MAKASSAR, UNHAS.TV - Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, mengumumkan negara dalam kondisi darurat energi dan mengingatkan semua warganya akan bahaya besar yang sudah berada di depan mata.
Ferdinand Marcos Jr menyebutkan, Filipina sedang dalam kesulitan besar mengenai ketersediaan bahan bakar minyak sebagai dampak dari perang yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Ferdinand Marcos Jr menegaskan telah membentuk satu komite khusus untuk memastikan semua warga mendapatkan pasokan bahan bakar, makanan, obat-obatan, produk pertanian, dan kebutuhan dasar lainnya.
Selain itu, pihaknya sedang menjalankan program bantuan sosial (bansos) berupa pemberian dana sebesar 5.000 Peso atau setara Rp 1,6 juta untuk pengemudi taksi dan pekerja transportasi lainnya agar mereka bisa bertahan di tengah naiknya harga bahan bakar minyak. Bantuan sejenis juga akan diberikan khusus kepada petani, nelayan, dan pekerja lainnya.
Sejak Iran menutup Selat Hormuz, sejumlah negara di dunia mengalami keterbatasan pasokan bahan bakar. Ini karena hampir semua negara di Asia mengandalkan pasokan bahan bakar yang melintasi Selat Hormuz.
Penutupan selat dalam jangka panjang akan mengakibatkan negara-negara di Asia kekurangan bahan bakar. Indonesia dan Filipina, misalnya, dikabarkan hanya memiliki persediaan bahan bakar yang tidak lebih dari sebulan jika tidak mendapatkan pasokan bahan bakar dari negara di luar Kawasan Teluk.(*)
Ilustrasi krisis energi






-300x230.webp)
-300x195.webp)
