News
Program
Unhas Speak Up

Pangan Lokal Jadi Kunci Gaya Hidup Sehat, Unhas Dorong Pemanfaatan Pangan Fungsional

Ketua Functional Food Technology Research Group (TRG) Unhas Prof Dr Ir Meta Mahendradatta MP. (Dok Unhas TV/CGPT)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan, pola konsumsi pangan kini tidak lagi hanya berorientasi pada rasa kenyang dan pemenuhan kebutuhan gizi dasar.

Masyarakat mulai mencari makanan yang mampu memberikan manfaat lebih bagi tubuh, termasuk membantu menjaga kebugaran dan mencegah berbagai penyakit.

Konsep inilah yang dikenal sebagai pangan fungsional, yakni makanan atau minuman yang tidak hanya mengandung nutrisi dasar, tetapi juga memiliki komponen aktif yang memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan.

Ketua Functional Food Technology Research Group (TRG) Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Meta Mahendradatta MP, menjelaskan bahwa pangan fungsional saat ini semakin populer seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat.

Menurutnya, pangan fungsional merupakan makanan dan minuman yang selain mengandung zat gizi utama seperti karbohidrat, protein, dan lemak, juga memiliki komponen bioaktif yang mampu memberikan manfaat kesehatan tambahan.

“Pangan fungsional adalah makanan dan minuman yang selain mengandung nutrisi dasar yang dibutuhkan tubuh, juga memiliki komponen aktif yang memberi manfaat tambahan, misalnya membantu mempertahankan daya tahan tubuh dan mencegah penyakit tertentu,” jelasnya dalam program Unhas Speak Up bertema Mengenal Pangan Fungsional dan Perannya untuk Gaya Hidup Sehat.

Ia menuturkan bahwa konsep pangan fungsional sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas, masyarakat Indonesia telah mengonsumsi berbagai jenis pangan lokal yang memiliki manfaat kesehatan tambahan. Salah satu contoh yang paling dekat adalah tempe.

Selama ini tempe dikenal sebagai sumber protein yang murah dan mudah diperoleh, namun di balik itu terdapat kandungan isoflavon yang memiliki manfaat kesehatan sebagai antioksidan dan berpotensi membantu mencegah berbagai penyakit.

Menurut Prof. Meta, tempe merupakan bukti bahwa pangan lokal Indonesia memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional. Banyak bahan pangan tradisional yang selama ini dianggap biasa justru menyimpan kandungan bioaktif yang bernilai tinggi bagi kesehatan.

Karena itu, masyarakat perlu mulai melihat pangan lokal bukan sekadar makanan sehari-hari, melainkan sebagai bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang.

Ia menjelaskan bahwa meningkatnya minat terhadap pangan fungsional tidak terlepas dari perubahan pola pikir masyarakat. Jika sebelumnya orang hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan energi dan nutrisi dasar, kini semakin banyak yang menginginkan manfaat tambahan dari makanan yang dikonsumsi.

Masyarakat mulai menyadari bahwa makanan dapat berperan dalam menjaga kesehatan, meningkatkan kebugaran, dan mengurangi risiko berbagai penyakit.

Di sisi lain, Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk mengembangkan pangan fungsional karena kekayaan sumber daya hayatinya.

Sebagai negara yang dikenal memiliki biodiversitas tinggi, Indonesia memiliki beragam jenis bahan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan masyarakat.

Mulai dari sagu, ubi, jagung, hingga berbagai tanaman lokal lainnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional.

Prof. Meta mengungkapkan bahwa hanya dari kelompok sumber karbohidrat saja, Indonesia memiliki puluhan jenis bahan pangan yang tersebar di berbagai wilayah.

Kekayaan tersebut menjadi peluang besar untuk menciptakan berbagai inovasi pangan yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah pola pikir masyarakat yang terlalu bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama.

Banyak orang masih menganggap belum makan jika belum mengonsumsi nasi, padahal terdapat banyak sumber karbohidrat lain yang tidak kalah bergizi dan berpotensi memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar.

