Mahasiswa

Mahasiswa KKN Unhas Cetak Generasi Penyelamat Bumi dari Ruang Kelas, Revolusi Pemilahan Sampah Dimulai Sejak Sekolah Dasar

Mahasiswa KKN-T Gelombang 116 Universitas Hasanuddin bersama siswa usai edukasi pemilahan sampah organik dan non-organik di tiga sekolah dasar di Kabupaten Maros sebagai upaya menanamkan kepedulian lingkungan sejak usia dini melalui pembelajaran interaktif, permainan edukatif, serta pre-test dan post-test. (Foto: Dok. Pribadi) Mahasiswa KKN-T Gelombang 116 Universitas Hasanuddin bersama siswa usai edukasi pemilahan sampah organik dan non-organik di tiga sekolah dasar di Kabupaten Maros sebagai upaya menanamkan kepedulian lingkungan sejak usia dini melalui pembelajaran interaktif, permainan edukatif, serta pre-test dan post-test. (Foto: Dok. Pribadi)

MAROS,UNHAS.TV– Upaya membangun generasi yang peduli lingkungan dimulai dari ruang kelas ketika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menggelar edukasi bertajuk "Pengenalan Pemilahan Sampah Organik dan Non-Organik" di SD Negeri 22 Maros, SD Negeri 16 Pangkasalo, dan MI Ainus Syamsi, Kabupaten Maros, melalui pembelajaran interaktif, permainan edukatif, serta pelaksanaan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa mengenai pengelolaan sampah sejak usia dini, (03/8/26).

Kesadaran lingkungan kini diakui sebagai salah satu fondasi penting pembangunan berkelanjutan karena perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah harus dimulai sejak masa kanak-kanak agar menjadi budaya yang mengakar hingga dewasa.

Mahasiswa KKN memperkenalkan perbedaan sampah organik dan non-organik melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga konsep yang semula dianggap rumit menjadi mudah dipahami oleh para siswa.

Mereka juga menjelaskan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanah, sedangkan sampah non-organik perlu didaur ulang agar tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir maupun mencemari sungai, laut, dan ekosistem lainnya.

Pendekatan belajar yang memadukan diskusi, permainan edukatif, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam.

Sepanjang kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif menjawab pertanyaan, mengikuti diskusi, dan berpartisipasi dalam berbagai permainan yang menguji kemampuan mereka mengenali jenis-jenis sampah.

Berbagai penelitian pendidikan lingkungan menunjukkan bahwa metode pembelajaran partisipatif mampu meningkatkan daya ingat, kemampuan berpikir kritis, serta mendorong perubahan perilaku yang lebih bertahan lama dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat ceramah.

Pendidikan Lingkungan Menjadi Investasi Masa Depan

Pihak sekolah menyambut positif kegiatan tersebut karena tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa, tetapi juga menanamkan karakter disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sejak usia sekolah dasar.

Sekolah berharap kebiasaan memilah sampah yang dipelajari di kelas dapat diterapkan secara konsisten di rumah sehingga tercipta sinergi antara lingkungan sekolah dan keluarga dalam membangun budaya hidup bersih.

Harapan tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan berkelanjutan.

Data berbagai lembaga lingkungan internasional menunjukkan bahwa pengurangan sampah dari sumbernya melalui pemilahan merupakan salah satu strategi paling efektif untuk menekan pencemaran, meningkatkan tingkat daur ulang, dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari tempat pembuangan akhir.

Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah berdasarkan jenisnya terbukti memberikan dampak besar terhadap efisiensi pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga maupun komunitas.

Dari Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar

Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin meyakini bahwa perubahan besar dalam menjaga kelestarian bumi selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.

Program edukasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi antara mahasiswa, sekolah, guru, siswa, dan keluarga diharapkan melahirkan generasi muda yang memiliki literasi lingkungan yang kuat, mampu mengelola sampah secara bertanggung jawab, serta menjadi pelopor terciptanya Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di masa depan.(*)