Oleh: Mashuri Mashar*
Siang tadi saya melamun, jika Dewi Sri punya akun LinkedIn, kolom pengalamannya mungkin cuma satu baris: Menumbuhkan padi untuk seluruh nusantara. Tanpa kompensasi.
Pekerjaan menghidupi satu negeri, dikerjakan seorang perempuan, dan tidak pernah masuk laporan kinerja mana pun. Kalau itu terdengar akrab, tahan dulu. Kita akan sampai ke sana.
Dalam penuturan lokal kita, jasad Dewi Sri menumbuhkan padi. Di Jawa, Bali, dan Lombok, ia dikenal dengan nama itu, biasa juga disebut Nyai Pohaci Sanghyang Asri. Saya bertemu dengannya di semester satu Magister Gender dan Pembangunan, pertengahan 2021.
Semester awal adalah masa ketika kita bertanya apa saja dan belum belajar memilih pertanyaan yang aman. Pertanyaan di kepala saya saat itu: mengapa sosok istimewa itu perempuan? Mengapa bukan laki-laki?
Saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Lima tahun kemudian, jawabannya muncul dari tempat yang tidak saya duga: laporan Kementerian Kesehatan tentang asap.
Sebelum mengakhiri pembuka ini, saya ada tiga janji. Yaitu: satu angka yang mudah salah dibaca. Satu kebetulan (atau bukan) di atas sebuah tugu. Dan satu kata yang akan saya cabut lewat tulisan ini.
BABAK 1: ASAP TIDAK MINTA KTP
Tahun ini, asap Karhutla tidak bertanya apakah Anda warga provinsi yang terbakar. The Conversation Indonesia melaporkan kadar PM2,5 di Kemayoran, Jakarta Pusat, berkisar 46,7 sampai 109,7 mikrogram per meter kubik, tiga hingga tujuh kali lipat ambang yang dianggap aman oleh WHO. Meski Jakarta bukan titik api, warganya tetap ikut menghirup.
Di layanan kesehatan, Kementerian Kesehatan mencatat 306.309 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) kumulatif di 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota hingga 18 Oktober 2026, dihitung sejak pertengahan Agustus. Pada 9 September angkanya 113.336.
Dalam kurang dari enam pekan, ia naik sekitar 2,7 kali lipat (hitungan saya). Per 13 Oktober, beban terberat ada di Kalimantan Selatan (74.636 kasus) dan Sumatra Selatan (74.458). Pemberitaan yang mengutip Kemenkes menyebut dampaknya berpotensi menjangkau lebih dari 13 juta penduduk.
BABAK 2: ANGKA YANG MUDAH SALAH DIBACA
Judul berita menulis: kasus bertambah 29.234 dalam empat hari. Otak kita langsung berhitung: sekitar 7 ribu orang baru sakit setiap hari? Itu juga yang nyaris saya tulis.
Lalu saya cek. Data harian Kemenkes mencatat tambahan 2.808 kasus pada 16 Oktober dan 2.778 pada 17 Oktober. Angka 29.234 adalah selisih dua rilis kumulatif: 277.075 (data per 12 Oktober, dirilis 14 Oktober) dan 306.309 (per 18 Oktober). Rentangnya lebih panjang dari empat hari, dan laju hariannya tidak sedramatis anggapan kita ternyata.
Kabar baiknya, tren menurun di sejumlah daerah, kecuali Riau. Kabar buruknya, angka ini hanya menghitung mereka yang sempat datang ke fasilitas kesehatan. Yang berobat sendiri, atau tak sempat berobat, tidak ada di sana.
Epidemiolog menyebutnya puncak gunung es (Tip of the iceberg). Kalau saya menyebutnya begini: angka resmi adalah batas bawah, bukan batas atas.
Sekarang buka isinya. Per 18 Oktober ada 69.015 kasus pada balita (0-5 tahun), 77.022 pada anak usia 6-9 tahun, dan 49.680 pada lansia. Anak usia 0-9 tahun menyumbang 146.037 kasus, atau sekitar 47,7% dari total kumulatif (hitungan saya dari angka Kemenkes). Hampir separuhnya.
