Kesehatan
News

Kenali Kejang Epilepsi dan Pertolongan Pertama yang Tepat, Jangan Stigma Air Liur Menular

Dokter Spesialis Saraf, Konsultan Epilepsi dan Neurofisiologi Klinis, Dr dr Lilian Triana Limoa SpN Subsp ENK (K) MPd Ked. (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kejang yang terjadi tiba-tiba kerap membuat panik orang di sekitarnya. Tak jarang, penderita justru dijauhi karena masyarakat masih menganggap air liur saat kejang dapat menular.

Stigma ini, menurut para dokter, keliru dan justru membahayakan karena menghambat pertolongan pertama yang seharusnya diberikan.

Dokter Spesialis Saraf, Konsultan Epilepsi dan Neurofisiologi Klinis, Dr dr Lilian Triana Limoa SpN Subsp ENK (K) MPd Ked menjelaskan bahwa kejang tidak selalu berarti epilepsi.

Untuk memastikannya, dokter perlu menilai bentuk bangkitan yang terjadi, dibantu pemeriksaan penunjang seperti rekam otak (EEG), serta CT scan atau MRI bila diperlukan.

"Pasien-pasien atau penderita epilepsi kita harus pastikan dulu apakah pada saat dia kejang, itu betulan kejang, betulan seizure, atau bukan," ujar Lilian dalam acara media gathering di Aston Makassar Hotel and Convention Center, 15 Agustus 2026.

"Karena banyak juga kondisi-kondisi psikis tertentu yang membuat orang menyerupai kejang tapi sebenarnya dia tidak kejang," lanjutnya.

Menurut Lilian, informasi dari orang yang menyaksikan atau rekaman video saat kejang terjadi sangat membantu dokter membedakan kejang epilepsi dengan kondisi lain yang menyerupai bangkitan.

"Yang paling gampang, misalnya pasiennya kejang menutup mata, mata tidak mendelik, seringkali lidah tergigit tapi tergigitnya di bagian depan," tambah Lilian.

"Itu perlu kita pikirkan, jangan sampai pasiennya tidak kejang, maksudnya itu hanya suatu pseudoseizure atau yang mirip bangkitan, tapi bukan bangkitan dari otak, misalnya dari psikis atau dari kondisi-kondisi stressor yang berat," jelasnya.

Saat menemukan orang yang sedang kejang, masyarakat diimbau tidak panik dan tidak menjauhi penderita.

"Air liur tidak menular karena penyebab kejang itu bukan infeksi, bukan suatu kuman. Jadi stigma di masyarakat apabila ada pasien kejang atau pasien bangkitan malah dijauhi karena takut dengan air liur, itu jangan lagi dilakukan," tegas Lilian.

Tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah memiringkan kepala penderita agar air liur tidak masuk ke saluran pernapasan.

"Kepala dimiringkan agar tidak keselek. Yang kedua, jauhkan kepala dari benturan karena yang sering menyebabkan cedera pada pasien dengan kejang, itu karena dia jatuh dari ketinggian atau terbentur meja. Bukan terbentur atau jatuhnya yang membuat dia kejang, itu yang perlu kita perhatikan," tambahnya.

Lilian juga mengingatkan agar masyarakat tidak menahan tangan atau tubuh penderita untuk menghentikan gerakan kejang. Cukup miringkan kepala dan jauhkan dari benda-benda keras sehingga kepala tidak terbentur atau tangan tidak terluka.

Bagi penderita epilepsi yang telah menjalani pengobatan, penghentian obat tidak boleh dilakukan secara mandiri. Dokter akan menilai kondisi pasien, termasuk lamanya pasien bebas dari bangkitan.

"Masyarakat diimbau tidak memberikan atau menghentikan obat epilepsi secara mandiri. Setiap perubahan dosis hingga penghentian pengobatan perlu dilakukan dengan supervisi dokter agar risiko kekambuhan dapat dihindari," ujar Lilian.

Epilepsi adalah gangguan saraf kronis yang ditandai dengan kecenderungan mengalami kejang berulang. Menurut data WHO, sekitar 50 juta orang di dunia hidup dengan epilepsi, menjadikannya salah satu penyakit saraf paling umum secara global.

Sayangnya, di banyak negara berkembang, stigma sosial masih menjadi penghalang utama bagi penderita untuk mendapatkan perawatan yang layak.

Mengenali kondisi kejang, memberikan pertolongan pertama yang tepat, serta menghindari stigma menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu penderita epilepsi.

Jika kejang terjadi, utamakan keselamatan penderita dan cari bantuan medis apabila kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Yang pertama ketika kita bertemu tiba-tiba ada orang kejang, jangan dihindari. Malahan kita perlu menolong agar air liur yang keluar itu tidak masuk ke paru-paru atau tidak keselak," pesan Lilian mengakhiri.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)