Sport

Pertandingan Dihentikan, Vinicius Jr Alami Perlakuan Rasisme dari Pemain Benfica

RASISME. Pemain Benfica Gianluca Prestianni tampak berkata sesuatu ke Vinicius Junior dengan menutup mulutnya. Perkataan itu yang dilaporkan Vini Jr sebagai tindakan rasisme ke wasit. (the sun)

LISBON, UNHAS.TV – Pertandingan leg pertama play-off UEFA Champions League antara S.L. Benfica dan Real Madrid C.F. di Estadio da Luz, Rabu (18/2/2026) dini hari dihentikan wasit, Francois Letexier.

Laga mendadak dihentikan setelah Vinicius Junior melontarkan tudingan rasisme terhadap pemain lawan. Insiden itu memicu aktivasi protokol anti-rasisme UEFA dan membayangi kemenangan 1-0 Madrid.

Kericuhan bermula pada menit ke-50. Vinicius, 25 tahun, memecah kebuntuan lewat sepakan melengkung yang bersarang di sudut atas gawang.

Ia merayakan gol di dekat tiang sudut, tepat di hadapan pendukung tuan rumah. Selebrasi tersebut memicu ketegangan, baik di tribun maupun di lapangan, setelah sejumlah pemain Benfica memprotes gestur sang penyerang.

Wasit asal Prancis, Francois Letexier, sempat menenangkan situasi. Namun tak lama berselang, Vinicius kembali terlibat adu argumen dengan winger Benfica, Gianluca Prestianni.

Dalam tayangan ulang televisi, Prestianni terlihat menutup mulutnya dengan kaus saat berbicara kepada Vinicius. Penyerang Madrid itu kemudian menghampiri Letexier dan melaporkan dugaan ujaran rasial.

Letexier lantas membuat gestur silang dengan kedua tangan—sinyal resmi untuk mengaktifkan protokol anti-rasisme UEFA. Pertandingan dihentikan beberapa menit.

Vinicius tampak emosional dan sempat berjalan ke arah bangku cadangan sebelum akhirnya kembali ke lapangan setelah berdiskusi dengan ofisial dan rekan setim.

Setelah laga dilanjutkan, cemoohan dari suporter tuan rumah terdengar setiap kali Vinicius menyentuh bola. Bek tengah Benfica, Nicolas Otamendi, juga terlihat berupaya memancing reaksi sang penyerang.

Ketegangan berlanjut hingga menit ke-85 ketika pelatih Benfica, Jose Mourinho, diusir wasit akibat protes kerasnya yang meminta kartu merah untuk Vinicius.

Kekacauan belum berakhir. Pada masa tambahan waktu, Letexier terpaksa menghentikan laga sejenak untuk menyingkirkan benda yang dilempar ke lapangan dari arah tribun. Meski demikian, skor 1-0 untuk Madrid bertahan hingga peluit panjang.

Tindakan Prestianni Memicu Spekulasi

Seusai pertandingan, sejumlah pihak angkat suara. Presenter Gabby Logan di Amazon Prime Video menyatakan bahwa Prestianni terlihat mengatakan sesuatu dengan mulut tertutup kaus, namun belum ada kejelasan mengenai isi ucapannya.

Bek Madrid, Trent Alexander-Arnold, mengatakan Vinicius bersikeras melanjutkan pertandingan. “Apa yang terjadi malam ini memalukan bagi sepak bola. Tidak ada tempat untuk rasisme, baik di sepak bola maupun di masyarakat,” ujarnya. “Dia ingin terus bermain. Mentalitasnya sangat kuat.”

Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, juga menyinggung gestur Prestianni. “Semua orang bisa melihat apa yang terjadi. Dia menutup mulutnya. Sekarang tanyakan kepadanya apa yang dia katakan,” kata Arbeloa.

Gelandang Federico Valverde lebih tegas. “Ketika Anda menutup mulut dengan kaus untuk mengatakan sesuatu, jelas itu bukan kata yang baik. Itu kata yang tak seharusnya pernah digunakan,” ujarnya.

Di kubu Benfica, Mourinho menyatakan Prestianni membantah tuduhan tersebut. “Saya tidak ingin memihak. Mereka mengatakan dua hal berbeda,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Benfica memiliki sejarah panjang dan tidak bisa dicap sebagai klub rasis, merujuk pada legenda klub, Eusebio.

Vinicius sendiri menyampaikan pernyataan melalui Instagram. Ia menyebut para pelaku rasisme sebagai pengecut yang bersembunyi di balik kaus mereka.

Ia juga mempertanyakan kartu kuning yang diterimanya akibat selebrasi gol. “Protokol yang dijalankan tidak efektif,” tulisnya. “Namun ini perlu dibicarakan.”

Penyerang Madrid, Kylian Mbappe, mendesak UEFA bertindak tegas. “Kita harus memberi contoh bagi anak-anak. Ada hal-hal yang tak bisa diterima,” katanya. “Sekarang UEFA punya kasus serius.”

UEFA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil investigasi. Namun sesuai regulasi, laporan wasit dan pengawas pertandingan akan menjadi dasar evaluasi lebih lanjut.

Di atas lapangan, Madrid membawa pulang keunggulan agregat menuju leg kedua di Santiago Bernabeu. Namun sorotan utama bukan pada gol indah Vinicius, melainkan pada isu rasisme yang kembali mencoreng panggung terbesar sepak bola Eropa. (*)