MAKASSAR, UNHAS.TV - Polisi Israel menangkap ajudan utama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas dugaan membocorkan informasi intelijen ke media asing.
Oposisi pemerintah menyebut, ajudan itu sengaja menbocorkan informasi itu untuk menggagalkan upaya gencatan senjata dan kesepakatan penyanderaan di Jalur Gaza.
Penyelidikan pihak berwenang menyebutkan, Kantor Perdana Menteri Israel menyebar informasi bahwa Hamas berencana menyelundupkan sandera keluar dari Jalur Gaza melalui perbatasan Mesir.
Upaya itu untuk menciptakan perpecahan dalam masyarakat Israel agar Netanyahu didesak agar membebaskan sandera dan membuat kesepakatan gencatan senjata.
Eliezer Feldstein, yang telah disebut oleh politisi oposisi sebagai ajudan Netanyahu, termasuk di antara beberapa orang yang diinterogasi atas kebocoran "informasi intelijen rahasia dan sensitif,"
Seorang juru bicara Benjamin Netanyahu membantah adanya kebocoran dari Kantor Perdana Menteri. "Ptang yang mereka maksud (Feldstein) pernah ikut dalam diskusi terkait keamanan," katanya.
Pemimpin oposisi Yair Lapid pada hari Minggu menuduh kantor perdana menteri membocorkan "dokumen rahasia palsu untuk menggagalkan kemungkinan kesepakatan pertukaran dan pelepasan penyanderaan antara Israel dan Hamas.
Rakyat Israel memang tengah ketidakpastian apakah Pemerintah Israel serius untuk melakukan pertukaran sandera. Sejak 1 September, Pemerintah Israel menyebutkan ada enam warga Israel tewas di Gaza – empat dari mereka akan dibebaskan dalam gelombang pertama kesepakatan potensial tersebut. Namun, hingga kini kesepakatan itu tidak tercapai.(*)