News
Travel

Lima Kota, Empat Musik, Seribu Cerita

Catatan EKA SASTRA dari Lisbon, Portugal*

Di sebuah meja di Clube de Fado, Lisbon, saya ikut bernyanyi dalam bahasa yang tidak saya pahami. Saya hanya mengikuti bagian korus, bersama orang-orang lain di ruangan itu.

Beberapa menit sebelumnya, suara sang penyanyi terdengar seperti kerinduan dan jeritan hati. Saya belum tahu arti liriknya, tetapi musiknya sudah lebih dulu sampai kepada saya.

Malam itu saya dan istri datang untuk makan malam sekaligus mendengarkan Fado. Kami diberi tahu, begitu makan selesai, perhatian akan beralih ke pertunjukan.

Sekitar pukul sembilan, lampu dipadamkan. Tepuk tangan pecah, para pemain duduk di depan kami, dan ruang makan itu perlahan berubah menjadi ruang mendengarkan.

Di sana saya teringat musik yang menemani perjalanan kami sejak Maroko: pertunjukan di alun-alun Marrakech, flamenco di Sevilla dan Madrid, konser klasik di Barcelona.

Setiap kota mempertemukan saya dengan cara manusia mengolah pengalaman menjadi keindahan. Alam, sejarah, dan hubungan antarmanusia ada di dalamnya, meski tidak selalu tertangkap pada pendengaran pertama.

Di Marrakech, perjumpaan itu terjadi di Jemaa el-Fna. Langkah saya terhenti oleh sekelompok pemusik. Seseorang mengajak saya maju ke depan, tetapi saya memilih tetap di belakang, mendengarkan sebentar sebelum melanjutkan jalan untuk makan malam.

Saya tidak mengerti lagunya. Yang ada hanya rasa kagum yang membuat saya ingin tinggal sejenak.

Kehidupan Jemaa el-Fna memang dibentuk oleh para musisi, pendongeng, dan beragam pelaku pertunjukan jalanan. UNESCO mengakui ruang budaya alun-alun ini sebagai warisan budaya takbenda.

Di tempat seperti itu, musik menyatu dengan keseharian: orang lewat, berhenti, berkerumun, lalu kembali ke urusan masing-masing. Seni justru berlangsung dalam pertemuan singkat antara pemain dan pendengar.

Yang paling saya ingat dari malam itu adalah keputusan untuk berhenti. Di tengah perjalanan yang penuh jadwal dan tujuan, beberapa orang dengan alat musiknya berhasil mengubah arah langkah saya.

Perjumpaan berikutnya terjadi di Sevilla. Di Teatro Flamenco Sevilla, kami duduk di bagian atas dan menyaksikan panggung dari kejauhan. Yang memikat saya adalah perpaduan suara, petikan gitar, tepukan tangan, dan tarian. Tubuh para penari ikut bermain: setiap gerak dan hentakan kaki adalah bagian dari bahasa pertunjukan itu.

Flamenco memadukan cante (nyanyian), baile (tarian), dan toque (permainan gitar). Andalusia adalah pusat penting perkembangannya, dan komunitas Gitano, sebutan Spanyol bagi orang Roma, berperan mendasar dalam membentuk dan mewariskannya.

Setelah mengetahui itu, saya tidak lagi sekadar melihat penampil di panggung, melainkan para pembawa tradisi yang hidup dari generasi ke generasi.

Setelah melintasi Maroko, wajar jika saya bertanya-tanya tentang jejak Arab dalam flamenco. Namun, sejarahnya perlu dibaca dengan hati-hati. Andalusia memang menyimpan lapisan kebudayaan yang panjang, tetapi menunjuk satu asal-usul tunggal bagi flamenco berarti mengabaikan proses pembentukannya yang berlapis.

Kemiripan yang terdengar di telinga belum tentu sama dengan hubungan sejarah yang bisa dibuktikan.

Di Madrid, flamenco terasa lebih hidup dan membekas. Meja kami dekat sekali dengan panggung. Hentakan kaki, nyanyian, dan bunyi gitar sampai dengan sangat jelas, dan kemampuan para pemain terasa nyata. Dari jarak sedekat itu, saya bisa merasakan betapa keras mereka bekerja membangun pertunjukan.

Perbedaan dengan Sevilla mengajari saya satu hal: pengalaman menikmati seni juga ditentukan oleh di mana kita duduk. Dari kursi atas, saya melihat pertunjukan sebagai keseluruhan.

Dari meja di depan panggung, saya menangkap detailnya. Karya yang sama bisa sampai secara berbeda, tergantung jarak, ruang, dan perhatian yang kita berikan.

