Makassar

Pemkot Makassar Kerahkan Excavator Tangani Banjir Tahunan di Perumnas Antang Blok 8 dan 10

KERUK DRAINASE - Dinas PU Makassar mengatasi banjir dengan menurunkan excavator di kawasan Blok 8 dan Blok 10 Perumnas Antang, Kecamatan Manggala, Sabtu (7/3/2027). Salah satu upaya yang dilakukan adalah meneruk sedimen drainase dengan excavator. (dok pemkot makassar)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai melakukan langkah konkret untuk mengatasi banjir yang selama puluhan tahun menghantui kawasan Blok 8 dan Blok 10,  Perumnas Antang, Kecamatan Manggala.

Salah satu upaya yang kini dilakukan adalah menurunkan alat berat excavator untuk melakukan normalisasi saluran air dan pengerukan sedimen di sejumlah titik rawan genangan.

Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai wilayah langganan banjir setiap musim hujan. Meski telah melewati beberapa periode kepemimpinan wali kota, persoalan banjir di wilayah ini belum sepenuhnya teratasi.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, pemerintah kota mulai menerapkan pendekatan yang lebih terencana dan berbasis kajian dalam menangani persoalan tersebut.

Pemerintah kota menggandeng kalangan akademisi serta memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk merumuskan langkah strategis dalam mengatasi banjir di wilayah Manggala, khususnya di Blok 8 dan Blok 10.

Sebagai tindak lanjut dari kajian tersebut, Pemkot Makassar mulai melakukan serangkaian pekerjaan teknis di lapangan. Di antaranya normalisasi saluran air, pengerukan sedimen yang menghambat aliran drainase, serta penggantian box culvert di sejumlah titik rawan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar Zuhaelsi Zubir mengatakan pekerjaan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas saluran air sehingga sistem drainase dapat berfungsi optimal saat curah hujan tinggi.

“Pekerjaan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan fungsi saluran air agar aliran drainase tetap lancar serta mengurangi potensi terjadinya genangan saat curah hujan tinggi,” kata Zuhaelsi, Minggu (8/3/2026).

Selain itu, pemerintah kota juga berupaya mengoptimalkan fungsi kolam retensi sebagai penampung air ketika curah hujan meningkat. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam menghadirkan solusi jangka panjang terhadap persoalan banjir yang selama ini membayangi kawasan tersebut.

Zuhaelsi menjelaskan, salah satu pekerjaan utama yang dilakukan adalah penggantian box culvert yang sebelumnya memiliki dimensi lebih kecil. Box culvert merupakan struktur beton bertulang berbentuk kotak yang berfungsi sebagai gorong-gorong atau saluran air di bawah jalan.

Menurut dia, box culvert lama yang hanya berukuran 50 sentimeter kini diganti dengan ukuran lebih besar, yakni 80 sentimeter. Perubahan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas aliran air dari kawasan permukiman menuju saluran pembuangan utama.

“Perubahan dimensi ini dilakukan karena lokasi saluran berada di jalur pembuangan air di Jalan Kecaping Raya yang terhubung langsung dengan saluran menuju jembatan di Jalan Nipa-Nipa, kawasan Antang,” ujarnya.

Ia menuturkan, saat banjir terjadi beberapa waktu lalu, aliran air dari saluran tersebut sangat kecil sehingga proses pembuangan air menuju saluran utama berlangsung lambat. Kondisi itu menyebabkan genangan air bertahan lebih lama di kawasan permukiman warga.

Selain penggantian box culvert, Dinas PU Makassar juga melakukan normalisasi drainase di sejumlah titik lain di kawasan Blok 10 Perumnas Antang, Kelurahan Manggala.

Pekerjaan ini dilakukan menggunakan excavator PC berkapasitas 4,5 ton untuk mengangkat sedimentasi yang selama ini mengendap di dasar saluran. Normalisasi dilakukan sepanjang jalur drainase mulai dari Jalan Kecaping hingga Jalan Suling.

Sedimen yang menumpuk selama bertahun-tahun dinilai menjadi salah satu penyebab berkurangnya kapasitas saluran air di kawasan tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin sebelumnya juga meninjau langsung kawasan Blok 10 untuk memastikan langkah penanganan banjir berjalan sesuai rencana.

Menurut Munafri, sebelum pekerjaan dimulai, pemerintah kota telah melakukan berbagai kajian teknis dengan melibatkan para ahli. Kajian tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang dinilai paling tepat.

“Kami memastikan proses penanganan ini akan terus dipantau agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat, sehingga warga tidak lagi harus mengungsi saat musim hujan,” kata Munafri.

Pemerintah Kota Makassar berharap upaya normalisasi drainase dan peningkatan kapasitas saluran ini dapat menjadi langkah awal dalam menata sistem pengendalian banjir yang lebih terintegrasi, khususnya di kawasan timur kota yang selama ini kerap dilanda genangan setiap musim hujan. (*)