Makassar
Sosial

Pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi Makassar Capai 98 Persen, Ditargetkan Beroperasi 2027

Masjid Hj Andi Nurhadi - Imajiner Arsitek

MAKASSAR, UNHAS.TV - Pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi di kawasan Panaikang, Makassar, memasuki tahap akhir. Progres fisik bangunan yang menelan biaya sekitar Rp1 triliun itu kini mencapai 98 persen.

Kubah utama telah terpasang sempurna, sementara pekerjaan berlanjut pada penyelesaian bagian interior dan eksterior.

Humas PT Tiran Grup sekaligus Direktur AAS Foundation, Rezki Mulyadi, mengatakan seluruh pekerjaan konstruksi berjalan sesuai rencana.

Setelah struktur utama rampung, tim pembangunan kini berfokus pada tahap finishing agar masjid dapat segera digunakan masyarakat.

“Progres fisik sudah 98 persen dan kubah sudah tertutup sepenuhnya. Saat ini tim fokus pada pekerjaan finishing, baik interior maupun eksterior, agar masjid segera siap digunakan,” kata Rezki.

Masjid yang berdiri di belakang Kodam XIV/Hasanuddin itu ditargetkan mulai dimanfaatkan oleh masyarakat paling lambat pada 2027.

Menurut Rezki, percepatan penyelesaian terus dilakukan agar bangunan tersebut dapat segera menjalankan fungsi utamanya sebagai pusat ibadah dan kegiatan keumatan.

“Kami berupaya maksimal agar umat bisa segera beribadah di masjid ini. Target kami, paling lambat tahun 2027 masjid sudah dapat difungsikan,” ujarnya.

Pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi dimulai sejak Oktober 2023. Bangunan tersebut dirancang dengan kapasitas sekitar 20 ribu jemaah.

Masjid ini merupakan wakaf pribadi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang dipersembahkan untuk mengenang ibundanya, Hj. Andi Nurhadi.

Rezki menegaskan pembangunan masjid sepenuhnya menggunakan dana pribadi Andi Amran Sulaiman. Ia menyebut tidak ada keterlibatan sponsor maupun pendanaan dari pihak lain dalam proyek tersebut.

“Ini murni wakaf pribadi Bapak Amran untuk umat. Tidak ada satu rupiah pun dana sponsor di dalamnya,” kata Rezki.

Sejak peletakan batu pertama, Andi Amran Sulaiman menyampaikan harapan agar masjid tersebut tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban Islam di kawasan Indonesia Timur.

Konsep pembangunan diarahkan untuk menghadirkan ruang yang memberikan manfaat sosial lebih luas bagi masyarakat.

Menurut Rezki, keberadaan masjid tersebut merupakan bagian dari komitmen filantropi Andi Amran yang telah dibangun sejak lama.

Masjid ini dirancang sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan aktivitas sosial masyarakat Sulawesi Selatan serta kawasan timur Indonesia.

“Bapak Amran ingin masjid ini hidup dan memberi manfaat luas bagi umat, bukan sekadar bangunan megah,” tutur Rezki.

Komitmen sosial tersebut juga menjadi dasar berdirinya AAS Foundation setelah Andi Amran tidak lagi menjabat sebagai Menteri Pertanian pada 2019.

Yayasan tersebut kemudian menjalankan berbagai program bantuan dan kegiatan sosial yang menyasar masyarakat kurang mampu.

Rezki mengatakan, bagi Andi Amran, keberhasilan usaha memiliki tanggung jawab sosial yang harus dikembalikan kepada masyarakat. Menurut dia, nilai kesuksesan tidak hanya diukur dari capaian ekonomi, tetapi juga dari kemampuan membantu kelompok yang membutuhkan.

“Sejak awal merintis usaha, Bapak selalu berpesan bahwa rezeki yang diperoleh harus kembali kepada mereka yang membutuhkan. Bagi beliau, ukuran kesuksesan bukan seberapa besar harta yang dimiliki, melainkan seberapa banyak orang kecil yang terbantu,” ujar Rezki.

Ia menyebut penguatan bisnis Andi Amran setelah 2019 turut memberikan ruang lebih besar untuk kegiatan sosial dan wakaf. Sebagian hasil usaha tersebut kemudian dialokasikan untuk pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi.

Selain dikenal sebagai pengusaha, Andi Amran juga memiliki catatan kebijakan yang berkaitan dengan prinsip pemisahan antara kepentingan bisnis dan jabatan publik.

Rezki mengatakan, ketika pertama kali menjabat sebagai Menteri Pertanian pada 2014, Amran memilih menutup perusahaan racun tikus miliknya, TIRAN (Tikus Diracun Amran), yang saat itu sedang berkembang.

Menurut Rezki, keputusan tersebut diambil untuk menjaga integritas dan menghindari potensi konflik kepentingan selama menjalankan tugas sebagai pejabat negara.

“Menutup usaha yang sedang tumbuh bukan keputusan mudah, tetapi beliau melakukannya demi menghindari konflik kepentingan,” kata Rezki.

Dengan selesainya tahap konstruksi utama, Masjid Hajjah Andi Nurhadi kini menunggu penyempurnaan akhir sebelum dibuka untuk masyarakat.

Bangunan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang melayani masyarakat di Makassar serta kawasan Indonesia Timur. (*)