MAKASSAR, UNHAS.TV - Penelitian terbaru menunjukkan kualitas sperma berada pada tahap tertinggi saat musim panas dan terendah di musim dingin. Kesimpulan ini didapatkan hari hasil kerja ssama penelitian dari peneliti asal Inggris, Kanada, dan Denmark.
Penelitian menggunakan sampel air mani dari 15.581 pria di Denmark dan Florida (Amerika Serikat) pada pria yang berusia antara 18 dan 45 tahun.
Dari penelitian itu terungkap, pergerakkan sperma dan kemampuan sperma untuk berenang secara efektif, secara konsisten tertinggi pada bulan Juni dan Juli di kedua wilayah dunia tersebut.
Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan perawatan kesuburan, terutama ntuk memberikan panduan yang lebih baik kepada pasangan yang mencoba hamil.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive Biology and Endocrinology ini menunjukkan bahwa tingkat motilitas sperma tetap konsisten di berbagai iklim, dan hanya berubah sesuai musim.
Namun, para ilmuwan tidak menemukan perubahan pada konsentrasi sperma total atau jumlah sperma dalam air mani seseorang. Dengan kata lain, volume sperma saat pria ejakulasi, tidak berubah walau musim berubah.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive Biology and Endocrinology ini menunjukkan bahwa tingkat motilitas sperma tetap konsisten di berbagai iklim, dan hanya berubah sesuai musim.
Namun, para ilmuwan tidak menemukan perubahan pada konsentrasi sperma total—jumlah sperma dalam air mani seseorang—atau volume ejakulasi, yaitu jumlah air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi, terlepas dari musimnya.
Ini berarti bahwa meskipun kemampuan sperma untuk bergerak secara efektif memang bervariasi menurut musim, waktu dalam setahun tidak memengaruhi jumlah sperma yang diproduksi. Temuan ini menunjukkan bahwa pola musiman mungkin memengaruhi kesuburan pria lebih dari sekadar perbedaan suhu saja.
Professor Allan Pacey dari Universitas Manchester yang ikut dalam penelitian itu menegaskan, hasil penelitian tersebut kemungkinan besar juga berlaku di daerah lain meski penelitian ini dilakukan di daerah yang memiliki musim dingin dan musim panas.
"Penelitian ini membuat kami lebih bisa memahami pola reproduksi pria dan bagaimana meningkatkan kesuburan," ujarnya. (*)
Ilustrasi sperma. Hasil penelitian menyebut sperma lebih agresif di musim panas.

 FEMG-300x169.webp)






