MAKASSAR, UNHAS.TV - Budaya tidak selalu harus hadir dalam bentuk tarian, musik tradisional, atau ritual adat. Bagi sutradara film Ichwan Persada, budaya justru dapat ditemukan dalam cerita keseharian yang dekat dengan penonton.
Pendekatan itu dinilai lebih mudah menjangkau generasi muda, terutama Generasi Z yang menjadi salah satu kelompok besar penonton film bioskop.
Jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin itu mengatakan film memiliki ruang yang luas untuk menafsirkan budaya tanpa terjebak pada pemahaman yang terlalu formal.
Menurut dia, budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sehingga penggambarannya dapat dimulai dari pengalaman sehari-hari.
“Kalau saya melihat budaya itu sebenarnya sesuatu yang kita alami sehari-hari. Jadi saya berangkat dari situ dulu melihat kebutuhan ceritanya seperti apa, melihat budaya juga dari kacamata yang lebih tidak formal,” kata Ichwan.
Ia menilai cara pandang terhadap budaya perlu diperluas. Jika budaya hanya diperkenalkan melalui kesenian tradisional, seperti tarian dan musik, pendekatan tersebut berisiko membuat generasi muda kehilangan ketertarikan.
Karena itu, Ichwan mendorong sineas mencari cara baru untuk memperlihatkan budaya melalui cerita yang lebih santai dan relevan dengan kehidupan penonton. Film, kata dia, dapat menjadi medium untuk memperkenalkan keragaman budaya tanpa harus selalu menggunakan perspektif lama.
“Budaya itu tidak perlu ditafsirkan sebagaimana yang kita pahami sebelum-sebelumnya. Luas sekali, banyak hal yang bisa kita eksplor dari situ,” ujarnya.
Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang menurut Ichwan memiliki bahan cerita budaya yang sangat melimpah.
Keragaman tersebut tidak hanya terlihat dari keberadaan masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar, tetapi juga berbagai komunitas adat dengan bahasa, tradisi, serta karakteristik sosial yang berbeda.
Temuan mengenai keragaman itu diperolehnya melalui proses riset untuk kebutuhan cerita. Salah satunya adalah informasi mengenai sebuah komunitas di Kabupaten Pinrang yang menggunakan bahasa berbeda dari bahasa Bugis dan memiliki kemiripan dengan bahasa Konjo.
Temuan tersebut, kata Ichwan, menunjukkan masih banyak sisi kebudayaan Sulawesi Selatan yang belum banyak diketahui masyarakat luas, bahkan oleh mereka yang tinggal di wilayah tersebut.
“Kemarin saya baru dapat informasi gara-gara riset, di Pinrang ternyata ada satu suku yang justru tidak berbahasa Bugis, tapi berbahasa mirip Konjo. Itu kalau saya tidak jadi filmmaker, saya tidak tahu,” kata dia.
Selain komunitas tersebut, Ichwan menyebut Bissu, Tolotang, hingga Aluk Todolo sebagai bagian dari kekayaan budaya yang dapat menjadi sumber inspirasi cerita.
Menurut dia, keberagaman tersebut membuka peluang bagi sineas untuk menghadirkan film dengan perspektif yang lebih segar.
Film, bagi Ichwan, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Medium ini juga dapat menjadi cara untuk mengenalkan kembali budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui cerita yang mereka anggap dekat dengan kehidupan.
Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia dapat terus ditafsirkan, dikembangkan, dan diceritakan kembali melalui sudut pandang generasi yang berbeda.
Dan untuk sineas, tantangannya adalah menemukan cerita yang mampu menjembatani kekayaan tradisi dengan selera penonton masa kini. Di titik itulah film dapat menjadi ruang pertemuan antara budaya dan Generasi Z.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Ichwan Persada, Sutradara Film dan Alumnus Fakultas Kedokteran Unhas. (Dok Unhas TV)

-300x200.webp)



-300x171.webp)


