat keagamaan, tetapi harus ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kemampuan ekonomi.

Ia mencontohkan tradisi keilmuan Persia yang melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina dan ilmuwan muslim lainnya sebagai fondasi kemajuan peradaban.

"Ilmu pengetahuan adalah budaya yang membuat suatu bangsa kuat. Tanpa teknologi dan ilmu pengetahuan, kemajuan tidak mungkin dicapai," katanya.

Selain membahas konflik Iran, JK juga mengulas berbagai upaya perdamaian yang pernah dilakukannya, mulai dari penyelesaian konflik Aceh, Poso, Ambon hingga keterlibatannya dalam proses perdamaian Afghanistan dan konflik di Thailand Selatan.

Menurut JK, syarat utama menjadi pemimpin perdamaian adalah memiliki sikap netral, memahami akar persoalan secara mendalam, serta mampu menawarkan solusi yang menguntungkan semua pihak.

"Kalau ingin menjadi pemimpin perdamaian, harus netral, memahami masalahnya dengan baik, dan memiliki keberanian untuk menawarkan jalan keluar yang bisa diterima semua pihak," tuturnya.

JK berharap perguruan tinggi Islam dapat menjadi motor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memperkuat nilai-nilai Islam moderat yang mampu berkontribusi bagi perdamaian dunia.(*)