MAKASSAR, UNHAS.TV - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar talkshow bertajuk "Menata Ulang Tambak Udang di Indonesia dari Sulawesi Selatan, Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Tambak yang Lebih Tangguh dan Berkelanjutan" di Hotel Aston Makassar, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan bersama Pemerintah Pusat, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas serta IKA FIKP Unhas ini menjadi ruang strategis untuk membahas kebangkitan sektor tambak udang melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Talkshow yang berlangsung secara hybrid ini menghadirkan berbagai narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, praktisi, hingga organisasi non-pemerintah yang berfokus pada akuakultur dan lingkungan.
Kegiatan ini menjadi platform penting untuk membahas berbagai isu strategis yang dihadapi sektor budidaya udang di Sulawesi Selatan.
Dalam forum ini, beragam topik dibahas, termasuk kebijakan nasional budidaya udang, tantangan yang dihadapi oleh tambak udang di daerah, serta inovasi berbasis ekosistem, seperti integrasi mangrove dan penerapan sistem akuakultur pintar.
Tak hanya itu, fokus utama dari diskusi adalah menciptakan solusi konkret untuk mengoptimalkan kembali potensi tambak udang yang ada di Sulsel.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr Muhammad Ilyas ST MSc menyampaikan bahwa saat ini, budidaya udang windu di Sulawesi Selatan menghadapi berbagai tantangan, seperti penurunan produktivitas dan kerusakan lingkungan.
Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya langkah konkret untuk meningkatkan potensi tambak udang di provinsi ini.
"Yang kita perlu dorong ini adalah, mudah-mudahan nanti kami akan usulkan ke pemerintah provinsi untuk melakukan pengembangan udang windu, budidaya udang windu berbasis tradisional plus di beberapa wilayah.
"Di beberapa wilayah basisnya itu mungkin tetap kita usulkan seribu hektare, tetapi tidak satu tempat, tapi tersebar di beberapa kabupaten kota. Sehingga itu bisa menjadi salah satu program strategis untuk Provinsi Sulawesi Selatan," ujar Ilyas.
Lebih lanjut, Ilyas berharap program ini dapat membangkitkan kembali produksi udang windu di Sulawesi Selatan dan menjadikan provinsi ini sebagai sentra utama produksi udang windu di Indonesia, seperti yang terjadi pada era 1980-an dan 1990-an.

Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budidaya Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Cahyadi Rasyid ST MSi. (Unhas TV/Venny Septiani)
Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budidaya Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Cahyadi Rasyid ST MSi menilai Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat produksi udang nasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam menjawab tantangan yang dihadapi dalam tata kelola tambak udang.
"Kita tahu bahwa Sulawesi Selatan adalah salah satu sentra produsen udang di Indonesia, dengan kawasan tambak udang yang mungkin ada di lima besar Indonesia. Tenaga kerja yang terlibat dalam sektor ini juga cukup besar, yang tentu saja dapat mendorong peningkatan ekonomi, khususnya dari sektor perikanan," ujarnya.
"Dengan adanya Unhas di Sulawesi Selatan yang memiliki Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, kami berharap tambak udang yang berkelanjutan di sini dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia," jelas Cahyadi Rasyid.
Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi strategis serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi, dan sektor swasta untuk mendorong kebangkitan tambak udang yang lebih produktif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir.
Selain itu, diharapkan juga dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat lokal dan keberlanjutan lingkungan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel, Dr Muhammad Ilyas ST MSc. (Unhas TV/Venny Septiani)

-300x168.webp)






