Makassar
Terkini

Kemarau dan El Nino Tekan Pasokan Sayur di Makassar, Harga Labu Siam hingga Jagung Mulai Naik

PASOKAN SAYUR - Syamsuddin Dg Bonto, salah seorang penjual sayur di Kota Makassar mengaku pasokan sayuran mulai berkurang dan membuat harga naik. (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Musim kemarau yang diperkuat fenomena El Niño mulai memberi tekanan terhadap sektor pertanian. Keterbatasan air dan kondisi cuaca kering menyebabkan sejumlah komoditas mengalami penurunan pasokan.

Dampaknya mulai terlihat di pasar tradisional, ketika harga beberapa macam jenis sayuran dari para petani mengalami kenaikan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Niño yang berlangsung saat ini berada pada intensitas sangat kuat.

Berdasarkan analisis BMKG dasarian kedua September 2026, indeks ENSO rata-rata tiga bulan Juli, Agustus, dan September tercatat sebesar 2,63. Angka tersebut menunjukkan kondisi El Niño dengan kategori sangat kuat.

Kondisi atmosfer yang lebih kering serta curah hujan yang terbatas menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kekeringan meteorologis, termasuk Sulawesi Selatan. Situasi ini berpengaruh terhadap ketersediaan air untuk lahan pertanian, yang kemudian berdampak pada produksi dan distribusi komoditas pangan.

Di tingkat pasar, pedagang mulai merasakan perubahan pasokan sejumlah barang. Syamsuddin Dg Bonto, salah seorang penjual sayur, mengatakan jumlah barang yang masuk ke pasar mengalami penyesuaian akibat kondisi musim.

“Kalau musim ini kekurangan barang, kalau musim yang lalu ya murah-murah sedikit. Begitulah keadaannya di pasar,” ujar Syamsuddin.

Menurut dia, keterbatasan pasokan membuat hampir seluruh komoditas mengalami kenaikan harga. Salah satu contoh adalah labu siam yang mengalami perubahan harga cukup signifikan.

“Dulu labu siam dapat satu setengah, sekarang tiga ribu,” katanya.

Syamsuddin menjelaskan, kenaikan harga tidak selalu terjadi karena barang tidak tersedia. Namun, ketika stok berkurang akibat kondisi cuaca, harga di tingkat pasar ikut menyesuaikan.

“Kalau barangnya ada, tapi barangnya naik,” ujarnya.

Selain sayuran, beberapa komoditas buah juga mengalami peningkatan permintaan masyarakat. Jagung, semangka, dan pepaya menjadi beberapa jenis komoditas yang banyak dicari, terutama saat cuaca panas berlangsung.

Menurut Syamsuddin, masyarakat cenderung mencari buah segar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di tengah suhu udara yang meningkat. Namun, harga tetap bergantung pada kondisi pasokan dan cuaca.

“Jagung, semangka, pepaya, ya sejenis-jenis buah-buahan,” katanya.

Kenaikan harga juga dirasakan oleh konsumen. Indrawati Mochtar, seorang ibu rumah tangga di Makassar, mengatakan kondisi kemarau membuat sejumlah tanaman sulit tumbuh dengan baik. Akibatnya, harga sayuran di pasar ikut meningkat.

“Iya mengalami kenaikan karena cuaca sekarang musim kemarau. Otomatis tanamannya agak kering, jadi susah bagi petani. Makanya mahal,” ujar Indrawati.

Salah satu komoditas yang mengalami perubahan harga menurut Indrawati adalah wortel. Ia mengatakan harga wortel yang sebelumnya sekitar Rp2.000 kini meningkat menjadi sekitar Rp5.000 dengan jumlah yang lebih sedikit.

“Biasanya harga wortel bisa jadi Rp2.000, agak banyak. Sekarang jadi seperti Rp5.000, itu pun sedikit,” katanya.

Kenaikan harga membuat masyarakat mulai mengubah pola belanja. Indrawati mengaku kini membeli sayuran sesuai kebutuhan karena harga yang meningkat.

“Kayaknya seperlunya kita beli sayur. Bagaimanapun mahal, otomatis tetap dibeli, tapi secukupnya,” ujarnya.

Selain wortel, ia juga merasakan kenaikan harga pada sawi hijau. Menurutnya, kondisi kemarau membuat beberapa jenis sayuran lebih sulit tumbuh sehingga jumlah pasokan yang dibawa pedagang ke pasar menjadi berkurang.

“Kayaknya sawi hijau, karena mungkin kemarau jadi tidak mudah tumbuh. Makanya mahal, pedagang juga kurang membawa sayur sawi hijau,” kata Indrawati.

Bagi masyarakat, kenaikan harga sayuran menjadi persoalan karena komoditas tersebut merupakan kebutuhan pangan sehari-hari. Konsumen akhirnya harus menghemat pembelian agar tetap dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Cukup besar dampaknya, karena sayur kebutuhan kita sehari-hari. Tapi mahal, jadi kita harus batasi, yang penting tetap makan sayur,” ujarnya.

Indrawati berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi petani, terutama dalam menjaga produksi dan pasokan komoditas pangan.

“Saya harap pemerintah bisa meninjau kembali para petani supaya pemasokannya banyak. Jadi kami sebagai pembeli mudah mendapatkan sayuran dan harganya murah,” katanya.

BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026-2027 di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal klimatologinya.

Sebagian besar wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026, sementara sebagian besar wilayah Sulawesi diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi sektor pertanian karena ketersediaan air dan perubahan pola cuaca dapat mempengaruhi produksi serta pasokan komoditas. Di sisi konsumen, masyarakat masih harus menyesuaikan pola konsumsi dan belanja selama kondisi kemarau berlangsung.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)