WASHINGTON, UNHAS.TV – Gelombang penolakan terhadap pembangunan pusat data atau data centre menjadi salah satu isu penting dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada Selasa (3/11/2026) lalu.
Pemilih menolak hampir seluruh usulan pembangunan pusat data yang masuk dalam 41 agenda pemungutan suara di berbagai wilayah.
Hasil tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap ekspansi industri kecerdasan buatan (AI), terutama dampaknya terhadap biaya listrik, ketersediaan air, dan stabilitas lapangan kerja.
Berdasarkan pemantauan proyek Data Centers on the Ballot yang dikelola Redbud Consulting, pemilih diperkirakan menolak pembangunan atau membatasi pengembangan pusat data dalam 40 dari 41 pemungutan suara.
Dua agenda masih menjalani penghitungan, tetapi hasil sementara diperkirakan tetap menunjukkan mayoritas dukungan terhadap pembatasan proyek tersebut.
Satu-satunya wilayah yang menolak pembatasan pembangunan pusat data ialah Harwood, Dakota Utara.
Kota kecil dengan jumlah penduduk kurang dari 800 orang itu menolak usulan yang mewajibkan peninjauan independen terhadap proyek industri berskala besar, termasuk pusat data, sebelum pemerintah mengeluarkan izin pembangunan.
Hasil pemungutan suara tersebut memperlihatkan bahwa penolakan terhadap pusat data tidak lagi terbatas pada kelompok masyarakat tertentu.
Isu ini berkembang menjadi persoalan politik lintas partai yang berkaitan dengan biaya hidup, penggunaan sumber daya alam, dan masa depan pekerjaan masyarakat Amerika Serikat.
Jajak pendapat pada September 2026 menunjukkan sekitar 70 persen pemilih Partai Demokrat dan 57 persen pemilih Partai Republik mendukung pembatasan pembangunan pusat data baru.
Dukungan dari kedua kelompok politik itu memperlihatkan bahwa kekhawatiran terhadap ekspansi infrastruktur AI telah melampaui perbedaan ideologi.
Pusat data menjadi infrastruktur utama bagi pengembangan teknologi AI. Fasilitas tersebut menyimpan dan memproses data dalam jumlah besar untuk menjalankan berbagai layanan digital, termasuk model AI generatif.
Namun, pengoperasiannya membutuhkan pasokan listrik dan air dalam jumlah besar. Kondisi tersebut memicu penolakan masyarakat, terutama ketika pembangunan fasilitas berlangsung dekat permukiman.
Pusat Riset Pew memperkirakan Amerika Serikat telah memiliki sekitar 3.000 pusat data hingga April 2026. Lebih dari 1.500 fasilitas lainnya masih dalam tahap pembangunan.
Pertumbuhan tersebut meningkat seiring kebutuhan perusahaan teknologi terhadap kapasitas komputasi untuk mengembangkan dan mengoperasikan sistem AI.
Dekan Bisnis Global Universitas Tufts, Bhaskar Chakravorti, mengatakan percepatan pengembangan AI menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap perubahan struktur ekonomi.
Menurut dia, masyarakat tidak hanya mengkhawatirkan kemungkinan teknologi menggantikan pekerjaan manusia, tetapi juga mulai merasakan dampak fisik pembangunan pusat data di lingkungan tempat tinggal mereka.
Chakravorti menjelaskan bahwa masyarakat dapat melihat langsung pembangunan fasilitas tersebut di sekitar permukiman atau memperoleh informasi mengenai dampaknya dari warga lain. Situasi ini membuat perdebatan mengenai AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kekhawatiran tersebut juga berkaitan dengan penggunaan energi. Pusat data membutuhkan pasokan listrik besar untuk mengoperasikan server, sistem pendingin, dan perangkat pendukung lainnya.
Peningkatan permintaan listrik berpotensi menambah tekanan terhadap jaringan energi dan memengaruhi biaya yang harus dibayar konsumen.
Sebuah makalah kerja Federal Reserve Bank of Dallas pada 2026 memperkirakan harga listrik grosir meningkat 6,9 persen akibat keberadaan pusat data hingga tahun sebelumnya.
Angka tersebut memperkuat kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan ekspansi industri AI membebani konsumen rumah tangga.
James Mercer, pendiri Metro Colo Advisory, perusahaan konsultan independen pusat data, mengatakan masyarakat menolak pembangunan fasilitas yang membutuhkan energi sebesar kebutuhan sebuah kota kecil.
Menurut dia, warga khawatir biaya operasional fasilitas tersebut pada akhirnya ikut membebani tagihan listrik rumah tangga.
“Yang mereka tentang adalah pembangunan gedung di dekat tempat tinggal mereka yang membutuhkan listrik sebesar kebutuhan sebuah kota kecil, sementara mereka menduga tagihan listrik sendiri akan ikut menanggung biayanya,” kata Mercer kepada Al Jazeera.
Penolakan Pusat Data Menjadi Isu Politik Pemilu
>> Baca Selanjutnya
PUSAT DATA - Pemilih Amerika Serikat menolak mayoritas usulan pembangunan pusat data dalam 41 agenda pemungutan suara pada pemilu paruh waktu, Selasa, 3 November 2026. Warga khawatir terhadap kebutuhan energi, air, dan biaya hidup akibat ekspansi industri AI. (Screenshot Al Jazeera)
-300x172.webp)




-300x171.webp)


