Oleh: Khusnul Yaqin*
Di banyak kampus Indonesia, pengukuhan guru besar diperlakukan seolah-olah puncak perjalanan intelektual dengan aula yang dihias megah, toga dikenakan khidmat, pidato disusun dengan bahasa tinggi, kamera diarahkan, dan tepuk tangan mengiringi setiap langkah.
Namun di balik kemeriahan itu, pertanyaan mendasar jarang diajukan secara jujur: apa sebenarnya makna ilmiah dari pengukuhan guru besar itu sendiri.
Jabatan Akademik, Bukan Gelar Sakral
Secara konseptual, persoalan ini sesungguhnya sederhana karena guru besar bukan gelar kehormatan, melainkan jabatan akademik yang merupakan mandat struktural negara kepada seorang akademisi untuk menjalankan fungsi tertinggi dalam pengembangan ilmu, pembinaan generasi ilmuwan, dan pelayanan masyarakat berbasis pengetahuan.
Jika guru besar adalah jabatan, maka secara hukum dan akademik seluruh legitimasi substantif telah selesai pada saat surat keputusan negara diterbitkan, sehingga tidak ada tambahan makna ilmiah apa pun yang lahir dari seremoni setelahnya.
Ketika Simbol Menggantikan Substansi
Ironisnya, tradisi akademik justru bergerak terbalik dengan memosisikan pengukuhan seremoni sebagai momen sakral, sementara keputusan negara direduksi menjadi sekadar formalitas administratif.
Di titik inilah absurditas bermula, ketika simbol dirayakan secara berlebihan, sementara substansi keilmuan dipinggirkan secara sistematis.
Ritual Akademik yang Kehilangan Ruh Ilmu
Lebih problematis lagi, pengukuhan guru besar kerap menjelma menjadi ritual sosial yang miskin dialog keilmuan, dengan pidato yang dibatasi waktu, diskusi ilmiah yang ditiadakan, kritik yang disenyapkan, dan audiens yang diposisikan sebagai pendengar pasif.
Dalam logika ilmu pengetahuan, kondisi ini merupakan paradoks karena ilmu tidak tumbuh dari monolog aman, melainkan dari dialog kritis, pertanyaan yang mengganggu, dan perdebatan yang jujur.
Intelektual antara Dialog dan Otoritarianisme
Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan dialogis, bukan pendidikan gaya bank yang menempatkan manusia sebagai wadah kosong pengetahuan.
Jika pengukuhan guru besar justru menutup ruang dialog dan kritik, maka ia bukan perayaan ilmu, melainkan reproduksi budaya otoritarian dalam wajah akademik.
Ali Shariati bahkan lebih keras dengan mengkritik intelektual yang terjebak pada simbol, status, dan seremoni, tetapi kehilangan fungsi profetiknya sebagai penjaga nurani dan penantang ketidakadilan.
Ilmu yang Membebani, Bukan Membebaskan
Ironi lain yang jarang dibicarakan adalah beban biaya pengukuhan guru besar yang tidak kecil, mulai dari acara resmi, konsumsi, dokumentasi, hingga tuntutan representasi sosial yang secara implisit dibebankan pada individu.
Akibatnya, jabatan akademik tertinggi justru berubah menjadi sumber tekanan sosial dan finansial, sehingga ilmu yang seharusnya membebaskan malah membebani secara etis dan struktural.

Kontras dunia akademik: di satu sisi seremoni megah dengan tepuk tangan dan cahaya panggung, di sisi lain kerja sunyi para ilmuwan di ruang riset—sebuah pengingat bahwa kemajuan ilmu lahir dari dialog kritis, penelitian mendalam, dan keberanian berpikir, bukan dari ritual simbolik semata.
Membalik Orientasi: Dari Seremoni ke Produksi Ilmu
Jika kita sungguh-sungguh ingin memuliakan ilmu, maka orientasi harus diubah secara radikal dengan tidak menjadikan pengukuhan seremoni sebagai kewajiban institusional.
Pengakuan formal telah sah melalui keputusan negara, sementara tugas universitas dan negara adalah memastikan guru besar memiliki daya nyata untuk bekerja dan berkarya.
Dari Panggung ke Laboratorium
Alih-alih menghabiskan energi dan anggaran pada seremoni, setiap guru besar yang telah menerima surat keputusan seharusnya langsung mendapatkan dukungan substantif berupa dana penelitian yang memadai untuk mengembangkan risetnya.
Dana tersebut bukan hadiah personal, melainkan investasi publik bagi pengetahuan yang memungkinkan pembangunan kelompok riset, pembimbingan doktor dan pascadoktor, serta lahirnya publikasi bermutu dan dampak sosial nyata.
Intelektual sebagai Pelayan Kebenaran
Inilah semangat Paulo Freire tentang pengetahuan yang berpihak pada pembebasan sosial, dan inilah ruh Ali Shariati tentang intelektual sebagai pelayan kebenaran, bukan selebritas akademik.
Guru besar tidak membutuhkan panggung megah untuk menjadi bermakna, melainkan ruang berpikir, kebebasan meneliti, dan dukungan nyata untuk bekerja.
Universitas di Persimpangan Sejarah
Sudah saatnya universitas di Indonesia berani bercermin dan bertanya secara jujur apakah kita hendak membangun peradaban ilmu, atau sekadar memelihara ritual yang tampak agung tetapi kosong substansi.
Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah guru besar hadir sebagai kekuatan transformasi, atau sekadar simbol dalam sistem akademik yang absurd.
*Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin
Prof.Khusnul Yaqin menegaskan bahwa martabat ilmu pengetahuan lahir dari keberanian berpikir, riset yang jujur, dan dialog terbuka—bukan dari kemegahan seremoni atau pengukuhan simbolik semata.


_1-300x170.webp)
-300x200.webp)




