UNHAS.TV - Penyakit itu kerap datang diam-diam. Berawal dari hidung tersumbat, telinga berdenging, atau sakit kepala yang dianggap remeh.
Namun ketika kanker nasofaring akhirnya terdeteksi, tak jarang kondisinya sudah melangkah jauh—menyentuh wilayah yang tak lagi sederhana: mata dan otak.
Di Departemen Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) Gedung A Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin (RSP Unhas), sejumlah pasien datang dengan wajah letih dan tubuh yang kian menyusut.
Kanker nasofaring, keganasan yang tumbuh di bagian belakang rongga hidung, memang dikenal licin. Gejala awalnya samar dan sering tertukar dengan infeksi biasa. Akibatnya, sebagian besar pasien baru mengetahui penyakitnya ketika telah memasuki stadium lanjut.
“Kebanyakan pasien datang sudah pada stadium tiga atau empat,” ujar dr. dr. Nova A. L. Pieter, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. Onko.(K), FICS, dokter spesialis THT–Bedah Kepala Leher sekaligus konsultan onkologi.
Pada fase ini, kanker tak lagi terbatas di nasofaring. Sel-sel ganas dapat menyebar ke kelenjar getah bening, menekan saraf, bahkan merambat ke rongga otak.
Stadium empat menjadi fase paling berat. Pasien umumnya mengalami pembesaran kelenjar getah bening di leher. Namun tanda yang lebih mengkhawatirkan muncul ketika fungsi penglihatan terganggu.
Mata bisa menjadi juling, penglihatan satu sisi menghilang, atau muncul nyeri kepala hebat yang tak tertahankan. “Itu karena massa tumor sudah naik ke otak,” kata Nova.
Rasa nyeri yang terus-menerus membuat pasien sulit tidur. Nafsu makan menurun drastis, berat badan merosot dalam waktu singkat.
Dalam kondisi seperti ini, kualitas hidup pasien jatuh tajam. Terapi yang diberikan pun tidak lagi bertujuan menyembuhkan sepenuhnya.
“Kalau sudah stadium empat, apalagi disertai metastasis, tindakan yang bisa kami lakukan biasanya bersifat paliatif,” ujar Nova. Tujuannya semata-mata meringankan gejala dan memberi kenyamanan.
 FICS, dokter Spesialis THT-Bedah Kepala Leher.webp)
Dr dr Nova AL Pieter SpTHT BKL Subsp Onko (K) FICS, dokter Spesialis THT-Bedah Kepala Leher. (dok unhas tv)
Padahal, cerita akan sangat berbeda jika kanker nasofaring ditemukan lebih dini. Pada stadium awal, peluang keberhasilan terapi jauh lebih besar.
Kombinasi radioterapi dan kemoterapi dapat memberikan hasil yang lebih baik, dengan harapan hidup yang meningkat signifikan. Namun semua itu bergantung pada satu hal krusial: kesadaran untuk memeriksakan diri sejak gejala pertama muncul.
Dokter Nova mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keluhan ringan yang berlangsung lama—hidung tersumbat satu sisi, mimisan berulang, telinga terasa penuh, atau sakit kepala yang tak kunjung hilang.
Gejala-gejala itu bisa menjadi sinyal awal kanker nasofaring, terutama bila muncul tanpa sebab yang jelas.
Kanker ini memang tidak selalu terlihat dari luar. Ia bekerja dalam senyap, merusak perlahan. Ketika mata mulai kehilangan arah pandang dan kepala dipenuhi nyeri, sering kali waktu sudah terlalu jauh berjalan.
Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah penyakit ini berkembang menjadi ancaman yang merenggut bukan hanya kesehatan, tetapi juga harapan hidup.
Bagi para dokter di RSP Unhas, setiap pasien stadium lanjut adalah pengingat keras tentang pentingnya kewaspadaan. Sebab dalam kanker nasofaring, keterlambatan sering kali berarti kehilangan—penglihatan, kualitas hidup, bahkan masa depan itu sendiri.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Ilustrasi Kanker nasofaring. (dok unhas tv)
 AUFO-K-300x169.webp)





 MHPE (2)-300x169.webp)
-300x167.webp)
