Oleh : Ilham Akbar*
Pandji Pragiwaksono menampilkan pertunjukan stand up comedy berjudul Mens Rea pada platform Netflix, publik tidak hanya diajak tertawa. Pandji menyelipkan kegelisahan serius tentang niat, kesadaran, dan tanggung jawab dalam kehidupan bernegara.
Istilah mens rea berasal dari hukum pidana dan merujuk pada niat batin seseorang saat melakukan perbuatan. Dalam hukum, niat menentukan apakah seseorang layak dimintai pertanggungjawaban.
Hal tersebut menjadi sangat relevan di tengah dominasi media sosial, dimana situasi politik dalam tatanan berbangsa dan bernegara saat ini semakin ditentukan oleh atensi publik dan mengabaikan substansi.
Sedangkan Algoritma bekerja memperbesar apa yang paling menarik perhatian, sehingga niat baik sering kali tersingkir oleh kebutuhan viral.
Algoritma media sosial tidak peduli pada niat. Sistemnya fokus membaca reaksi dan keterlibatan. Konten yang memicu interaksi akan terus diangkat dan didorong ke ruang yang lebih luas, sementara refleksi mendalam minim interaksi akan tenggelam.
Sehingga banyak aktor publik menyesuaikan diri dengan selera algoritma demi menarik perhatian. Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa krisis politik muncul ketika manusia berhenti berpikir secara etis dan hanya bertindak berdasarkan arus massa serta mengabaikan tanggung jawab.
Panggung mens rea juga diramaikan dengan iringan lagu Slank berjudul “Republik FufuFafa”, menyentil kekuasaan yang sibuk beretorika. Meskipun menggunakan medium berbeda, Pandji dan Slank berbicara tentang kegelisahan yang sama. Keduanya menyoroti krisis niat dan krisis tanggung jawab pejabat publik yang kehilangan moral.
Marshall McLuhan menyebut bahwa medium membentuk cara manusia berpikir. Media sosial sebagai medium telah mengubah komunikasi politik menjadi pertunjukan. Viral lebih dihargai daripada kebenaran. Reaksi lebih penting daripada tanggung jawab.
Sindiran Slank tentang republik yang absurd melalui simbol, slogan, dan potongan video pendek sering kali dianggap lebih penting daripada kebijakan yang menyentuh kehidupan masyarakat paling bawah.
Politik berubah menjadi permainan citra dengan mengorbankan substansi. Politik atensi juga menciptakan ilusi partisipasi. Seolah-olah semua orang tampak terlibat, dengan memanfaatkan algoritma untuk mendorong sebuah narasi dalam arus konten viral, sementara diskusi rasional tersingkir oleh kegaduhan sesaat.
Jurgen Habermas menekankan bahwa demokrasi membutuhkan diskursus rasional agar keputusan publik memiliki legitimasi. Namun, diskursus semacam itu sulit bertahan dalam ekosistem yang digerakkan oleh emosi. Niat tidak lagi menjadi fondasi lewat dialog memaksa ruang publik kehilangan kualitas deliberatifnya.
Sekali lagi pertunjukan Pandji diatas panggung Mens Rea bukan lagi kritik sosial, tetapi pengingat tentang pentingnya niat dalam tindakan publik. Panggung humor menjadi pembuka ruang kesadaran lewat tawa yang diarahkan menuju refleksi.
Persoalan demokrasi digital harusnya menjadi kesadaran manusia di balik layar tanpa kendali algoritma. Tanpa niat yang jernih dan tanggung jawab moral, republik berisiko terjebak dalam kegaduhan permanen.
Mens Rea mengajak publik untuk kembali bertanya, dengan niat apa kekuasaan dijalankan dan wacana diproduksi. Di tengah politik atensi yang serba cepat, pertanyaan tentang niat justru menjadi semakin penting. Karena tanpa mens rea, demokrasi hanya akan menjadi Republik FufuFafa versi digital.
*Penulis adalah Sekretaris Bidang VI BAKASTRA BPD HIPMI Sulawesi Selatan)
undefined
-300x200.webp)



 Kota Mak (1)-300x175.webp)



