Mahasiswa
Makassar

KKN 116 Unhas Ajarkan Sains Urban Farming kepada Siswa SD

Keceriaan siswa kelas V bersama mahasiswa KKN Unhas seusai belajar pertanian perkotaan secara interaktif. (Foto: Dok.Pribadi). Keceriaan siswa kelas V bersama mahasiswa KKN Unhas seusai belajar pertanian perkotaan secara interaktif. (Foto: Dok.Pribadi).

MANDAI,UNHAS.TV — Halaman belakang kelas V UPT SD Inpres Mandai berubah menjadi ruang belajar terbuka ketika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin Angkatan 116 mengajak para siswa mengenal pertanian perkotaan dan mempraktikkan perbanyakan tanaman melalui metode stek, Rabu (5/8/2026).

Di antara tanah, wadah air, dan potongan batang tanaman, anak-anak belajar bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menghasilkan sayuran di lingkungan rumah maupun sekolah.

Program edukasi bertajuk urban farming itu digagas dan dilaksanakan oleh Azzam Asy Syauqi sebagai program kerja individu dengan dukungan sejumlah mahasiswa KKN Unhas Angkatan 116.

Kegiatan dimulai dengan pemaparan Azzam bersama Muh. Daffa Alifsyah mengenai pengertian, manfaat, dampak, dan beragam cara menerapkan pertanian perkotaan.

Dengan bahasa sederhana, keduanya memperkenalkan rooftop farming atau pertanian di atap bangunan, vertical farming dengan susunan tanaman bertingkat, indoor farming di dalam ruangan, serta community farming yang dikelola bersama oleh warga.

Materi tersebut membawa siswa melihat pertanian dari sudut pandang baru karena kegiatan menanam ternyata tidak selalu membutuhkan kebun atau hamparan lahan yang luas.

Pot, botol bekas yang aman, halaman sempit, dinding vertikal, balkon, dan sudut kosong di sekitar bangunan dapat dimanfaatkan sebagai ruang tumbuh selama tanaman memperoleh cahaya, air, unsur hara, dan sirkulasi udara yang memadai.

Azzam dan Daffa juga mengajak siswa berdialog melalui pertanyaan sederhana untuk mengukur pemahaman sekaligus membangun keberanian mereka menyampaikan pendapat.

Suasana kelas semakin hidup ketika anak-anak mulai menghubungkan materi dengan tanaman yang pernah mereka lihat di halaman rumah dan lingkungan sekitar.

Belajar Perbanyakan Vegetatif

Setelah mengenal pertanian perkotaan, siswa diperkenalkan pada stek sebagai teknik perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan bagian tanaman, terutama batang, menjadi individu baru.

Mahasiswa KKN Unhas mengajarkan urban farming kepada siswa kelas V UPT SD Inpres Mandai. (Foto: Dok.Pribadi).
Mahasiswa KKN Unhas mengajarkan urban farming kepada siswa kelas V UPT SD Inpres Mandai. (Foto: Dok.Pribadi).


Para mahasiswa menjelaskan bahwa teknik ini berbeda dari perkembangbiakan melalui biji karena tanaman baru berasal dari bagian tubuh tanaman induk.

Siswa juga dikenalkan pada cangkok dan merunduk sebagai metode perbanyakan vegetatif lain yang dapat diterapkan sesuai dengan karakter setiap tanaman.

Pemahaman mengenai perbanyakan vegetatif penting dalam pembelajaran sains karena memperlihatkan secara langsung hubungan antara struktur batang, mata tunas, akar, air, media tanam, dan pertumbuhan tanaman.

Dalam praktik hari itu, siswa mempelajari cara memperbanyak tiga tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni bayam Brasil, kemangi, dan singkong.

Batang kemangi ditempatkan dalam wadah berisi air agar siswa dapat mengamati kemunculan akar, sedangkan potongan batang bayam Brasil dan singkong ditanam pada media tanah yang telah disiapkan.

Praktik tersebut juga mengajarkan bahwa stek perlu menggunakan bagian tanaman yang sehat dan memiliki buku atau mata tunas karena dari bagian itulah akar serta tunas baru berpeluang tumbuh.

Media tanam harus dijaga tetap lembap, tetapi tidak tergenang, sebab kelebihan air dan buruknya drainase dapat memicu pembusukan sebelum akar terbentuk.

Halaman Sekolah Menjadi Laboratorium

Antusiasme siswa meningkat ketika pembelajaran berpindah dari dalam kelas menuju area praktik di belakang ruangan bersama wali kelas V, Jumrah, S.Pd.

Siswa kelas V mempraktikkan stek tanaman bersama mahasiswa KKN Unhas di halaman sekolah Mandai. (Foto: Dok Pribadi).
Siswa kelas V mempraktikkan stek tanaman bersama mahasiswa KKN Unhas di halaman sekolah Mandai. (Foto: Dok Pribadi).


Anak-anak tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi turut mengambil bagian tanaman, mencari wadah, membawa air, dan membantu menyiapkan media tanam.

Keterlibatan langsung itu membuat konsep yang semula disampaikan melalui kata-kata berubah menjadi pengalaman yang dapat dilihat, disentuh, dan diamati perkembangannya.

Rafifa Humaira Syahrial, Rizky Angelica, dan Musliyana mendampingi sesi tanya jawab sekaligus memberikan penghargaan kecil kepada siswa yang berani bertanya atau menjawab.

Penghargaan tersebut menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mendorong siswa lebih percaya diri untuk terlibat dalam proses pembelajaran.

Andi Ahmad Faiz Ihsani mendokumentasikan kegiatan sejak penyampaian materi hingga praktik penanaman, sementara mahasiswa lain membantu memastikan setiap tahapan berlangsung tertib dan mudah diikuti.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), pertanian perkotaan bukan hanya membantu menyediakan pangan, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan kesehatan dan lingkungan bagi anak-anak serta memperkuat kerja sama di dalam komunitas.

Kementerian Pertanian juga mendorong pemanfaatan pekarangan secara produktif karena pertanian perkotaan dapat mendukung ketersediaan pangan rumah tangga, penghijauan, dan peluang ekonomi dalam skala sederhana.

Bagi siswa sekolah dasar, manfaat terdekatnya bukan semata-mata hasil panen, melainkan tumbuhnya rasa ingin tahu, kesabaran, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap tanaman dan lingkungan.

Proses mengamati akar dan tunas yang muncul juga dapat menjadi pembelajaran sains berkelanjutan apabila tanaman dirawat, diukur pertumbuhannya, dan dicatat perkembangannya secara berkala.

Kegiatan ditutup dengan istirahat dan foto bersama sebagai kenang-kenangan sebelum para mahasiswa berpamitan kepada siswa serta wali kelas dan kembali ke posko KKN.

Melalui tunas-tunas kecil yang ditanam hari itu, mahasiswa KKN Unhas Angkatan 116 berharap siswa memahami bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni mengenali tanaman, merawat lingkungan, dan memanfaatkan setiap ruang yang tersedia untuk menghasilkan kehidupan.(*)