Internasional

Khaleda Zia, Perempuan Pertama yang Jadi Perdana Menteri Bangladesh, Wafat

WAFAT - Mantan Perdana Menteri Bangladeh Khaleda Zia, wafat pada usia 80 tahun.

MAKASSAR, UNHAS.TV - Perempuan pertama yang menjadi Perdana Menteri Bangladesh, Khalleda Zia, wafat pada usia 80 tahun setelah sekian tahun dirawat karena sakit.

"Inna lillahi wa inna ilaihi ra'jiuun. Pemimpin kebanggaan kami tidak lagi bersama kami. Beliau meninggal pada Selasa pagi," demikian pernyataan resmi Partai Nasionalis Bangladesh melalui akun Facebook, Selasa (20/12/2025).

Dokter yang merawatnya menyebutkan pada Senin kemarin, Khaleda sudah dalam keadaan sangat kritis. Sejumlah peralatan penunjang telah dipasang namun kondisi tubuhnya sudah tak sanggup menghadapi serangan sakit.

Sesaat setelah kabar duka itu tersebar, kerumunan penggemar Khaleda terlihat di luar Rumah Sakit Evercare di Dhaka, Bangladesh. Polisi tampak kesulitan untuk menyuruh mundur pada pendukung Khaleda agar tidak berada di halaman rumah sakit.

Zia menjadi perdana menteri pada tahun 1991 ketika partai yang dipimpinnya, Partai Nasionalis Bangladesh (PNB), memenangkan pemilihan demokrasi pertama di negeri itu. PNB ini adalah partai yang didirikan oleh suaminya, Ziaur Rahman, yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Bangladesh.

Khaleda menjadi perdana menteri sejak 1991 hingga 1996 lalu kembali terpilih untuk masa jabatan 2001 hingga 2006. Ketertarikannya pada dunia politik muncul seusai Ziaur Rahman dibunuh.

Selama menjadi Perdana Menteri Bangladesh, Zia banyak menghadapi gejolak politik dalam negeri yang seolah tak pernah berhenti. Salah satu pukulan telak mengena kepada dirinya ketika didakwa atas kasus korupsi.

Ia sempat dipenjara lalu dibebaskan pada 2020 atas belas kasihan karena sakit parah yang dideritanya. Keluarganya sempat mengirim surat permohonan kepada Perdana Menteri Sheikh Hasina agar Khaleda diizinkan dirawat di luar negeri, tetapi permintaan itu selalu ditolak.

Barulah ketika mahasiswa dan rakyat berhasil menggulingkan pemerintahan Sheikh Hasina, pemerintahan sementara yang dipimpin peraih Nobel Perdamaian Muhammad Yunus akhirnya mengizinkan Khaleda dibawa ke London pada Januari dan kembali ke Bangladesh pada Mei ini.(*)