
Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum Unhas 2025 Mustika Syaharuddin. (dok unhas.tv)
Sebagai mahasiswa hukum, Tika menyadari hukum bukan sekadar pasal-pasal di buku tebal. “Hukum itu hadir karena kebutuhan masyarakat. Ia instrumen hidup bermasyarakat,” katanya.
Perjalanan akademiknya membawa Tika terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Hukum Unhas. Namun, prestasi itu tak lepas dari stigma.
“Kadang dianggap terlalu ambisius untuk perempuan. Tapi menurut saya, ambisi itu penting dimiliki siapa pun, laki-laki atau perempuan. Semua orang berhak bermimpi,” ucapnya tegas.
Bagi Tika, prestasi bukan sekadar penghargaan. “Prestasi adalah ketika kita berani mencoba hal baru, meski awalnya gugup atau takut. Hari ini pun, hadir di sini dan bercerita, itu prestasi bagi saya,” katanya sambil tersenyum.
Selain kampus, Tika aktif di berbagai forum: Forum Anak, Forum Genre, hingga organisasi yang bekerja sama dengan Save the Children. Salah satu pengalaman paling membekas baginya adalah saat mengedukasi anak-anak pesisir Makassar tentang perubahan iklim.
“Anak-anak pesisir rentan. Perubahan iklim bisa menghambat akses sekolah, memengaruhi kesehatan, bahkan hak-hak dasar mereka,” ujarnya.
Ia mendorong kebiasaan sederhana: mengurangi plastik, membawa tumbler, atau tas belanja kain. “Gerakan kecil bisa menular. Kalau satu anak terbiasa, lalu mengajak teman, dampaknya bisa besar,” katanya.
Di akhir kegiatan, dua anak memberi secarik kertas robekan buku dengan tulisan sederhana: Terima kasih Kak Tika, datang lagi ya. “Itu hadiah paling indah. Hal-hal kecil seperti itu tak ternilai harganya,” ucap Tika dengan mata berbinar.
Melawan Stigma, Menyemai Harapan
Meski banyak bicara soal pemberdayaan, Tika tak menutup mata pada realitas. Kepercayaan masyarakat kepada kepemimpinan perempuan masih rendah.
“Padahal, kepemimpinan itu bukan soal jenis kelamin, tapi soal kapasitas. Bahkan memimpin diri sendiri itu sudah bentuk kepemimpinan,” katanya.
Ia menegaskan, perempuan harus lebih dulu memberdayakan diri. “Kalau kita yakin pada diri sendiri, orang lain akan ikut percaya. Itu kuncinya,” ujarnya.
Ke depan, Tika punya dua mimpi besar, mendirikan lembaga pemberdayaan anak dan perempuan dengan pendekatan humanis dan sistematis, serta menjadi aparat penegak hukum.
Namun di atas semua itu, ia punya cita-cita yang ia sebut paling mulia: menjadi seorang ibu. “Perempuan adalah peradaban. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Profesi itu terlalu mulia untuk diukur dengan uang,” katanya lirih.
Ketika ditanya apa yang paling penting ia tanamkan kelak kepada anak-anaknya, Tika menjawab mantap: “Pendidikan. Semua berawal dari situ. Dan tentu dimulai sejak memilih pasangan, karena pendidikan anak ditentukan sejak awal keluarga dibentuk.”
Perjalanan Mustika Syaharuddin baru separuh jalan. Ia masih mahasiswa semester lima. Namun dari pengalamannya sejak SMP, Tika telah membuktikan satu hal: stigma dan keterbatasan bisa dilawan dengan keyakinan, doa, dan keberanian mencoba.
“Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu rasanya. Dan kalau kita tidak berdaya, bagaimana mungkin kita bisa memberdayakan orang lain?” katanya.
Di tangan perempuan muda seperti Tika, harapan untuk generasi anak-anak Indonesia tampak lebih terang. Ia sedang menulis babak baru: dari forum anak di Gowa, menuju panggung hukum dan pemberdayaan di level nasional. (*)