“Negara kita sangat kaya akan sumber pangan lokal. Ini menjadi potensi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional dari berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.

Pengembangan Pangan Fungsional

Melalui Functional Food Technology Research Group, Universitas Hasanuddin terus melakukan berbagai penelitian yang memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai dasar pengembangan pangan fungsional.

Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan adalah beras analog, yaitu produk pangan berbentuk menyerupai beras tetapi dibuat dari bahan non-padi seperti sagu, singkong, dan ubi.

Keunggulan beras analog terletak pada kemampuannya untuk dirancang sesuai kebutuhan kesehatan tertentu. Kandungan gizinya dapat dimodifikasi sehingga memiliki kadar zat besi yang lebih tinggi, protein yang lebih banyak, atau indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras biasa.

Dengan demikian, produk tersebut berpotensi menjadi alternatif bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan asupan gizi khusus, seperti penderita diabetes, ibu hamil, maupun individu yang mengalami kekurangan zat besi.

Selain beras analog, tim peneliti juga mengembangkan berbagai inovasi lain berbasis bahan pangan lokal. Sagu menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan karena dinilai memiliki karakteristik yang sangat baik sebagai bahan baku pangan fungsional.

Tidak hanya itu, berbagai penelitian juga memanfaatkan ubi ungu, bunga telang, buah naga, serta bahan-bahan lokal lainnya yang kaya akan senyawa bioaktif dan antioksidan.

Meski demikian, Prof. Meta menegaskan bahwa pengembangan pangan fungsional tidak hanya berfokus pada kandungan gizi dan manfaat kesehatannya.

Produk yang dihasilkan juga harus mampu diterima oleh masyarakat. Karena itu, setiap produk perlu melalui pengujian sensori untuk menilai rasa, aroma, warna, dan tekstur yang disukai konsumen.

Menurutnya, masih banyak anggapan bahwa makanan sehat identik dengan rasa yang kurang enak. Padahal, melalui inovasi dan teknologi pangan yang tepat, makanan dapat dirancang agar tetap lezat sekaligus menyehatkan.

“Kita harus yakin bahwa makanan bisa dibuat enak dan sehat. Jangan sampai ada anggapan bahwa yang enak pasti tidak sehat atau yang sehat pasti tidak enak,” katanya.

Lebih lanjut, Prof. Meta menilai bahwa edukasi menjadi kunci penting dalam memperluas pemanfaatan pangan fungsional di masyarakat. Ia menekankan pentingnya mengenalkan konsep pangan sehat dan pemanfaatan bahan pangan lokal sejak usia dini.

Dengan pemahaman yang ditanamkan sejak kecil, generasi muda akan lebih mudah menerima keberagaman pangan dan tidak hanya bergantung pada satu jenis sumber makanan.

Menurutnya, pendidikan mengenai pangan lokal dan manfaatnya perlu disampaikan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sehat di masa depan.

Sebagai penutup, Prof. Meta mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan diri mengonsumsi pangan lokal yang tersedia di sekitar mereka. Ia meyakini bahwa bahan pangan lokal Indonesia memiliki kandungan nutrisi dan komponen aktif yang sangat baik bagi kesehatan.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih serta memilih metode pengolahan makanan yang lebih sehat seperti mengukus atau memanggang.

“Membiasakan diri mengonsumsi pangan lokal yang ada di sekitar kita adalah langkah awal yang baik untuk hidup lebih sehat. Kita perlu meyakinkan diri bahwa makanan lokal memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan.

"Ketika bahan pangan lokal itu dikembangkan menjadi pangan fungsional, maka manfaat yang diperoleh bagi kesehatan dan kebugaran tubuh akan menjadi lebih besar,” tutupnya.

Melalui berbagai riset dan inovasi yang terus dikembangkan, Universitas Hasanuddin berharap pangan fungsional berbasis bahan lokal dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Selain mendukung gaya hidup sehat, pemanfaatan pangan lokal juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengangkat potensi kekayaan hayati Indonesia yang selama ini melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)