Mari kita tarik napas, karena bagian berikut ada fakta terselip.
BABAK 3: RAHIM
Kemenkes menyebut bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis sebagai kelompok rentan terhadap asap karhutla. Untuk ibu hamil, yang dipertaruhkan bukan hanya napas sang ibu.
Foo dan kolega (Environmental Research, 2024), lewat tinjauan sistematis dan meta-analisis atas 31 studi, menemukan bukti sugestif bahwa paparan asap kebakaran selama kehamilan berkaitan dengan berat lahir lebih rendah dan kelahiran prematur.
Tinjauan sistematis lain menemukan bahwa paparan pada kehamilan trimester ketiga paling konsisten dikaitkan dengan hal serupa. Sebuah studi kohort atas 627.404 kelahiran tunggal di delapan negara bagian Amerika Serikat bagian barat daya (2018) mendapati PM2,5 dari kebakaran berhubungan dengan risiko kelahiran prematur yang lebih tinggi, dengan asosiasi yang lebih kuat daripada PM2,5 total.
Di sinilah kita wajib berhati-hati. Ini asosiasi, bukan bukti sebab-akibat. Hasil gabungan untuk berat lahir belum konklusif karena studinya belum cukup seragam.
Studi yang saya temukan berasal dari Amerika Serikat, Australia, dan Brasil; saya belum menemukan yang khusus tentang asap gambut Indonesia. Tapi, dengan hati-hati kita jangan abai, bukan? Bukti sebesar ini cukup untuk menjadikan ibu hamil sasaran eksplisit dalam respons, sehingga tidak sekadar posisi dalam urutan kelompok rentan.
Dulu saya memikirkan rahim sebagai penjelasan filosofis tentang kedekatan perempuan dengan alam. Ternyata ia juga variabel kesehatan masyarakat: lingkungan pertama setiap manusia. Udara yang kita rusak hari ini ikut berkaitan dengan kondisi anak-anak yang lahir kelak. Para peneliti masih mempelajari mekanismenya, termasuk kemungkinan toksisitas pada plasenta.
BABAK 4: KOLOM YANG TIDAK ADA
Dalam rilis publik yang saya baca, Kemenkes punya angka untuk balita, anak 6-9 tahun, lansia, bahkan pengidap asma. Pilahan menurut jenis kelamin atau status kehamilan? Saya belum menemukannya. Bisa jadi datanya ada di sistem internal; jika ya, ia layak dibuka.
Pekerjaan merawat yang batuk, yang sesak, yang demam, sambil memastikan air dan makanan tetap ada, juga tak punya kolom. Dalam kajian gender, pekerjaan perawatan umumnya lebih banyak ditanggung perempuan, dan jarang dihitung sebagai biaya krisis.
Ingat baris pengalaman Dewi Sri di LinkedIn tadi? “Tanpa kompensasi.” Itu bukan lelucon. Itu deskripsi pekerjaan yang masih berlaku. Karena jika tidak terlihat dalam data, akan sulit masuk ke dalam kebijakan.
BABAK 5: ENAM ORANG, DUA SPANDUK, SATU PAGI
Selasa, 20 Oktober 2026. Antara pukul 06.05 dan 06.15 WIB, ketika sebagian Jakarta masih mencari kopi, dua spanduk kuning raksasa terbentang di Monumen Selamat Datang, Bundaran HI. Tugu yang biasanya jadi latar swafoto, pagi itu berubah jadi tempat menyalurkan aspirasi.
Tulisannya: “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Menghadap ke arah Istana, tepat dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Pesan yang tidak butuh penerjemah. Bagi Greenpeace, asap bukan hanya soal paru-paru, tetapi juga dompet.
Spanduk diangkat sekitar pukul 09.10 WIB. Para aktivis turun beberapa jam kemudian dengan bantuan petugas gabungan, dan seorang aktivis perempuan yang terlihat lemas dibawa ke klinik. Polisi meminta keterangan 11 orang: enam pemanjat dan lima orang tim penyelamat serta awak pers.
