UNHAS.TV - Salah satu kebiasaan yang sering kita lihat di kehidupan sehari-hari, adalah membunyikan buku (tulang) jari. Entah untuk melemaskan otot atau sekadar ingin mendapatkan sensasi bunyi dari tindakan itu.
Meskipun tindakan ini dianggap hal biasa, muncul kekhawatiran bahwa tindakan ini bisa menimbulkan risiko besar di kemudian hari. Salah satunya, berupa munculnya rematik dan atau radang sendi atau sering disebut (artritis).
Kekhawatiran itu sendiri pernah diuji langsung oleh seorang dokter berkebangsaan Amerika Serikat, Dokter Donald Unger. Ia sering diperingatkan oleh ibu, bibi, dan kemudian ibu mertuanya bahwa kebiasaan terus-menerus membunyikan buku jari akan menyebabkan radang sendi (artritis).
Bertekad untuk membuktikan bahwa anggapan mereka salah, ia membunyikan buku jari tangan kirinya setidaknya dua kali sehari selama 50 tahun —total sekitar 36.500 kali bunyi— sementara ia membiarkan tangan kanannya tetap utuh tanpa pernah dibunyikan.
Pada tahun 1998, di usia 72 tahun, ia menjalani pemeriksaan sinar-X pada kedua tangannya untuk mengetahui hasil dari upaya yang telah dilakukannya seumur hidup itu. "Tidak ada radang sendi pada kedua tangan, dan tidak ada perbedaan yang nyata antara kedua tangan tersebut," simpulnya.
Temuan itu kemudian ia terbitkan di jurnal Arthritis & Rheumatism pada 2004. Atas penelitian itu pula, ia mendapatkan Hadiah Nobel bidang kesehatan pada 2009.
Tentu saja, ini hanyalah sampel yang melibatkan satu orang saja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20 hingga 50% orang memiliki kebiasaan membunyikan buku jari. Lantas, apakah hal ini patut dikhawatirkan setiap bunyi letupan atau gemeretak itu menyebabkan kerusakan permanen?
-300x169.webp)

 MHPE (2)-300x169.webp)
-300x169.webp)


-300x169.webp)