Sebelum pertunjukan di Madrid dimulai, kami berbagi meja dengan seorang wisatawan asal Kanada. Ia bercerita tentang perjalanan berjalan kaki yang ditempuhnya selama enam belas hari. Obrolan singkat itu menambah warna malam kami.

Meja pertunjukan mempertemukan orang-orang yang datang dengan perjalanannya masing-masing, lalu mengarahkan perhatian mereka ke panggung yang sama.



Barcelona menghadirkan suasana yang berbeda. Konser berlangsung di Basílica de la Mercè, dan saya duduk di barisan kedua. Di antara tiang-tiang berhias, cahaya lampu, dan altar, basilika itu menjadi ruang untuk mendengarkan musik klasik. Saya sengaja memilih duduk dekat, berharap mengulang pengalaman Madrid yang begitu berkesan.

Tajuk utama konser malam itu adalah The Four Seasons karya Antonio Vivaldi. Karya ini membuka pintu untuk memahami hubungan musik dengan alam. Empat konserto biolanya disertai soneta tentang musim-musim, dan di dalam musiknya kita bisa mendengar kicau burung, gemericik air, tiupan angin, hingga badai. Pengamatan atas dunia diolah menjadi susunan bunyi.

Dari situ saya melihat bahwa alam menyediakan pengalaman, lalu manusia memilih dan menafsirkannya dengan keterampilan dan imajinasi. Keindahan lahir dari proses mengolah itu.

Karya seorang komponis Venesia dari abad kedelapan belas dimainkan kembali oleh musisi di Barcelona, di hadapan pendengar dari berbagai negeri, termasuk kami dari Indonesia.

Basilika itu juga mengingatkan saya bahwa musik selalu hadir di dalam lembaga dan sejarah sosial tertentu. Tempat ibadah, panggung teater, alun-alun, dan rumah makan pertunjukan punya cara masing-masing dalam mempertemukan pemain dengan pendengar, dan cara itu ikut menentukan bagaimana musik dialami.

Di Lisbon, semua itu terasa dekat melalui Fado. Malam itu saya memperhatikan susunan pengiringnya: gitar Portugis, gitar klasik, dan bas betot. Pada nyanyiannya saya menangkap kerinduan dan jeritan hati. Saya sadar, itu adalah kesan saya sebagai pendengar; arti liriknya sendiri belum saya pahami.

Fado tumbuh dalam kehidupan rakyat Lisbon pada abad kesembilan belas. Museu do Fado mencatat kehadirannya di ruang-ruang pergaulan rakyat: jalanan, kedai, dan tempat hiburan.

UNESCO menyebut Fado sebagai perpaduan berbagai tradisi, termasuk unsur Afro-Brasil, lagu-lagu lokal, dan musik yang dibawa para pendatang dari pedesaan. Suara sebuah kota ternyata terbentuk dari perjumpaan dan perpindahan manusia.

Sejarah itu memberi kedalaman lain pada pertunjukan di depan kami. Musik yang kini dinikmati pengunjung dari berbagai negara itu masih menyimpan ikatan dengan masyarakat yang melahirkannya. Di balik keterampilan para pemain ada proses belajar, pewarisan, dan ruang sosial yang membuat seni ini terus hidup.

Ketika tiba bagian korus dan kami diajak bernyanyi, saya ikut mengikuti melodinya. Batas antara mendengarkan dan terlibat terasa menipis. Kami mungkin tidak memahami kata-katanya dengan cara yang sama, tetapi kami bisa menyanyikan lagu yang sama. Setelah kerinduan yang saya tangkap dari suara penyanyi, datang rasa kebersamaan di ruangan itu.



Perjalanan bersama istri ini akhirnya menjadi perjalanan belajar mendengarkan. Di Marrakech, saya berhenti di belakang kerumunan. Di Sevilla, saya menyaksikan dari atas. Di Madrid, saya duduk dekat panggung. Di Barcelona, saya memilih barisan kedua. Di Lisbon, saya ikut bernyanyi.

Dari kota-kota itu saya membawa pulang satu pertanyaan: bagaimana manusia menyimpan pengalamannya di dalam seni? Musik punya bentuk dan sejarah yang berbeda-beda, tetapi selalu membutuhkan orang yang memainkan, mewariskan, dan mendengarkannya.

Malam di Lisbon memberi saya pengalaman sederhana yang akan lama saya ingat: saya belum mengerti kata-katanya, tetapi saya ikut bernyanyi bersama mereka.


*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin