MAKASSAR, UNHAS.TV - Pandangan akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali memberi perspektif berbeda terhadap dinamika konflik Iran dan Israel.
Dosen Sastra Asia Barat Unhas, Supratman SS MA PhD, menegaskan bahwa durasi perang tidak semata ditentukan oleh faktor strategis seperti penutupan Selat Hormuz yang membuat harga minyak dunia melonjak.
Dalam wawancara yang berlangsung di Unhas, Selasa (31/3/2026), Supratman menjelaskan bahwa kebijakan Iran terkait Selat Hormuz lebih merupakan bagian dari strategi tekanan global, bukan indikator langsung panjang atau pendeknya konflik.
“Selat Hormuz itu bagian dari strategi perang untuk memberikan pelajaran kepada dunia internasional, bukan semata-mata untuk menentukan durasi perang,” ujarnya.
Ia memaparkan, selama ini jalur pelayaran di Selat Hormuz relatif terbuka tanpa tekanan dari Iran. Namun dalam konteks konflik, perubahan strategi tersebut digunakan sebagai instrumen untuk menunjukkan posisi tawar Iran di hadapan dunia.
Menurutnya, langkah itu sekaligus menjadi pesan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk memengaruhi jalur vital perdagangan global, namun selama ini memilih tidak memanfaatkannya secara maksimal.
“Ini bukan sekadar serangan, tapi bentuk pertahanan sekaligus peringatan bahwa Iran bisa saja bertindak lebih jauh jika terus ditekan,” jelasnya.
Lebih jauh, Supratman menekankan bahwa lamanya perang sangat bergantung pada sejauh mana pesan politik dan ideologis Iran dipahami serta diterima oleh komunitas internasional, terutama negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan sekutunya.
“Kalau pesan yang ingin disampaikan Iran diterima, maka perang bisa cepat berakhir. Tapi jika tidak, konflik ini berpotensi berlangsung panjang,” katanya.
Ia menambahkan, Iran memandang konflik ini tidak hanya sebagai pertarungan militer, tetapi sebagai momentum untuk mendorong perubahan tatanan dunia yang lebih setara dan bebas dari dominasi negara adidaya.

Dosen Sastra Asia Barat Unhas, Supratman SS MA PhD. (Dok Unhas TV)
Dalam konteks tersebut, Iran disebut ingin mengakhiri praktik ketimpangan global, termasuk dominasi satu kekuatan besar terhadap negara lain, serta mendorong sistem internasional yang lebih egaliter.
“Bagi Iran, ini bukan sekadar perang fisik. Ini tentang bagaimana dunia ke depan tidak lagi didominasi oleh satu kekuatan besar, tetapi semua negara berdiri setara,” ungkapnya.
Supratman juga menegaskan bahwa Iran akan menentukan akhir dari konflik sesuai dengan tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Selama tuntutan itu belum terpenuhi, potensi eskalasi konflik akan tetap terbuka.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Selat Hormuz di wilayah Iran merupakan jalur 20-30% minyak dunia. Iran memberikan pelajaran kepada dunia internasional dengan penutupan selat ini. (The Sun)

-300x170.webp)