Lima orang yang disebut terakhir lebih cepat pulang. Enam pemanjat, menurut Alif Fauzi dari LBH Jakarta yang mendampingi mereka, masih menunggu tindak lanjut penyidik (pemeriksaan delapan jam). Mensesneg Prasetyo Hadi menanggapi dengan menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menangani persoalan lingkungan, termasuk karhutla.
Memanjat monumen publik memang memicu perdebatan tentang batas protes, dan perdebatan itu sah. Terlepas dari itu, ada satu hal yang menurut saya layak dibaca: aksi ini membuat beban yang selama ini tak terlihat menjadi terlihat. Bundaran HI memberi panggung nasional, dan aksinya mendapat lampu sorot berbagai media.
Sekarang kebetulan yang saya janjikan. Menurut Kapolres Metro Jakarta Pusat, enam pemanjat itu terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan. Kebetulan, atau koreografi? Saya tidak punya bukti untuk jawaban mana pun, dan menyimpulkan niat orang lain tanpa bukti adalah tergesa-gesa.
Yang bisa saya katakan: dua perempuan itu mengingatkan saya bahwa perempuan bukan hanya kelompok yang terdampak. Mereka juga pelaku perubahan. Laiknya dua sisi koin, dua peran itu tidak saling meniadakan.
BABAK 6: TIGA PERMINTAAN
Menurut saya, ada tiga hal yang patut kita minta, sebagai warga dan sebagai praktisi kesehatan masyarakat.
Pertama, seyogianya ada data terpilah menurut usia, jenis kelamin, dan status kehamilan dalam pelaporan ISPA karhutla. Berikutnya, ibu hamil sebagai sasaran eksplisit dalam respons asap, lengkap dengan pemantauan hasil kelahiran di wilayah terdampak.
Yang terakhir, fokuskan upaya pada pencegahan di sumber api. Memakai masker dan tetap tinggal di rumah hanyalah pertahanan paling akhir untuk melindungi individu—langkah itu sama sekali tidak memadamkan api yang mengancam kelompok rentan.
EPILOG: KATA YANG SAYA CABUT
Saya janji akan mencabut satu kata. Ini dia: tumbal.
Di draf awal, saya memakainya untuk dua perempuan di atas tugu: siap jadi tumbal demi alam yang lebih baik. Terdengar puitis dan terlalu legit, bukan? Tetapi setelah menelusuri datanya, kata itu keliru. Ia mengubah beban menjadi kehormatan, dan kehormatan adalah cara paling halus untuk membuat orang berhenti menuntut perubahan.
Mitos Dewi Sri sering dibaca sebagai kisah pengorbanan. Mungkin memang begitu. Tetapi tugas kita bukan menunggu perempuan berkorban. Tugas kita memastikan tidak ada lagi yang perlu berkorban demi udara yang bersih.
Cerita rakyat sudah lama mencatat siapa yang menanggung beban krisis. Kini kita punya data untuk membuktikannya, dan tanggung jawab untuk membaca dengan jujur.
Jika Dewi Sri sudah menumbuhkan padi, maka giliran kita menumbuhkan sesuatu yang lebih sulit: kebijakan dan aturan yang tidak perlu mengorbankan siapa pun.
Tabik,
P.S. Kalau Anda membaca sampai baris ini, Anda lolos dari paragraf kedua, pencapaian yang tidak semua artikel layak dapatkan. Terima kasih. Kalau tulisan ini berguna, jangan sungkan teruskan ke satu orang yang bekerja dengan data kesehatan.
*Mashuri Mashar adalah Alumni FKM UNHAS yang sekarang domisili di Jogjakarta. Kesibukan dibidang kesehatan masyarakat. Pernah ke terlibat dalam berbagai program kesehatan masyarakat di berbagai provinsi di Indonesia.






-300x164.webp)
 MPH MKes-300x169.webp)
