Makassar
Pendidikan

Mahasiswa Indonesia Ungkap Pengalaman Kuliah di Rusia dan Peluang Beasiswa Pemerintah Rusia

Andi Naurah Shafa Kamila, mahasiswa Ilmu Politik asal Indonesia di Kazan Federal University. (Dok Pribadi)

JAKARTA, UNHAS.TV - Kuliah di negara Beruang Kutub --julukan negara Rusia, belum menjadi pilihan yang umum bagi sebagian mahasiswa Indonesia.

Namun, bagi Andi Naurah Shafa Kamila, mahasiswa semester tujuh jurusan Ilmu Politik di Kazan Federal University, Rusia menawarkan pengalaman akademik yang berbeda sekaligus ruang untuk mengenal budaya dan lingkungan sosial baru.

Keputusan Naurah melanjutkan pendidikan di Rusia berawal dari keinginannya mencoba pengalaman yang berbeda dari kebanyakan mahasiswa Indonesia.

Selain tertarik mempelajari bahasa Rusia, ia ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat dan atmosfer akademik di negara tersebut.

“Yang paling pertama tentunya saya merasa kuliah di Rusia itu lumayan anti-mainstream,” ujar Naurah dalam wawancara.

Ketertarikan itu semakin berkembang ketika ia mengetahui adanya peluang beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Rusia.

Informasi mengenai kehidupan mahasiswa Indonesia di Rusia juga ia peroleh dari berbagai sumber, salah satunya konten yang dibagikan influencer Turah Partayana tentang pengalaman belajar di negeri tersebut.

Dari sana, Naurah mulai mencari informasi lebih jauh mengenai sistem pendidikan Rusia serta peluang pendanaan yang tersedia.

Ia kemudian menemukan program beasiswa pemerintah Rusia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi di Rusia.

Menurut Naurah, program tersebut merupakan bagian dari kerja sama pendidikan antara pemerintah Rusia dan Indonesia. Melalui program tersebut, mahasiswa Indonesia mendapatkan kuota untuk melanjutkan studi di Rusia dengan dukungan beasiswa pemerintah.

Bahasa Rusia Jadi Tantangan Utama

Meski memiliki pengalaman berbeda, Naurah mengakui bahwa mahasiswa asing tetap menghadapi sejumlah tantangan selama menjalani pendidikan di Rusia.

Salah satu tantangan terbesar adalah penggunaan bahasa Rusia sebagai bahasa utama dalam proses perkuliahan.

“Jadi sistemnya di sana maupun itu orang asing yang akan berkuliah di Rusia itu full menggunakan bahasa Rusia,” kata Naurah.

Mahasiswa internasional tidak langsung memasuki program studi utama setelah tiba di Rusia. Mereka terlebih dahulu mengikuti program persiapan bahasa selama satu tahun yang dikenal dengan istilah Padfak atau Padgatowicelnyi Fakultet.

Program tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa asing memahami bahasa Rusia sebelum mengikuti perkuliahan reguler. Setelah menyelesaikan tahap persiapan, mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan sesuai jurusan yang dipilih.

Naurah menjelaskan, jenjang pendidikan utama di Rusia umumnya berlangsung selama empat tahun. Durasi tersebut telah menjadi ketentuan sistem pendidikan sehingga mahasiswa tidak dapat mempercepat maupun memperpanjang masa studi dari aturan yang berlaku.

Personal Statement Menjadi Faktor Penting

Bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mengikuti program beasiswa pemerintah Rusia, Naurah menilai kemampuan menyusun personal statement menjadi salah satu faktor penting dalam proses seleksi.

Menurut dia, personal statement menjadi kesempatan bagi calon penerima beasiswa untuk menunjukkan latar belakang, motivasi, serta alasan kuat mengapa mereka layak mendapatkan kesempatan tersebut.

“Perkuat personal statement kalian, terus mungkin perkuat personal branding juga. Itu salah satu hal yang membuat kita lebih stand out di depan penyeleksi beasiswanya,” ujarnya.

Ia juga mendorong calon mahasiswa untuk aktif mencari informasi, mempersiapkan kemampuan bahasa, serta membangun keunikan diri sebelum mengikuti seleksi.

Pengalaman Naurah menunjukkan bahwa kesempatan belajar di luar negeri tidak hanya membutuhkan keberanian untuk mencoba, tetapi juga kesiapan menghadapi proses seleksi dan adaptasi budaya.

Melalui program beasiswa pemerintah Rusia, mahasiswa Indonesia memiliki alternatif lain untuk memperluas pengalaman akademik internasional sekaligus mengenal bahasa dan kehidupan sosial di negara tersebut. 

(Zulkarnaen JumarTaufik / Unhas TV)