MAKASSAR, UNHAS.TV - Krisis air bersih mulai mengganggu aktivitas mahasiswa yang tinggal di rumah kos di sekitar kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) dan di Kota Makassar.
Keterbatasan pasokan air membuat sebagian mahasiswa harus mencari sumber air alternatif, membeli air tambahan, hingga menambah pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga, air bersih menjadi kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda.
Air digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari mandi, mencuci pakaian, memasak, hingga membersihkan peralatan kos. Namun, ketika air tidak mengalir atau kualitasnya menurun, rutinitas harian ikut terganggu.
Muhammad Fatir, mahasiswa Fakultas Kehutanan, menjadi salah satu yang merasakan dampak krisis tersebut.
Ia mengatakan masalah air mulai dirasakan ketika ia mendapati air di kamar mandi kosnya mengeluarkan bau tidak sedap.
Awalnya ia menduga bau tersebut berasal dari saluran pembuangan, tetapi setelah diperiksa, sumber masalah berasal dari air yang mengalir.
Fatir kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada pemilik kos. Ia mendapat informasi bahwa terdapat kebocoran pada selang PAM yang menyebabkan kualitas air terganggu.
Perbaikan dilakukan, tetapi menurut dia, bau tidak sedap masih tersisa sehingga air tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan tubuh.
“Waktu itu saya pulang kelas dan mencium ada bau tidak enak dari kamar mandi. Awalnya saya kira dari pembuangan air, ternyata sumbernya dari air. Sampai sekarang masih ada hawa bau, jadi airnya saya hindari untuk pemakaian di badan,” ujar Fatir.
Kondisi tersebut membuat Fatir harus mengubah pola penggunaan air. Jika sebelumnya kebutuhan air galon hanya dibeli sekitar satu kali dalam seminggu, kini ia harus membeli lebih sering karena keterbatasan air bersih di kos.
Menurut dia, pengeluaran untuk air meningkat cukup besar. Sebelumnya, biaya air hanya sekitar Rp20 ribu per bulan. Setelah krisis terjadi, pengeluaran tersebut naik hingga sekitar Rp90 ribu karena pembelian air dilakukan dalam waktu lebih singkat.
“Kalau tidak krisis air, saya beli galon satu minggu sekali. Tapi sekarang bisa tiga hari sekali. Dalam satu minggu bisa keluar sekitar Rp15 ribu hanya untuk air galon,” katanya.
Berburu Air hingga Tengah Malam
Kondisi paling sulit dirasakan ketika persediaan air di sekitar tempat tinggalnya mulai habis. Fatir mengaku pernah mencari air hingga kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), tetapi sejumlah penjual juga mengalami kekurangan stok.
Ia bahkan harus mengantre hingga malam hari untuk mendapatkan air minum. Menurut dia, situasi tersebut menjadi pengalaman yang menunjukkan betapa pentingnya ketersediaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari.
“Pernah air galon di depan kos habis. Saya keliling sampai BTP juga tidak ada. Akhirnya saya mengantre sampai jam satu malam hanya untuk mendapatkan air galon,” ujar Fatir.
Selain harus mengeluarkan biaya tambahan, mahasiswa juga mulai menyesuaikan kebiasaan sehari-hari. Fatir mengurangi aktivitas memasak dan memilih membeli makanan di luar dengan harga yang masih sesuai kemampuan mahasiswa. Ia juga berusaha menghemat penggunaan air saat mandi.
Kondisi serupa dialami Nurul Zaskia, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Ia mengaku sudah sekitar lima hari mengalami kesulitan mendapatkan air bersih di tempat kosnya.
Menurut Zaskia, air yang keluar terkadang dalam kondisi kotor dan berbau. Situasi tersebut mengganggu aktivitas karena hampir seluruh kegiatan harian bergantung pada ketersediaan air.
“Saya kesulitan mendapatkan air bersih sudah sekitar lima hari. Kalau mengalir pun air yang keluar bukan air bersih, tetapi bau dan kotor. Itu sangat mengganggu karena sehari-hari kita membutuhkan air untuk mandi, mencuci, dan aktivitas lainnya,” kata Zaskia.
Krisis air juga berdampak pada pengeluarannya. Jika sebelumnya ia hanya membeli satu galon air minum dengan biaya sekitar Rp5 ribu, kini kebutuhan air membuat pengeluaran meningkat hingga hampir Rp30 ribu.
Menurut Zaskia, air yang dibeli tidak hanya digunakan untuk minum, tetapi juga memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, serta membersihkan perlengkapan kos.
“Sekarang saya menggunakan air cukup banyak karena untuk mandi, mencuci, dan membersihkan perabotan kos. Pengeluaran jadi meningkat,” ujarnya.
Ia mengaku khawatir kondisi tersebut dapat terus berlangsung karena aktivitas mahasiswa sangat bergantung pada ketersediaan air. Bagi mahasiswa kos, keterbatasan air bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan dan produktivitas.
Krisis air bersih ini membuat mahasiswa berharap ada langkah antisipasi yang lebih matang menghadapi musim kemarau. Fatir mengusulkan pemerintah dapat menyiapkan tempat penampungan air hujan sebelum kondisi kekeringan terjadi.
Menurut dia, persiapan menghadapi fenomena iklim seperti El Niño perlu dilakukan lebih awal agar masyarakat tidak mengalami kesulitan ketika pasokan air mulai berkurang.
“Harapan saya sebelum musim kemarau masuk, pemerintah bisa menyediakan tempat penampungan air hujan. Persiapan menghadapi kondisi seperti ini harus dilakukan lebih awal,” katanya.
Sementara Zaskia mengajak mahasiswa lain yang mengalami kondisi serupa agar lebih bijak menggunakan air. Ia meminta mahasiswa tidak menggunakan air secara berlebihan selama krisis berlangsung.
“Teman-teman mahasiswa yang mengalami krisis air harus hemat menggunakan air. Sekarang musim kemarau, jadi kita harus pandai menggunakan air dan tidak boros,” ujarnya.
Krisis air bersih menjadi pengingat bahwa kebutuhan dasar masyarakat perkotaan tetap membutuhkan sistem pengelolaan dan antisipasi yang berkelanjutan, terutama ketika menghadapi perubahan kondisi iklim dan musim kemarau panjang.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Mahasiswa Fakultas Peternakan Unhas, Nurul Zaskia dan mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas, Muh Fatir (kanan). (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)


-300x167.webp)





