MAKASSAR, UNHAS.TV - Kebijakan pembelajaran daring bagi murid TK, SD, dan SMP di Kota Makassar ikut memukul pendapatan pengemudi ojek online.
Berkurangnya aktivitas antar-jemput anak sekolah membuat salah satu sumber utama pesanan harian pengemudi ojol ikut menurun.
Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pendidikan menerapkan pembelajaran daring bagi seluruh murid jenjang TK, SD, dan SMP mulai 12 hingga 19 September 2026. Demikian edaran pembelajaran daring juga dikeluarkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap keterbatasan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang dapat memengaruhi mobilitas murid, guru, tenaga kependidikan, serta orang tua.
Namun, perubahan pola aktivitas masyarakat tersebut berdampak langsung terhadap sektor transportasi daring. Pengemudi ojek online yang selama ini mengandalkan perjalanan antar-jemput anak sekolah mengalami penurunan jumlah pesanan.
Ismail, salah satu pengemudi ojek online di Makassar, mengatakan layanan antar penumpang merupakan salah satu sumber order terbesar selain pengiriman makanan dan barang. Dalam aktivitas sehari-hari, kata dia, anak sekolah menjadi kelompok pengguna jasa yang cukup dominan.
“Order yang paling banyak itu di antara makanan dengan barang, salah satunya adalah penjemputan orang dan mengantar orang. Yang paling banyak diantar itu orang kerja dan anak sekolah, bahkan yang tertinggi adalah anak sekolah,” ujar Ismail.
Menurut dia, berkurangnya aktivitas sekolah tatap muka membuat jumlah perjalanan yang biasanya diterima pengemudi ikut turun. Ia memperkirakan penurunan pesanan yang dialaminya berada pada kisaran 30 persen hingga hampir 50 persen.
Penurunan order tersebut tidak hanya mengurangi jumlah perjalanan, tetapi juga memengaruhi strategi kerja para pengemudi untuk mempertahankan pendapatan harian.
Ismail mengatakan, waktu kerja yang sebelumnya sekitar 10 jam sehari kini harus ditambah agar jumlah pesanan dapat kembali mendekati kondisi normal.
“Karena terdapat penurunan rating order, kami harus menambah jadwal kerja. Sebelumnya minimal 10 jam sehari, sekarang harus di atas 10 jam. Itu membuat kami agak larut pulang ke rumah untuk istirahat,” katanya.
Menurut Ismail, perbedaan jumlah pesanan antara kondisi sekolah tatap muka dan pembelajaran daring cukup terlihat.
Dalam kondisi normal, dengan durasi kerja yang sama, ia dapat menerima sekitar 15 pesanan. Saat sekolah dilakukan secara daring, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 10 pesanan.
Artinya, terdapat selisih sekitar lima perjalanan dalam satu hari. Untuk menutup kehilangan pendapatan tersebut, pengemudi harus memperpanjang waktu kerja di jalan.
Meski merasakan dampak ekonomi dari kebijakan tersebut, Ismail memahami alasan pemerintah menerapkan pembelajaran daring. Ia menilai kebijakan tersebut memiliki tujuan tertentu, terutama untuk menyesuaikan kondisi keterbatasan BBM.
Namun, ia juga menilai pembelajaran tatap muka tetap memiliki peran penting dalam proses pendidikan. Menurut dia, interaksi langsung antara guru dan murid tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh sistem pembelajaran berbasis daring.
“Sekolah daring punya fungsi tersendiri dan sekolah tatap muka juga punya fungsi yang berbeda. Sekolah yang terbaik tetap bertemu dengan gurunya secara langsung,” ujar Ismail.
Ia menilai penggunaan teknologi dalam pendidikan memang membantu proses belajar, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap interaksi langsung di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Makassar menyatakan pelaksanaan pembelajaran daring akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.
Pemerintah akan mempertimbangkan situasi ketersediaan BBM serta kesiapan mobilitas masyarakat sebelum memutuskan penghentian atau perpanjangan kebijakan tersebut.
Jika kondisi dinilai kembali normal, pemerintah akan menyampaikan pemberitahuan terkait pelaksanaan pembelajaran tatap muka.
Bagi pengemudi ojek online, kepastian kebijakan menjadi penting karena aktivitas sekolah menjadi salah satu penggerak utama permintaan layanan transportasi harian.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
DARING - Ismail, salah satu pengemudi ojek online di Makassar yang terdampak order berkurang akibat kebijakan pembelajaran daring. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)
-300x186.webp)







