MAKASSAR, UNHAS.TV - Pelecehan verbal dan nonverbal menjadi isu yang kian penting untuk diperhatikan dalam interaksi sosial sehari-hari.
Keduanya tidak hanya sekadar perilaku yang menganggu tetapi juga bisa memengaruhi kondisi psikologis individu, korban maupun pelaku, dalam jangka panjang .
Menurut dosen psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Susi Susanti SPsi MA, pelaku pelecehan nonverbal umumnya mengalami kesulitan mengelola emosi.
Jika tekanan datang dari luar, emosi yang bergejolak dapat membuat seseorang menjadi reaktif, salah satunya dalam bentuk agresivitas.
Ia menambahkan, pelecehan verbal pada sisi lain umumnya melibatkan perkataan atau ucapan yang merendahkan atau menyakitkan.
Pelecehan verbal maupun nonverbal memiliki dampak psikologis yang sama besar. Pelaku dan korban dapat mengalami dampak psikologis yang beragam.
"Pelaku jika tindakannya berhasil maka ia terpacu untuk mengulanginya di masa depan. Jika gagal, dia bisa mengembangkan ide-ide negatif lainnya. Sedangkan bagi korban, pelecehan bisa menyebabkan trauma, bahkan rasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain," kata Susi Susanti kepada Unhas TV.
Ia juga menekankan pentingnya proses pengelolaan diri sebelum bertindak baik dalam perkataan maupun perilaku.
"Mulai sekarang kita sudah mulai harus lebih aware, lebih menyadari perilaku dan ucapan kita, serta memperhatikan konteks apakah wajar kita bercanda, atau dengan siapa kita berbicara. Jika kita juga harus memikirkan orang lain apakah ucapan atau perilaku kita ini akan memengaruhi psikologis orang lain. Dengan begitu semoga tidak banyak lagi konflik konflik kemudian tidak banyak lagi yang merasa Terganggu secara psikologis karena kehadiran orang lain," ujarnya.(*)
Andrea Ririn Karina (Unhas TV)