MAKASSAR, UNHAS.TV - Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia menciptakan, menyampaikan, dan mengakses informasi.
Berbagai gagasan dan karya kreatif kini dapat diproduksi serta disebarluaskan melalui berbagai platform digital dengan lebih cepat dan luas.
Namun, di tengah perkembangan tersebut, media berbasis fisik masih memiliki ruang dan nilai tersendiri.
Salah satunya melalui zine, sebuah bentuk publikasi alternatif yang memberikan ruang bagi individu maupun komunitas untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, serta perspektif mereka secara lebih bebas dan personal.
Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam program Field Notes yang diselenggarakan pada Kamis (27/8/2026) dengan tema “Lebih Sekadar Kertas, Membaca Zine Sebagai Budaya Alternatif”.
Program ini menghadirkan Ade Pramoedya Ananta dari kolektif Zinmo untuk membahas bagaimana zine tidak hanya dipahami sebagai produk berbahan kertas, tetapi juga sebagai medium kreatif, ruang ekspresi, serta sarana pengarsipan pengalaman sosial masyarakat.
Berbeda dengan media publikasi konvensional yang umumnya memiliki struktur dan standar tertentu, zine hadir dengan karakter yang lebih fleksibel.
Medium ini memungkinkan pembuatnya menentukan sendiri bentuk, isi, desain, hingga cara penyampaian pesan sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.
Ade Pramoedya Ananta menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama zine terletak pada kebebasannya dalam bereksperimen.
Menurutnya, tidak terdapat batasan baku yang menentukan bagaimana sebuah karya dapat dikategorikan sebagai zine selama karya tersebut menjadi ruang penyampaian gagasan pembuatnya.
“Menurut saya zine itu media yang unlimited. Tidak ada format tetapnya. Orang bisa membuat bagaimana pun bentuknya, lipatannya, lembarannya, menggunakan bahan apa pun. Kalau dia menyebut itu zine, ya sudah zine,” ujar Ade.
Ketertarikan Ade terhadap zine bermula pada tahun 2022 ketika dirinya masih menempuh pendidikan di Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Makassar (UNM). Saat itu, zine menjadi bagian dari tugas akademik yang berkaitan dengan grafika, kertas, dan percetakan.
Melalui proses tersebut, ia mulai melihat bahwa zine tidak hanya sekadar publikasi sederhana, tetapi dapat menjadi media untuk merepresentasikan ide, pengalaman, dan pandangan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya.
Menurut Ade, salah satu nilai penting dari zine adalah kemampuannya menjadi arsip terhadap pengalaman individu maupun komunitas.
Banyak cerita, pemikiran, dan fenomena sosial yang tidak selalu mendapatkan ruang dalam media arus utama, tetapi memiliki nilai penting untuk didokumentasikan.
“Kami mencoba mengarsipkan memori kolektif orang-orang di sekitar kami. Entah itu teman komunitas, kolektif, atau orang yang punya ide dan gagasan, kami bantu menuangkan dalam bentuk zine,” jelas Ade.
Ia menjelaskan bahwa karya zine sering kali berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kedekatan pembuat dengan lingkungan sosial menjadi salah satu sumber utama dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai reflektif.
Salah satu karya yang pernah dikembangkan, menurut Ade, mengangkat isu kawasan pesisir Makassar melalui sudut pandang pengalaman personal pembuatnya.
“Kami pernah membuat satu zine yang membahas area pesisir Makassar. Karena saya sendiri tinggal dekat pantai, jadi cukup mengetahui dan merasakan kondisi di sana. Hal-hal seperti itu yang kemudian kami masukkan karena sangat reflektif terhadap kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Selain sebagai media ekspresi individu, zine juga berkembang melalui interaksi komunitas. Ade menjelaskan bahwa proses kreatif dalam pembuatan zine sering kali berawal dari aktivitas sederhana seperti berdiskusi, bertukar gagasan, hingga membangun relasi sosial antarindividu yang memiliki perhatian terhadap isu tertentu.
“Budaya yang mereka bangun itu sebenarnya budaya nongkrong. Bertemu, ngobrol tentang sesuatu, lalu muncul ide untuk membuat sesuatu. Tidak ada keharusan atau paksaan, tetapi dari situ relasi sosial terbentuk dan kemudian diarsipkan melalui zine,” katanya.
Di tengah dominasi media digital, Ade melihat bahwa zine berbentuk fisik tetap memiliki nilai tersendiri. Menurutnya, pengalaman membaca karya secara langsung melalui bentuk, tekstur, dan material kertas menghadirkan hubungan yang berbeda antara karya dan pembacanya.
“Kami memilih yang fisik karena lebih memiliki rasa kepemilikan. Ketika memegang sesuatu yang fisik, melihat warna dan bahan kertasnya secara langsung, ada pengalaman berbeda yang dirasakan,” jelas Ade.
Selain perkembangan teknologi digital, kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam dunia kreatif.
Ade menilai bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses penciptaan karya, tetapi tidak menggantikan proses berpikir dan pengalaman manusia dalam menghasilkan sebuah karya.
Menurutnya, nilai sebuah karya tetap bergantung pada perspektif, pengalaman, dan gagasan personal dari pembuatnya.
“Menurut saya AI bukan sebagai jalan pintas, tetapi sebagai tools untuk membantu. Yang penting adalah bagaimana kita tetap memiliki perspektif dan suara sendiri dalam karya tersebut,” ujarnya.
Keberadaan zine menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu bergantung pada perkembangan teknologi terbaru.
Di tengah perubahan pola komunikasi digital, zine tetap menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, membangun komunitas, serta mendokumentasikan pengalaman sosial melalui pendekatan yang lebih personal.
Melalui pembahasan dalam Field Notes, zine dipahami bukan hanya sebagai karya berbahan kertas, tetapi sebagai medium budaya yang merekam ide, identitas, dan cerita manusia dalam menghadapi perubahan zaman.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
ZINE MO - Ade Pramoedya Ananta dari kolektif Zinmo, hadir dalam program Field Notes di Studio Unhas TV, Kamis (27/8/2026). Ade membahas tema “Lebih Sekadar Kertas, Membaca Zine Sebagai Budaya Alternatif”. (Unhas TV/Moh Resha Maharam)



-300x197.webp)




