Sosial

Kuliah Umum di Unhas Jakarta, Milliken: Perdamaian Butuh Praktik, Bukan Sekadar Teori Kelas

Phoebe Milliken, Director of Master of Peacebuilding di Hartford International University for Religion and Peace, tampil membawakan kuliah umum di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Jakarta, Jl Petojo, Sabtu (22/8/2026). (Dok Humas Unhas)

JAKARTA, UNHAS.TV - Perdamaian tidak cukup hanya dipelajari di dalam ruang kelas. Ia perlu dipraktikkan melalui interaksi langsung, pengalaman nyata, dan keterlibatan dengan komunitas.

Demikian pandangan Phoebe Milliken, Director of Master of Peacebuilding di Hartford International University for Religion and Peace, dalam kuliah umum di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Kuliah bertajuk Global Perspective on Peacebuilding: Building Peace Across Differences through Interreligious Dialogue and Global Peacebuilding itu digelar bekerja sama dengan Center for Global Peace and Conflict Resolution (CGPCR) Unhas.

Milliken menegaskan bahwa peacebuilding atau pembangunan perdamaian bukan sekadar upaya menghentikan konflik. Ia merupakan proses membangun pemahaman, keterampilan, dan hubungan di tengah keberagaman.

Perbedaan pandangan, keyakinan, maupun identitas, menurutnya, tidak harus berakhir pada kesamaan. Sebaliknya, perbedaan dapat membuka ruang dialog untuk saling mendengarkan dan memahami.

"Perdamaian tidak cukup hanya dipelajari di dalam kelas. Kita perlu mempraktikkannya, berinteraksi dengan orang lain, dan belajar dari pengalaman," ujar Milliken.

Salah satu keterampilan kunci yang ia tawarkan adalah mendengar secara reflektif (reflective listening) dan melakukan parafrase (paraphrasing).

Pendekatan itu, kata dia, memberi ruang bagi peserta untuk memahami dinamika komunikasi dan konflik dalam kehidupan sosial.

Mendengarkan, tegas Milliken, bukanlah sekadar menunggu giliran bicara. Ia adalah upaya sungguh-sungguh untuk memahami apa yang disampaikan dan dialami orang lain. "Terkadang, seseorang hanya ingin merasa bahwa dirinya didengar dan dipahami," katanya.

Dalam praktik resolusi konflik, kemampuan mendengar dan memparafrase dapat mengurangi kesalahpahaman dan membuka komunikasi yang lebih konstruktif.

Pendidikan berbasis pengalaman (experiential education), pengembangan kelompok (cohort development), serta keterlibatan komunitas menjadi langkah alternatif dalam memahami dan mencegah konflik.

Milliken menekankan teori perlu didukung pengalaman langsung. Peacebuilding, dengan demikian, tidak berhenti pada penyelesaian konflik, tetapi mencakup praktik membangun kepercayaan dan hubungan antarmanusia dalam kehidupan sehari-hari.

Kuliah umum yang dihadiri civitas akademika dan pemerhati perdamaian itu menjadi pengingat bahwa perdamaian adalah kerja kolektif. Ia tumbuh dari keberanian mendengar, bukan sekadar dari doktrin atau kekuasaan.

Di tengah dunia yang terus dihiasi perbedaan, keterampilan sederhana seperti mendengar secara reflektif bisa menjadi fondasi yang jauh lebih kokoh dari sekadar deklarasi damai di atas kertas. (*)