Unhas Story

Mustika Syaharuddin, Dari Forum Anak Menuju Jalan Pemberdayaan Perempuan

UNHAS.TV - Di balik senyum teduhnya, Mustika Syaharuddin menyimpan kisah perjalanan hidup penuh perjuangan. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2023 itu bukan hanya sibuk dengan buku-buku tebal tentang hukum administrasi negara, tetapi juga mengabdikan waktunya untuk pemberdayaan anak dan perempuan.

Lahir dan besar di lingkungan budaya patriarki di Kabupaten Gowa, Mustika --akrab disapa Tika—menolak tunduk pada belenggu tradisi yang membatasi ruang gerak perempuan.

“Sejak SMP saya bergabung dengan Forum Anak. Dari situ saya sadar bahwa suara anak dan perempuan harus diperjuangkan, bukan sekadar jadi objek pembangunan,” ujarnya dalam perbincangan dengan Unhas.TV.

Langkah Tika di dunia advokasi dimulai tahun 2019, ketika ia terpilih sebagai Duta Anak Kabupaten Gowa. Di sana ia bukan hanya menjadi wajah representatif, tetapi juga penyambung aspirasi anak-anak ke pemerintah daerah.

Di situ, Ia kerap menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), forum yang biasanya didominasi pejabat dan aparat desa.

“Banyak orang masih berpikir anak-anak cukup mendengar, bukan bicara. Padahal, keputusan pembangunan menyangkut masa depan mereka juga,” kata Tika.

Pengalaman itu mengubah arah hidupnya. Ia yang semula tak pernah bercita-cita masuk dunia hukum, justru memilih jalur hukum administrasi negara. “Saya ingin memastikan kebijakan lahir dari kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan,” tambahnya.

Doa, Uang Pendaftaran, dan Rezeki Tak Terduga

Namun perjalanan menuju kampus merah Unhas tak mulus. Lahir dari keluarga sederhana, Tika tak ingin membebani orang tua dengan biaya pendaftaran UTBK. Ia takut jika gagal, orang tuanya justru kecewa.

Ia pun berdoa. “Saya bilang, Ya Allah, kalau memang rezekiku kuliah, tolong beri jalan. Saya ingin jadi sarjana pertama perempuan di keluarga,” kenangnya.

Doanya terjawab dengan cara tak disangka. Tika diundang menjadi narasumber di sebuah kegiatan dan mendapat honor lima kali lipat dari biaya pendaftaran UTBK. “Dari situ saya bisa bayar pendaftaran, ikut bimbel online, dan terus belajar,” ujarnya.

Meski nilai try out kerap rendah, Tika pantang menyerah. Saat pengumuman tiba, ia lolos ke pilihan kedua, Hukum Administrasi Negara Unhas.

“Saya sempat sujud syukur di fakultas, karena doa saya terkabul. Kedatangan pertama saya ke Unhas saat Open Days, saya berdoa agar bisa kembali sebagai mahasiswa. Ternyata terkabul,” kisahnya.

Tumbuh di lingkungan patriarki, Tika kerap merasakan keterbatasan sebagai perempuan. “Perempuan dianggap cukup di dapur, sumur, dan kasur. Setelah sekolah, tinggal menunggu jodoh,” katanya.

Namun sang ibu menjadi sumber kekuatan. Meski hanya lulusan sekolah dasar, ibunya menanamkan pesan: senjata perempuan adalah pendidikan dan karier.

“Beliau selalu bilang, kalau saya tidak bisa sekolah tinggi, setidaknya anak saya harus bisa. Itu yang menguatkan saya,” ujar Tika.

Sang ayah pun semula dianggap keras dan membatasi geraknya. Baru belakangan Tika memahami bahwa sikap itu lahir dari trauma masa lalu. “Adik perempuan ayah pernah dilecehkan di sekolah. Itu membuat ayah sangat protektif pada saya,” ungkapnya.

Kesadaran itu mengubah cara pandangnya. Alih-alih marah, Tika memilih berdialog. “Saya berusaha meyakinkan beliau bahwa saya aman, saya bisa menjaga diri. Lama-lama, ayah percaya. Dan kepercayaan itu harus saya jaga dengan tanggung jawab,” ujarnya.

Menggugat Stigma, Meraih Prestasi

>> Baca Selanjutnya