Mahasiswa
Makassar

Mahasiswa KKN Unhas Bangun Drop Point Terpilah di Laikang

Mahasiswa KKN Tematik Zero Waste Unhas menyiapkan titik pemilahan sampah anorganik bagi warga Laikang. (Foto: Dok. Pribadi) Mahasiswa KKN Tematik Zero Waste Unhas menyiapkan titik pemilahan sampah anorganik bagi warga Laikang. (Foto: Dok. Pribadi)

MAKASSAR, UNHAS.TV — Di tengah kerja bakti warga yang menghidupkan suasana Bundaran Perumnas Sudiang, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Zero Waste Universitas Hasanuddin meresmikan fasilitas Drop Point TPS 3R di Kelurahan Laikang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sabtu (8/8/2026), sebagai langkah sederhana tetapi terukur untuk memperkuat pemilahan sampah anorganik sejak dari sumbernya.

Program tersebut digagas Muh Reza Aditya Sajidna, mahasiswa Program Studi Sastra Arab Unhas, setelah melihat bahwa keberhasilan daur ulang tidak hanya bergantung pada tersedianya tempat pengolahan, tetapi juga pada kemudahan warga memisahkan dan menyerahkan sampah sesuai jenis materialnya.

Reza menghadirkan fasilitas penampungan berukuran dua meter kali satu meter yang dirancang sebagai titik antara untuk memperpendek perjalanan sampah anorganik dari rumah warga menuju proses pemilahan dan pengolahan di TPS 3R Kelurahan Laikang.

Bangunan penampungan itu memiliki tiga kompartemen terpisah untuk kaleng, kertas atau kardus, serta gelas dan botol plastik sehingga material yang masih bernilai tidak tercampur dengan sampah residu, bahan organik, ataupun limbah rumah tangga berbahaya.

Fasilitas tersebut ditempatkan di kawasan TPS 3R Kelurahan Laikang, tidak jauh dari Bundaran Perumnas Sudiang di Jalan Poros Perumnas Sudiang, agar mudah dijangkau warga sekaligus terhubung dengan kegiatan pengelolaan sampah yang sudah berjalan di tingkat kelurahan.

Penyerahan di Tengah Semangat Gotong Royong

Di tengah warga yang bergotong royong membersihkan lingkungan pada Sabtu pagi, Reza secara simbolis menyerahkan fasilitas itu kepada Pemerintah Kelurahan Laikang yang diterima langsung oleh Lurah Laikang, Andi Wahyu Setiawan, S.STP.

Momentum penyerahan yang dirangkaikan dengan kerja bakti memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah bukan semata-mata urusan petugas kebersihan, melainkan kerja kolektif yang dimulai dari kebiasaan setiap rumah tangga.

“Kegiatan ini mendukung program Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong pemilahan sampah sekaligus memperkuat infrastruktur pengelolaan lingkungan melalui bank sampah dan TPS 3R,” kata Reza di sela-sela kegiatan.

Menurut Reza, keberadaan titik pengumpulan terpilah akan kehilangan fungsinya apabila sampah masih dibuang dalam keadaan bercampur, sehingga edukasi, kedisiplinan warga, pengangkutan terjadwal, serta kepastian penyaluran material kepada pengelola harus berjalan sebagai satu mata rantai.

Secara regulatif, inisiatif tersebut sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 yang mendefinisikan TPS 3R sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang sampah pada skala kawasan.

Pemilahan sebagai Fondasi Ekonomi Sirkular

Pemilahan sejak dari sumber sangat menentukan mutu material daur ulang karena kertas, kardus, plastik, dan logam yang tercampur sisa makanan atau bahan berbahaya cenderung mengalami kontaminasi, kehilangan nilai ekonomi, dan akhirnya tetap berakhir sebagai residu.

Dalam kerangka ekonomi sirkular, kaleng, kardus, dan botol plastik tidak lagi dipandang sebagai benda buangan, melainkan sebagai sumber daya sekunder yang dapat dikembalikan ke rantai produksi, mengurangi kebutuhan bahan baku baru, dan membuka peluang pendapatan bagi bank sampah maupun pekerja pemulihan material.

Konsep TPS 3R juga menempatkan pengurangan sampah sebagai prioritas pertama, penggunaan kembali sebagai langkah berikutnya, dan daur ulang sebagai pilihan setelah konsumsi yang tidak perlu berhasil ditekan, sehingga istilah 3R secara tepat merujuk pada reduce, reuse, recycle.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia menyebut dunia menghasilkan lebih dari dua miliar ton sampah setiap tahun, sedangkan sampah yang tidak dikumpulkan atau dikelola dengan baik dapat mencemari udara, tanah, air, dan rantai pangan serta menciptakan tempat berkembang biak bagi serangga dan hewan pembawa penyakit.

WHO juga memperingatkan bahwa pembakaran sampah terbuka menghasilkan berbagai polutan yang berkaitan dengan batuk, iritasi kulit, gangguan pernapasan, dan dampak kesehatan lainnya, sehingga pemilahan dan pengolahan yang aman merupakan bagian penting dari pembangunan lingkungan sehat.

Dari Infrastruktur Menuju Perubahan Perilaku

Kehadiran drop point ini menjadi pintu masuk bagi pembentukan kebiasaan baru, tetapi keberlanjutannya memerlukan papan petunjuk yang jelas, pembersihan berkala, pencatatan jumlah material, jadwal pengangkutan, serta evaluasi untuk mengetahui jenis sampah yang paling banyak dikumpulkan.

Muh Reza Aditya Sajidna memperlihatkan Drop Point TPS 3R untuk pemilahan sampah anorganik di Kelurahan Laikang, Makassar. (Foto: Dok. Pribadi)
Muh Reza Aditya Sajidna memperlihatkan Drop Point TPS 3R untuk pemilahan sampah anorganik di Kelurahan Laikang, Makassar. (Foto: Dok. Pribadi)


Data hasil penimbangan berkala nantinya dapat digunakan untuk mengukur pengurangan sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir, menilai partisipasi warga, menentukan kebutuhan kapasitas kompartemen, dan menyusun program edukasi lingkungan berbasis bukti.

Pengelola juga perlu memastikan bahwa tempat tersebut hanya menerima kaleng, kertas atau kardus, serta gelas dan botol plastik yang telah dikosongkan dan dibersihkan, sedangkan limbah elektronik, baterai, lampu, obat, bahan kimia, dan benda tajam harus ditangani melalui jalur khusus karena memiliki risiko berbeda.

Melalui fasilitas sederhana yang dibangun di ruang hidup masyarakat, KKN-T Zero Waste Unhas menghubungkan pengetahuan kampus dengan kebutuhan nyata warga sekaligus menunjukkan bahwa perubahan besar dalam tata kelola sampah dapat dimulai dari keputusan kecil untuk tidak lagi mencampurkan semua benda yang dibuang.

Harapannya, Drop Point TPS 3R Laikang tidak berhenti sebagai luaran fisik program mahasiswa, tetapi tumbuh menjadi simpul pembelajaran lingkungan yang mendorong warga memilah dari rumah, memperpanjang usia pakai material, menjaga kebersihan permukiman, dan membangun Kelurahan Laikang yang lebih sehat serta berkelanjutan.(*)